Pesta Rakyat, Ada "Rasa Kolektif" nya

surabayapagi.com
Raditya M Khadaffi

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Headline harian Surabaya Pagi edisi Selasa (19/8) kemarin berjudul "Pesta Rakyat Dimana-mana, Berebut Makanan".

Pesta Rakyat ini terselenggara di Jakarta dan hampir di semua ibu kota propinsi se Indonesia. Di propinsi Jatim diselenggarakan di depan gedung Grahadi Surabaya, Selasa (19/8).

Baca juga: Apa Kebanyakan Pegawai Pajak Tamak?

Pesta Rakyat ini juga biasanya diadakan untuk merayakan kebersamaan masyarakat dan melestarikan tradisi lokal. Selain lomba-lomba, acara ini sering kali diwarnai dengan hiburan rakyat, seperti musik tradisional, tarian, pasar rakyat, dan berbagai pertunjukan seni lainnya.

Di Indonesia, pesta rakyat sering menjadi cerminan budaya gotong royong dan kebersamaan. Masyarakat dari berbagai lapisan berkumpul bersama untuk merayakan HUT RI ke 80. Acara ini menjadi ajang bagi masyarakat untuk merasakan kebanggaan nasional dan memperkuat rasa persatuan. Kadang disertai pekik

“Merdeka!”.

Kata sakral ini adalah bentuk ekspresi kebebasan dan semangat perjuangan. Dalam konteks banner, kata “Merdeka!” bukan hanya seruan, tetapi semangat kolektif yang terus dihidupkan.

Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju” ini adalah Tema Tahun ini.

 

***

 

Alhamdulillah Pesta Rakyat disertai makan gratis dimana mana, tidak menimbulkan petaka seperti di Garut, Jawa Barat.  Ada insiden tragis saat pesta rakyat pernikahan putra Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi di alun-alun Kabupaten Garut, Jawa Barat, Jumat (18/7/2025).

Ribuan warga memadati lokasi untuk mengikuti pesta rakyat yang menyediakan makanan gratis.

Namun, kerumunan massa mulai tidak terkendali ketika warga berebutan masuk ke Pendopo. Dorong-dorongan di pintu masuk menyebabkan kepanikan dan berujung pada saling injak.

Tiga orang tewas dalam pesta pernikahan putra Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi .

Selain tiga korban tewas, 14 orang lainnya dilaporkan luka-luka.

Dedi Mulyadi mengaku tidak mengetahui adanya pesta rakyat dalam syukuran pernikahan putranya, dan hanya memahami akan ada pentas seni malam hari. 

 

***

Baca juga: Eks Menag Yaqut, Seperti Mencela Diri Sendiri

 

Dedi Mulyadi adalah elit di Jawa Barat. Juga anak menantunya anggota DPRD dan Wakil Bupati Garut.

Sosiolog Pierre Bourdieu pernah menyinggung tentang bagaimana elit menggunakan simbol untuk meneguhkan status sosialnya. Perayaan 17 Agustus dengan segala kemegahannya bisa dibaca sebagai panggung simbolik yang mempertegas jarak antara penguasa dan rakyat.

 Dalam perspektif Antonio Gramsci, seremonial semacam ini adalah alat hegemoni: cara penguasa mempertahankan legitimasi dengan menutup kenyataan pahit di balik pesta. Namun hegemoninya rapuh, sebab tidak berdiri di atas realitas sosial yang sehat.

Kontradiksi semakin jelas ketika pidato Presiden terpilih Prabowo di Sidang Umum DPR/MPR berbicara soal kesejahteraan rakyat dan penguatan ekonomi. Kata-katanya manis memberi harapan. Namun berbanding terbalik dengan kondisi yang dihadapi masyarakat. Bagaimana rakyat bisa percaya pada janji politik ketika setiap hari mereka harus berhadapan dengan PHK, harga pangan yang mencekik, dan ancaman jatuh miskin?

Apa ini retorika kosong—panggung kata-kata yang belum menyentuh kenyataan.

Kelas menengah, yang selama ini menjadi motor ekonomi, perlahan bergeser ke bawah. Banyak keluarga kehilangan daya beli, terjebak dalam utang, dan jatuh miskin. Ini dinamai Rojali dan Rohana.

Fenomena ini menunjukkan mobilitas sosial ke bawah  semakin nyata. Dalam teori stratifikasi sosial, ini adalah tanda rapuhnya sistem: kelas menengah tidak punya perlindungan dan cepat terjerembab begitu krisis datang. Maka pertanyaan mendasarnya, apakah bangsa ini benar-benar merdeka jika sebagian besar rakyat justru makin terhimpit?

filsuf Amartya Sen dan Martha Nussbaum dengan pendekatan capability-nya mengajarkan bahwa kemerdekaan sejati terletak pada kemampuan individu menjalani hidup yang ia pilih. Jika rakyat kehilangan pekerjaan, kehilangan daya beli, terhimpit oleh beban pajak, bahkan kehilangan rasa percaya diri atas masa depan, maka mereka tidak merdeka dalam arti sebenarnya. Yang terjadi hanyalah kemerdekaan simbolik—merdeka di panggung, tapi terjajah dalam realitas sehari-hari.

Baca juga: Pilkada Melalui DPRD, Ada Cagub Setuju, Murah!

Kemerdekaan Simbolik, dalam konteks Indonesia, ada nilai-nilai luhur yang terkandung dalam peristiwa Proklamasi Kemerdekaan.

Kita berharap Kemerdekaan bukan sekadar pernyataan politis, tetapi juga sebuah simbol persatuan, dan tekad bangsa untuk meraih kebebasan.

Perayaan HUT ke-80 Kemerdekaan RI baru saja lewat beberapa hari. Meski demikian, kemeriahan Bulan Kemerdekaan masih terlihat dan terasa di jalan dan sudut-sudut kota atau perkampungan. Bahkan masih terlihat beberapa komunitas masyarakat mengadakan “Pesta Rakyat” untuk merayakan HUT RI. Denyut pesta rakyat setidak-tidaknya masih terus mengisi ruang-ruang sosial masyarakat selama bulan Agustus.

Dalam berbagai kegiatan mengisi perayaan HUT RI, masyarakat meluapkan kegembiraan dengan mengikuti berbagai jenis perlombaan yang dipertandingkan dari tingkat anak-anak sampai tingkat dewasa. Antusiasme warga terlihat dari persiapan yang dilakukan mulai dari pembentukan kelompok lomba sampai pengadaan kostum yang mencirikan kesatuan dan kekompakan. Masyarakat larut dalam upaya mempersiapkan diri secara kreatif dan inovatif demi memberikan penampilan terbaik dalam memeriahkan perayaan ulang tahun RI.

Barangkali momen perayaan HUT RI dapat diibaratkan sebagai pembentukan “rasa kolektif”. Disediakan makan minum gratis. Dan jadi serbuan masyarakat kelas bawah atau kelompok miskin.

Sebagian besar warga negara merasakan semacam aliran energi dalam bentuk imajinasi kebangsaan yang menulari dan memengaruhi emosi sehingga tergetar rasa ke-Indonesia-an-nya. Tak peduli apa pun latar belakang sosial, budaya, agama, dan politik yang membentuk dan memengaruhi identitas seseorang atau suatu komunitas masyarakat, kita menyaksikan suatu aliran energi yang sedang menyatu, melebur, dan menguat menggerakkan rasa kebangsaan yang dimiliki bersama, yaitu Indonesia. Energi itu yang dapat kita definisikan sebagai rasa atau hasrat kebangsaan (passion of nationalism). Akal sehat saya bilang hanya pada momen tahunan peringatan HUT RI itulah, energi tersebut menggelora dan membara. Terbentuk “rasa kolektif”.

Say amati Pesta Rakyat di Grahadi, ada perasaan atau pemahaman bersama yang  dipengaruhi oleh dinamika kolektif.

Sekilas terbentuk identitas kelompok rakyat berbondong makan gratis merasa terhubung dan memiliki kesamaan sebagai sesama rakyat miskin. Merdeka! (radityakhadaffi@gmail.com)

Editor : Moch Ilham

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru