SURABAYAPAGI.com, Madiun - Mengikuti melemahnya nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat hingga ke level terendah. Hal itu mempengaruhi kondisi ekonomi masyarakat yang belum stabil ikut memengaruhi minat pembelian sapi kurban. Sehingga, juga turut mempengaruhi daya beli masyarakat menjelang hari raya Idul Adha 2026, dimana penjualan di tahun ini lesu dibanding tahun sebelumnya
Samirin (61), salah satu peternak sekaligus pedagang sapi asal Desa Sidorejo, Kecamatan Wungu, Madiun, mengatakan penjualan sapi mengalami perlambatan sejak awal musim kurban tahun ini. Dari total 180 ekor sapi yang disiapkan, hingga pertengahan Mei 2026, baru 85 ekor yang laku.
Baca juga: Harga Lebih Terjangkau, Permintaan Domba Kurban untuk Idul Adha di Trenggalek Melonjak
“Biasanya para pengusaha membeli tiga sampai empat ekor sapi. Sekarang rata-rata hanya satu atau dua ekor saja,” ujar Samirin, Senin (18/05/2026).
Pasalnya, pelemahan rupiah yang pada perdagangan pasar spot menyentuh Rp 17.671 per dolar AS turut menekan kemampuan belanja masyarakat. Meski demikian, Samirin tetap optimistis penjualan akan meningkat mendekati hari raya Idul Adha.
Baca juga: Jelang Idul Adha, DKPP Kota Madiun Gencarkan Vaksinasi PMK ke Hewan Kurban Kambing
Lebih lanjut, pihaknya juga memperkirakan jumlah sapi yang terjual masih bisa menembus lebih dari 100 ekor. Di sisi lain, permintaan sapi kurban tahun ini sebenarnya mulai membaik dibanding periode 2021-2025 saat wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) merebak dan menyerang banyak ternak sapi.
Sementara itu, untuk mayoritas pembeli sapi milik Samirin berasal dari wilayah Madiun dan sekitarnya. Ia sengaja membatasi penjualan hanya untuk pasar lokal guna mengurangi risiko distribusi serta menjaga kesehatan ternak.
Baca juga: Stok Melonjak Jelang Idul Adha, Harga Kambing di Magetan Justru Anjlok hingga Rp500 Ribu
Sedangkan terkait harga sapi dipatok mulai Rp 23 juta hingga Rp 35 juta per ekor, tergantung jenis dan ukuran. Adapun sapi dengan kisaran harga Rp 24 juta hingga Rp 25 juta menjadi yang paling diminati pembeli. Untuk seluruh sapi tersebut didatangkan dari sejumlah desa di Kabupaten Madiun. Samirin mengaku sengaja tidak mengambil sapi dari luar daerah seperti Nganjuk maupun wilayah Jawa Timur bagian timur guna mengantisipasi potensi penularan PMK. md-02/dsy
Editor : Redaksi