UGM Ungkap Dwi Hartono, Makelar Pendaftaran Mahasiswa Baru dan Joki
Baca juga: Aniaya Istri hingga Tewas, Suami di Blitar Jadi Tersangka
SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Dwi Hartono, disebut Polri dalang pembunuhan kepala cabang bank di Jakarta, M Ilham Pradipta. Jejak hitam Dwi Hartono pun terungkap seiring berjalannya proses penyelidikan.
Dwi Hartono sendiri yang disebut-sebut sebagai salah satu dalang dari kejahatan ini ternyata residivis. Di balik topengnya sebagai pengusaha bimbingan belajar (bimbel) online nan dermawan ini, Dwi Hartono ternyata menyimpan masa lalu yang hitam.
Aktor penculikan dan pembunuhan Kacab Bank di Jakarta, M Ilham Pradipta (37), DH alias Dwi Hartono ternyata dikenal sebagai orang dermawan di kampung halamannya di Rimbo Bujang, Tebo, Jambi. Dia juga dikenal sebagai orang kaya di kampungnya, bahkan konon punya helikopter pribadi.
Hal ini disampaikan salah satu warga Kecamatan Rimbo Bujang, bernama Jay Saragih, yang diungguh Surabaya Pagi, Kamis (28/8). Jay mengungkap Dwi sempat bikin heboh karena pulang ke Jambi menggunakan helikopter.
Jay mengatakan keluarga Dwi masih berada di Rimbo Bujang. Keluarganya disebut punya usaha toko grosir.
Dwi Hartono juga dikenal sebagai orang dermawan di kampung halamannya di Rimbo Bujang, Tebo, Jambi. Dia dikenal sebagai orang kaya, bahkan konon punya helikopter pribadi.
Hal ini disampaikan salah satu warga Kecamatan Rimbo Bujang, bernama Jay Saragih. Jay mengungkap Dwi sempat bikin heboh karena pulang ke Jambi menggunakan helikopter.
"Dia pernah ke Rimbo Bujang ini naik helikopter, jadi setahu orang di sini, dia sangat kaya," kata Jay dikutip dari detikSumbagsel, Selasa (26/8/2025).
Jay mengatakan keluarga Dwi masih berada di Rimbo Bujang. Keluarganya disebut punya usaha toko grosir.
"Yam keluarganya orang tuanya, saudaranya, di sini. Ada (buka) toko grosir)," ungkapnya.
Dwi Orangnya Humble
Dia mengatakan Dwi Hartono sudah merantau ke Jawa sejak lama. Meski begitu, komunikasi yang terjalin cukup baik.
"Orang sini masih kontak-kontak dia, walaupun dia jauh. Orangnya dermawan sering support organisasi dan kegiatan desa," ujarnya.
"Dia suka menolong, kalau ada acara di Rimbo Bujang ini dia siap membantu sebagai (pemberi) sumbangan," sambung Jay.
Warga setempat pun kaget ketika mengetahui kabar Dwi terlibat kasus penculikan Kacab Bank Ilham. Sebab, selama ini Dwi dikenal baik.
"Yang kami kenal orangnya humble, dia motivator juga, ya kalau gak salah," ujarnya.
"Ya respons kita terkejut. Kok bisa terjadi (pelaku) pembunuhan gitu," cetusnya.
Tersandung Kasus Pemalsuan Ijazah
Kasat Reskrim Polrestabes Semarang, AKBP Andika Darma Sena, membenarkan Dwi Hartono sempat tersandung kasus pemalsuan ijazah. Dwi Hartono memalsukan ijazah tingkat SMA dalam sekolah paket C.
Baca juga: Hasil Pemeriksaan Menantu Bunuh Mertua, Polres Blitar Kota: 'Sakit hati Sering di Caci Maki'
Saat itu Dwi Hartono merupakan mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang. Dwi Hartono memanipulasi nilai milik empat calon mahasiswa agar masuk ke FK Unissula.
"Lewat bimbingan belajar bernama Smart Solution, dia (Feri) bisa membuat orang masuk ke universitas bahkan dengan mengubah ijazah IPS menjadi IPA," ungkap Kapolrestabes Semarang yang saat itu dijabat oleh Kombes Elan Subilan di Mapolres, Jalan Dr. Sutomo, Semarang, Senin, 28 Mei 2012.
Kasus ini terungkap setelah surat kaleng yang memuat informasi soal kelakuan Dwi Hartono itu didapat Elan pada Sabtu, 26 Mei 2012. Disebutkan dalam surat tersebut sejumlah nama diduga berkaitan dengan kasus pemalsuan ijazah itu.
Andika mengatakan Dwi Hartono sudah diproses oleh pengadilan. Dia menyebut Dwi dijatuhi vonis selama 2 tahun penjara dalam kasus itu.
Surat tersebut turut mengungkap modus penyebarluasan jasa pemalsuan ijazah yang dilakukan Dwi Hartono.
Dwi Hartono pernah dipenjara akibat kasus pemalsuan ijazah pada 2012. Adapun ijazah yang dipalsukan oleh Dwi Hartono itu merupakan ijazah tingkat SMA paket C.
Tawarkan Calon Mahasiswa Rp 500 Juta
Dwi Hartono membanderol Rp 100-500 juta untuk calon mahasiswa yang ingin masuk lewat 'pintu belakang'.
Dwi Hartono yang merupakan mahasiswa FK Unissula angkatan 2004 itu juga melakukan joki pengerjaan tes masuk kampus. Adapun modusnya yakni melibatkan joki dalam pengerjaan tes dan jawaban diberikan penjoki kepada calon mahasiswa melalui pesan singkat menggunakan ponsel berbentuk jam tangan.
"Jadi modusnya menggunakan jam tangan canggih yang bisa digunakan untuk SMS dan telepon," ujar Elan.
Baca juga: Guru di Lamongan Tewas Dibunuh Ayah Kandung, Motif Karena Warisan
Kasus tersebut sempat dilaporkan oleh Dekan FK Unissula yang kala itu dijabat Taifuqurrachman ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polrestabes Semarang pada 23 April 2012. Meski pihak kampus sempat hendak mencabut laporan yang dilayangkan itu, pihak kepolisian menolak lantaran kasus tersebut bukanlah delik aduan melainkan pidana murni.
Adapun barang bukti yang disita dalam kasus pemalsuan ijazah yang dilakukan Dwi Hartono itu yakni satu unit mobil, sejumlah stempel berlogo universitas dan SMA, dan proposal rincian harga yang disiapkan Dwi Hartono untuk pelanggannya. Dwi Hartono melakukan aksinya sejak 2006 silam.
UGM: Dwi Makelar Mahasiswa Baru
Wakil Rektor I Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Bidang Akademik dan Kerja Sama, Andre Sugiono mengungkapkan Dwi Hartono makelar penerimaan mahasiswa baru. Dwi Hartono pernah menjadi makelar yang mencoba memasukkan calon mahasiswa ke Fakultas Kedokteran (FK) dengan memalsukan ijazah SMA.
"Yang bersangkutan itu dulu itu makelar penerimaan mahasiswa baru. Jadi dia memalsukan ijazah SMA calon mahasiswa baru dari IPS menjadi IPA, atau paket C, supaya bisa diterima di Fakultas Kedokteran Unissula," kata Andre, Kamis (28/8/2025).
Andre mengatakan praktik kotor itu sudah terbngkar dan langsung diproses hukum. Mahasiswa yang ijazahnya dipalsukan juga sudah tidak diterima Unissula.
"Ketahuannya dari prosedur ada verifikasi dan validasi ijazah SMA calon mahasiswa baru. Yang dipalsukan ijazah SMA, bukan Unissula," ungkapnya.
"Yang jelas pada saat itu 2012 terungkap dan sudah divonis hukumannya. Siswanya nggak ada yang keterima," lanjutnya.
Andre juga menegaskan kasus lama tersebut tidak berkaitan dengan Unissula. Ia menyebut, nama Unissula ikut terseret hanya karena lokasi terjadinya praktik pemalsuan saat itu terkait seleksi masuk perguruan tinggi.
"Karena itu kan kriminal umum ya. Jadi kita di akademik tidak ikut-ikutan," tegas Andre. n bin/jk/erc/rmc
Editor : Moch Ilham