TKW Dewi Astutik, dari Desa Berbisnis Narkoba

surabayapagi.com
Raditya M Khadaffi

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Suami Dewi Astutik, Sarno, mengaku syok setelah melihat kabar soal istrinya terlibat kasus narkoba. Dia mengaku tidak mengetahui sepak terjang istrinya dalam jaringan narkoba.

"Di media ada fotonya, saya syok dan kaget. Tapi saya pasrah. Di rumah saja susah didiknya. Tapi ya gimana," ujar Sarno,  Rabu (3/12/2025).

Baca juga: Atlet Berprestasi, Bonus dan Jaminan Hari Tuanya

"Soal gembong narkoba? Saya tidak tahu, soal sepak terjangnya nggak tahu saya," imbuhnya.

Dewi Astutik sendiri diketahui menjadi TKW. Yang dia tahu, istrinya baik-baik saja perihal pekerjaannya.

"Keluarga syok, tidak mengira, katanya ya baik-baik kerjanya," katanya.

Sepengetahuan Sarno, istrinya itu bekerja sebagai TKW atau pembantu rumah tangga di Taiwab.

Sarno, suami Dewi Astutik tidak menyangka jika istrinya adalah gembong narkoba jaringan internasional.

Sebab sepengetahuan Sarno, istrinya bekerja ke luar negeri sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) atau TKW dari sejak lajang.

Sarno menikah dengan Dewi Astutik  pada tahun 2009 lalu di Ponorogo, Jawa Timur.

Apa lagi saat pulang pada 2023 silam, Dewi Astutik sempat buka usaha dengan berjualan nasi bungkus.

Dewi Astutik pamit berangkat lagi ke Taiwan pada 2024.

Sarno pun mengungkap nama asli istrinya adalah Pariyatin bukan Dewi Astutik.

Namun setelah kabar penangkapan Dewi Astutik heboh, Sarno syok. Ternyata Dewi Astutik yang disebut sebagai gembong narkoba adalah i Pariyatin, istrinya.

Sosok Dewi Astutik  diungkap Kepala Dusun Tenun, Desa Broto, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo, Didik Harirawan.

Menurutnya, Dewi Astutik adalah salah seorang warga yang bertempat tinggal di lingkungan tersebut

Selama berada di Ponorogo, Dewi Astutik tinggal di rumah orang tua, Nyoimen-Kusni.

“Waktu pulang 2023 lalu jualan nasi bungkus keliling. Jadi setahu saya di rumah buka pemancingan juga. Terus kalau ada wayang reog itu buka lapak jualan nasi,” kata Didik Harirawan pada Rąbu (3/12/2025).

Kini nama Dewi Astutik alias Pariyatin menjadi sorotan seantero jagat.

Hal ini setelah dia menjadi gembong narkoba Internasional yang ditangkap Badan Narkotika Nasional (BNN).

Dia ditangkap BNN di Kamboja. Sebelum ditangkap, Dewi Astutik masuk dalam daftar buronan internasional.

Dia diketahui sebagai aktor intelektual di balik penyelundupan dua ton sabu jaringan Golden Triangle yang digagalkan pada Mei 2025, serta sejumlah kasus besar pada 2024 yang terkait jaringan Golden Crescent.

Upaya penangkapan itu dilakukan saat Dewi Astutik menuju lobi sebuah hotel di Sihanoukville, Kamboja, melalui kerja sama dengan Kepolisian Kamboja, KBRI Phnom Penh, Atase Pertahanan RI di Kamboja, serta Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI.

 

**

Baca juga: MBG, Siapa yang Berani Kritik

 

Di balik perjalanan Dewi Astutik alias Mami yang terseret dalam jaringan penyelundupan dua ton sabu, penyidik BNN menemukan satu sosok kunci yang selama ini beroperasi dalam lingkaran paling gelap sindikat internasional yaitu DON, warga Nigeria.  DON, digambarkan sebagai figur yang mampu membuka pintu, menyediakan perlindungan, dan membentuk jalur kriminal Dewi saat berada di Kamboja.

BNN mengungkap penangkapan Dewi merupakan hasil koordinasi besar antara Kepolisian Kamboja, KBRI Phnom Penh, Atase Pertahanan RI, hingga BAIS TNI di Sihanoukville. Dari penyelidikan awal, Dewi sebenarnya datang ke Kamboja untuk mencari keuntungan lewat praktik scamming. Namun perjalanannya berubah haluan ketika ia bersentuhan dengan DON.

DON disebut sebagai “caretaker” sekaligus “Godfather” yang membentangkan jaringan dan keamanan bagi Dewi.

"Di Cambodia PAR (Dewi Astutik) merasa bisa kendalikan semua jaringan dengan uang," ujar BNN.

Menurut penyidik, kehadiran DON membuat Dewi merasa terlindungi dan berani membentuk struktur kerja yang lebih besar.

Kolaborasi keduanya kemudian menciptakan jaringan lintas benua. Dewi mengatur kurir dan mengawasi proses pengemasan sabu, sementara DON memasok barang dan menanggung biaya operasional. Jejaring ini menghubungkan Asia, Afrika, hingga Amerika Latin.

"Untuk detail pihak-pihak yang membantu selain DON, sedang dalam penyelidikan dan pendalaman," tambahnya.

Namun kerja sama itu terhenti mendadak. DON disebut sudah lama menjadi target US DEA dan akhirnya ditangkap sebelum Dewi. Ia dibawa ke Amerika Serikat untuk menjalani proses hukum.

"Infonya DON menjadi DPO US DEA, sudah ditangkap dan dibawa ke US," ujarnya.

Sementara Dewi masuk red notice Interpol sejak 3 Oktober 2024 dan menjadi buronan pemerintah Korea Selatan sebelum akhirnya ditangkap dalam operasi internasional.

BNN mengungkap Dewi Astutik merupakan jaringan narkoba Kamboja, Nigeria, dan Brasil.

Baca juga: Menukil Gaya Kepemimpinan Otoriter Soeharto

Penangkapannya menutup pelarian panjang yang membawanya lintas negara sejak bekerja sebagai tenaga kerja wanita (TKW). BNN mengungkap, Dewi Astutik salah satu WNI yang mendominasi kawasan Golden Triangle atau jaringan narkoba internasional.

BNN menyebut Dewi pernah bekerja sebagai guru bahasa Inggris hingga Mandarin.

"Hasil pendalaman lanjutan, sebelumnya yang bersangkutan di Kamboja kerja di beberapa tempat kursus bahasa Inggris dan Mandarin sebagai pengajar, per bulan pendapatan kurang lebih Rp 20 juta," kata Kepala BNN Komjen Suyudi Ario Seto saat dihubungi, Kamis (4/12/2025).

"Paryatin sementara merupakan jaringan Kamboja-Nigeria-Brasil, jadi belum terkonfirmasi sebagai rekan Fredy Pratama," tambah Kepala BNN, Komjen Suyudi Ario Seto.

Suyudi mengatakan Dewi Astutik aktif merekrut WNI untuk bergabung dengan jaringannya. Para WNI itu kemudian ditugaskan sebagai kurir di berbagai negara.

Kini, perhatian aparat tidak hanya tertuju pada peran Dewi sebagai eksekutor lapangan, tetapi juga pada pengaruh DON yang mampu menghubungkan berbagai elemen jaringan. Pemahaman atas peran tokoh ini diyakini menjadi kunci untuk mengurai bagaimana sindikat besar tersebut bisa bertahan dan beroperasi lintas negara selama bertahun-tahun.

Perempuan asal Ponorogo, Jawa Timur, yang masuk daftar pencarian Interpol ini diringkus BNN bersama Interpol dan Bais di Kamboja. Dewi Astutik selama ini dikenal sebagai aktor penting penyelundupan 2 ton sabu senilai Rp 5 triliun.

Penangkapan ini merupakan langkah besar dalam upaya pemberantasan narkotika di Indonesia, mengingat Dewi Astutik disebut sebagai aktor intelektual di balik penyelundupan dua ton sabu senilai Rp 5 triliun.

Diketahui, Dewi Astutik menggunakan identitas adiknya untuk mengelabui aparat. Komjen Suyudi Ario Seto menjelaskan penelusuran ini akhirnya membawa mereka ke posisi strategis Dewi Astutik.

"Berdasarkan hasil analisa terdapat dua nama utama asal Indonesia yang mendominasi kawasan Golden Triangle, yakni Fredy Pratama dan Par alias Dewi Astuti alias Kak Jinda alias Dinda ini," kata Ario.

Penangkapan Dewi Astutik ini dilihat sebagai titik balik yang dapat mempertegas fokus aparat pada buronan terbesar Indonesia yang tersisa, yakni Fredy Pratama. Dewi Astutik telah diterbangkan ke Jakarta dan sedang menjalani pemeriksaan intensif untuk mengungkap seluruh jaringan keuangan, logistik, dan sindikat lainnya.

Kita tunggu siapa saja jaringan Dewi Astutik di Indonesia. Semoga BNN bisa membongkar hingga sel sel terkecil peredaran narkoba yang masuk jaringan TKW asal Ponorogo. (radityakhadaffi@gmail.com)

Editor : Moch Ilham

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru