SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta melaporkan 132 RT dan 16 ruas jalan di Jakarta masih terendam banjir pada Jumat (23/1) siang.
Banjir sudah terjadi di Jakarta sejak Kamis (22/1) lalu. Ratusan RT yang terendam banjir siang itu bertambah dari laporan sebelumnya.
Baca juga: Bupati Pati Sudewo, Mulutmu Harimaumu
Banjir di ratusan RT itu disebut karena curah hujan yang tinggi dan luapan sejumlah kali seperti Kali Angke, Kali Pesanggrahan hingga Kali Krukut.
Ketinggian air bervariasi mulai dari 15 hingga 150 cm. BPBD melaporkan ratusan jiwa mengungsi di berbagai tempat.
Sementara 16 ruas jalan yang terendam banjir mayoritas berada di Jakarta Barat, beberapa di Jakarta Timur dan Jakarta Utara.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta sebelumnya telah menerapkan kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) sementara bagi satuan pendidikan di Jakarta menyusul kondisi cuaca ekstrem.
Edaran pelaksanaan pembelajaran jarak jauh itu berlaku hingga 28 Januari 2026 dan akan dievaluasi lebih lanjut sesuai dengan perkembangan kondisi cuaca di wilayah DKI Jakarta.
Tidak hanya itu, Pemprov DKI juga mengimbau perusahaan di Jakarta untuk menerapkan sistem kerja fleksibel, termasuk penyesuaian jam kerja dan work from home (WFH).
Namun, kebijakan tersebut dikecualikan bagi perusahaan dengan operasional 24 jam atau yang memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat seperti sektor kesehatan, transportasi umum, logistik vital, serta energi dan utilitas dasar.
Masya Allah banjir di ibu kota hingga mengganggu jam sekolah dan perkantoran. Bagaimana dengan kota Surabaya pada musim hujan saat ini.
***
Sejak 2021, Surabaya tercatat memiliki sekitar 350 titik rawan banjir. Hingga saat ini, sekitar 100 titik telah diselesaikan, sementara 250 titik lainnya masih menjadi pekerjaan rumah. Penanganan dilakukan secara bertahap dan berbasis kawasan, termasuk di Jalan Jemursari yang penanganannya melibatkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur karena salurannya merupakan saluran alam dengan bentang cukup panjang.
“Pemkot Surabaya juga menggandeng Pemprov Jatim dan Kementerian PUPR, khususnya untuk pembangunan dan perbaikan saluran di Jalan Jemursari serta jalur menuju Gresik yang hingga kini belum memiliki saluran di sisi kanan dan kiri jalan,” terang Wali Kota Eri Cahyadi.
Eri bilang permasalahan banjir di Surabaya bukan semata soal anggaran, tetapi juga disebabkan saluran yang tertutup dan ketidaktertiban pembangunan drainase selama puluhan tahun. Ia menyebut banjir tidak hanya dipicu oleh curah hujan tinggi, tetapi juga oleh minimnya saluran di depan bangunan, di mana ukuran saluran untuk rumah tinggal dan rumah usaha pun berbeda.
Untuk itu, Pemkot Surabaya menegaskan bahwa setiap izin bangunan baru wajib dilengkapi saluran drainase. Jika kewajiban ini tidak dipenuhi, izin tidak akan diterbitkan sebagai langkah pencegahan agar persoalan banjir tidak terus berulang. Itu manajemen Pemkot Surabaya mencegah banjir.
Baca juga: Wali Kota Bergelar Rentengan, Ternyata Diduga Pemeras!
***
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo memperingatkan potensi cuaca ekstrem di beberapa wilayah Jawa Timur hingga 30 Januari 2026.
Menurut BMKG, potensi cuaca ekstrem di beberapa wilayah Jawa Timur dapat mengakibatkan terjadinya bencana hidrometeorologi, seperti hujan hingga lebat, banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, serta hujan es.
BMKG menyebut, saat ini seluruh wilayah Jawa Timur sudah berada pada musim hujan, dan ada beberapa wilayah yang diprakirakan sudah memasuki puncak musim hujan. Diprakirakan dalam beberapa hari ke depan akan terjadi peningkatan cuaca ekstrem yang berdampak pada aktivitas masyarakat.
"Potensi cuaca ekstrem ini merupakan dampak aktifnya monsun Asia, pola pertemuan angin, gangguan atmosfer equatorial rossby dan diprakirakan adanya gangguan gelombang atmosfer Madden Julian Oscillation yang akan melintas wilayah Jawa Timur," ujar Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo, Taufiq Hermawan, Selasa, (20/1/2026).
Suhu muka laut perairan Selat Madura yang masih cukup signifikan, serta kondisi atmosfer lokal yang labil turut mendukung pertumbuhan awan-awan konvektif yang berpotensi menimbulkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, yang dapat disertai petir dan angin kencang.
BMKG Juanda mengimbau masyarakat dan instansi terkait untuk waspada terhadap perubahan cuaca mendadak serta adanya potensi cuaca ekstrem berupa hujan disertai petir dan angin kencang.
Wilayah dengan topografi curam/bergunung/tebing, diharapakan lebih waspada terhadap dampak yang dapat ditimbulkan akibat cuaca ekstrem, seperti banjir, tanah longsor, jalan licin, pohon tumbang, serta berkurangnya jarak pandang.
Baca juga: Noel, Aktivis Jadi Tersangka Korupsi Langsung Ngaku
Ia memberi contoh banjir di Simo Kalangan terjadi sejak sungai dirubah menjadi jalan. Pembangunan tersebut sejak tahun 2014, dampaknya banjir menyerang perkampungan.
Meski banjir, airnya pun juga cepat surut, apalagi sejak dibantu mobil PMK yang menyedot air banjir. Meski demikian, warga berharap fungsi sungai dikembalikan.
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bergerak cepat menangani genangan di sejumlah kawasan setelah hujan deras mengguyur Kota Pahlawan sejak Minggu sore (4/1/2026). Sejumlah titik rawan banjir langsung menjadi prioritas penanganan, sekaligus masuk dalam rencana penanganan bertahap sepanjang tahun 2026.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menjelaskan bahwa banjir di kawasan Simo merupakan persoalan menahun yang membutuhkan penanganan menyeluruh. Menurutnya, wilayah Simo Kalangan dan Simo Hilir selama bertahun-tahun memang belum tersentuh penanganan komprehensif.
Saat ini, langkah darurat dilakukan dengan mengerahkan kendaraan berkemampuan khusus untuk penyedotan genangan milik Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP), yang didukung armada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya.
Sementara itu, genangan yang terjadi di Jalan Mayjen Sungkono, kata Wali Kota Eri, hanya berada di satu sisi jalan, tepatnya di sisi selatan atau sisi sungai. Kondisi tersebut terjadi karena pintu air sengaja ditutup menyusul curah hujan yang sangat deras. Aliran air yang terlalu kuat menyebabkan saluran lama di kawasan Pakis, khususnya Pakis 1B, ambrol.
Ke depan, Pemkot Surabaya memfokuskan penanganan banjir tahun 2026 di sejumlah kawasan, antara lain Simo Kalangan, Simo Hilir, Simo Rejo A, Simo Rejo 1A dan 1B, serta Tanjungsari,” imbuhnya.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi juga berkomitmen penuh mengatasi banjir di Kota Pahlawan. Salah satunya, ia mengembalikan fungsi Bozem Makam Putat karena tempat penampungan air itu semakin mengecil akibat tumpukan sampah yang berasal dari TPS Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Surabaya.
Wali Kota Eri juga sering melakukan sidak di beberapa lokasi tanggul penahan saluran yang jebol. Termasuk di Simo Hilir, Kelurahan Simo Mulyo Baru, Kecamatan Sukomanunggal, dan Jembatan Jalan Kupang Baru yang konstruksinya akan ditinggikan. Dengan langkah langkah pembenahan seperti itu, semoga banjir tidak lagi menghantui warga Surabaya. (radityakhadaffi@gmail.com)
Editor : Moch Ilham