SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Menurut saya, ada dua keyakinan soal Jokowi, sekarang ini. Jokowi masih sakti untuk meloloskan PSI ke parlemen. Dan yang kedua, ada keyakinan Jokowi tak lagi sakti karena tak lagi punya instrumen apapun setelah tak lagi menjabat.
Saya nilai ketika Jokowi siap total besarkan PSI itu semacam kesiapan uji kesaktian Jokowi setelah tak lagi presiden dan bukan PDIP. Kalau PSI lolos Jokowi pasti dibilang masih sakti, kalau tak lolos pastinya dikritik habis-habisan.
Baca juga: Jokowi Seperti Mulai Sindir Megawati
Menurut pendapat saya, berhasil tidaknya pengaruh Jokowi mengangkat PSI tergantung kerja keras di lapangan. Karena politik itu tak lain adalah soal meyakinkan rakyat bawah.
Saat ini, PSI punya suntikan semangat karena Jokowi akan mati-matian menangkan PSI.
Kini, tinggal uji materi apakah Jokowi masih sakti atau tidak setelah tak lagi jadi presiden dan pecah kongsi dengan PDIP. Kuncinya kerja lapangan.
Saya menilai, Jokowi yang terang-terangan berada di sisi PSI, ada plus minusnya. Saya kira PSI perlu mengurangi resistensi terhadap Jokowi dan pada saat bersamaan menjual sisi positif Jokowi.
Secara umum, menurut saya, cara menggaet suara pemilih sangat tergantung bagaimana pendekatan langsung ke rakyat yang di bawah, bukan hanya wacana di permukaan.
Baca juga: Pengamat Politik Nilai Jokowi Lakukan Gertakan Politik
Sebab, selama ini PSI itu identik dengan pemilih kota. PR terbesarnya itu, bagaimana PSI penetrasi ke pemilih di desa yang jumlahnya sangat mayoritas.
Saya catat pada pemilu 2024, PSI sebenarnya sudah mulai mengkapitalisasi Jokowi. Misalnya terlihat dari atribut kampanye mereka yang memasang foto Jokowi dengan tagline 'PSI Partai Jokowi'.
Tapi PSI sebatas itu saja mengkapitisasi Jokowi, terkesan malu-malu, efeknya PSI tak lolos ke parlemen.
Baca juga: PSI Sedang Mencari Tokoh, Tertarik ...
Jadi yang jelas, ini pertaruhan politik Jokowi. Kalau PSI lolos parlemen, Jokowi bakal disanjung puji dan pasti disebut masih sakti. Sebaliknya, jika PSI tak lolos parlemen, maka Jokowi bakal banyak dikritik karena sudah tak sakti lagi . n rmc
*) kepada wartawan, Minggu (1/2/2026).
Editor : Moch Ilham