SURABAYAPAGI.com, Malang - Menindaklanjuti realisasi hilirisasi garam di wilayah pesisir Malang, saat ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang, menyatakan pihaknya berupaya mengkomunikasikan dengan pemerintah pusat, terkait lokasi proyek hilirisasi garam, yakni di Desa Sumberoto, Kecamatan Donomulyo.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Malang Victor Sembiring mengungkap jika adanya pemilihan lokasi yang diajukan bukan tanpa alasan, sebab di area tersebut merupakan salah satu titik potensial produksi garam krosok dengan sistem tunnel. "Untuk hilirisasi garam kami masih terus berkomunikasi, karena belum ada kepastian akan program hilirisasi garam untuk Kabupaten Malang dari pemerintah pusat," jelasnya, Minggu (28/06/2026).
Baca juga: Masifnya Pemasangan Tower, ‘Blankspot’ Sinyal Komunikasi di Malang Tersisa 85 Titik
Sementara itu diketahui, berdasarkan data Dinas Perikanan mencatat hingga semester I 2026 produksi garam krosok di Desa Sumberoto yang berada di kawasan Pantai Modangan mencapai 30.150 kilogram. Jumlah tersebut lebih tinggi dibanding produksi garam krosok yang ada di Pantai Perawan, Desa Sidoasri, Kecamatan Sumbermanjingwetan sebanyak 1.250 kilogram maupun di Pantai Ngantep, Desa Tumparejo, Kecamatan Gedangan sebanyak 3.200 kilogram.
Baca juga: Tinjau Kualitas Pelayanan Kesehatan, Bupati Malang Pastikan Nyaman dan Responsif
Sehingga, Pemkab Malang menargetkan produksi garam krosok tahun ini bisa mencapai 60 ribu kilogram. Menurutnya, hilirisasi akan memberikan nilai tambah pada komoditas itu, sebab hasil panen garam krosok bisa langsung diolah menjadi produk turunan, seperti untuk konsumsi, bahan baku industri makanan dan minuman, farmasi, serta kecantikan.
Serta diharapkan rencana hilirisasi bisa diwujudkan oleh pemerintah pusat setidaknya pada tahun ini. Sedangkan terkait area pemasaran garam krosok dari Kabupaten Malang sejauh ini telah memiliki pasar utama ke industri pengolahan garam di Kabupaten Tulungagung.
Baca juga: Genjot Swasembada, Pemkab Malang Targetkan Bongkar Ratoon 7.500 ha
"Kalau dalam bentuk garam krosok masih dipasarkan dengan harga Rp2.000 sampai Rp3.000 per kilogram, sedangkan garam konsumsi yang bahan bakunya dari garam krosok minimal Rp6.000 per kilogram tapi bisa lebih dari itu karena garam dari tunnel masuk kategori K1," ucapnya. ml-01/dsy
Editor : Redaksi