Kapal Induk AS Bertenaga Nuklir, Intip Iran

surabayapagi.com
Kapal induk Amerika Serikat (AS), USS Gerald R Ford, yang bertenaga nuklir dilaporkan telah tiba di area Teluk Souda, yang berada di Pulau Kreta, Yunani, Selasa (24/2/2026).

SURABAYAPAGI.COM, Tehren - Kapal induk Amerika Serikat (AS), USS Gerald R Ford, yang bertenaga nuklir dilaporkan telah tiba di area Teluk Souda, yang berada di Pulau Kreta, Yunani. Posisi kapal induk terbesar di dunia ini semakin dekat dengan Timur Tengah, ketika perang antara AS dan Iran dikhawatirkan pecah dalam waktu dekat. Kapal Induk ini intip Iran.

Teluk Souda, seperti dilansir Gulf News dan The Times of Israel, Selasa (24/2/2026), merupakan lokasi pangkalan strategis Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Teluk tersebut juga menjadi pusat vital bagi AS, Yunani, dan sekutu-sekutunya di kawasan Mediterania bagian timur.

Baca juga: Menlu Jelaskan 8.000 Personel TNI Jaga Perdamaian

USS Gerald R Ford menjadi kapal induk kedua AS -- setelah USS Abraham Lincoln -- yang dikerahkan ke kawasan Timur Tengah, ketika Washington meningkatkan pengerahan aset militer di kawasan tersebut di tengah ketegangan dengan Iran beberapa waktu terakhir.

Presiden AS Donald Trump memerintahkan pengerahan USS Gerald R Ford pada awal bulan ini, saat dia berusaha menekan Teheran untuk mencapai kesepakatan dalam perundingan nuklir. Di sisi lain, Trump mempertimbangkan apakah akan mengambil tindakan militer terhadap Iran.

 

Evakuasi Personel Diplomatik AS

Seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS, yang tidak disebut namanya, seperti dilansir Anadolu Agency dan AFP, Selasa (24/2/2026), mengonfirmasi bahwa para personel diplomatik AS yang berstatus non-darurat dan para anggota keluarga mereka yang memenuhi syarat telah dievakuasi dari misi diplomatik di Beirut. Evakuasi ini diperintahkan setelah Presiden Donald Trump mengancam akan menyerang Iran, yang memiliki hubungan dekat dengan kelompok Syiah, Hizbullah, di Lebanon.

Baca juga: SBY Pesan, Indonesia Jangan Lugu

Dikatakan pejabat AS itu bahwa keputusan untuk mengurangi jumlah personel kedutaan ini bersifat "sementara".

"Ini merupakan langkah sementara yang dimaksudkan untuk memastikan keselamatan personel kami, sembari mempertahankan kemampuan kami untuk beroperasi dan membantu warga negara AS," kata pejabat senior Departemen Luar Negeri AS tersebut.

Menurut sumber keamanan Lebanon yang berbicara kepada AFP, sekitar 40 personel Kedutaan Besar AS telah terbang meninggalkan Lebanon melalui Bandara Internasional Rafic Hariri di Beirut pada Senin (23/2) waktu setempat.

Baca juga: Pangeran Inggris Andrew Ditangkap, Trump Anggap Memalukan

Dijelaskan pejabat senior AS itu bahwa perintah evakuasi tersebut berlaku untuk para staf non-darurat dan anggota keluarga mereka, dengan Kedutaan Besar AS di Beirut akan tetap buka.

"Kami terus menilai situasi keamanan, dan berdasarkan peninjauan terbaru, kami memutuskan bahwa akan bijaksana untuk mengurangi jumlah personel kami menjadi hanya para personel penting," jelasnya.

"Kedutaan Besar tetap beroperasi dengan para staf inti," tegas pejabat senior AS tersebut. n afp/sus/zla/rmc

Editor : Moch Ilham

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru