Jokowi Injak Kepala Kerbau, Tokoh PDIP Malah Remehkan

surabayapagi.com

Jokowi, hanya tengah menunjukkan ambisi kekuasaan tanpa batas." Guntur Romli
Juru Bicara PDIP


SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Kejadian kepala kerbau diinjak Jokowi, gegerkan elite PDIP.

Baca juga: Banggar DPR RI Sedih Anggaran Riset di Indonesia, Terus Turun

Juru Bicara PDIP, Guntur Romli mempertanyakan apakah yang dilakukan Jokowi sebagai adat, ekspresi kesombongan, atau simbolisasi perendahan politik. Menurut dia, para pendukung Jokowi tengah berhalusinasi bahwa yang tengah diinjak adalah kepala banteng.

"Pendukung Jokowi sedang berhalusinasi yang diinjak itu kepala banteng padahal kerbau," kata Gunrom saat dihubungi, Senin (29/6).
Dia menjelaskan, banteng adalah satwa dilindungi, sehingga tak bisa dibuat ritual atau kurban. Banteng berbeda dengan kerbau sebagai hewan ternak.

Namun, Gunrom menyebut ritual Tanah Gajah oleh Jokowi kian membuktikan disertasi Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto, mantan kadernya itu membangun identitas kepemimpinannya sebagai perpaduan 'the triangle of authoritarian populism'.
Menurut dia, Jokowi memadukan feodalisme dan mempersepsikan dirinya sebagai seorang raja.

"Feodalisme dengan membagi-bagi amplop dan sembako untuk menarik rakyat; dan karakter Machiavelianisme yang menempatkan kekuasaan sebagai segala-galanya," katanya.

Padahal, kata Gunrom, kepala kerbau yang diinjak Jokowi dalam ritual itu melambangkan para pengikutnya dan PSI yang terbuai terhadap di balik perilaku raja. Jokowi, lanjutnya, hanya tengah menunjukkan ambisi kekuasaan tanpa batas.
"Kerbau bukan banteng. Kerbau adalah hewan ternak. Cocok dengan istilah termul. Ternak Mulyono," katanya.

Lambang PDIP Bukan Kerbau
Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira lantas merespons prosesi adat Jokowi menginjak kepala kerbau. Andreas mengaku tidak paham dengan adat istiadat injak kepala kerbau.

"Saya tidak memahami adat istiadat dan budaya masyarakat Lampung, apalagi sampai dikaitkan dengan menginjak kepala kerbau," kata Andreas kepada wartawan.
Wakil Ketua Komisi XIII DPR itu ingatkan.

Andreas menegaskan lambang PDIP bukan kerbau, melainkan banteng bermoncong putih.

"Tapi kalau seandainya menginjak kepala kerbau itu, oleh yang menginjak, mau dimaknai sebagai simbolisasi menghina PDI Perjuangan, ha-ha-ha..., maaf, lambang PDI Perjuangan bukan kepala kerbau. Lambang PDI Perjuangan itu banteng moncong putih," ucap dia.

Selain itu, Andreas menilai tidak pantas Jokowi, yang dianggap sebagai simbol pemersatu, malah datang ke suatu daerah dan dinobatkan menjadi kepala adat atau raja.

"Juga menurut saya tidak biasa dan tidak pantas seseorang yang sudah pernah menjadi presiden yang merupakan simbol pemersatu bangsa, kemudian datang ke daerah untuk dinobatkan sebagai raja, atau sebagai kepala adat atau kepala suku dari sekelompok masyarakat," imbuhnya.

Menurutnya, publik akan merasa lebih bangga ketika tokoh yang pernah menjadi Presiden Indonesia itu mendapat gelar akademik dari negara lain. Andreas menilai Jokowi masih berada di tahap lokal.

Baca juga: PSI Siap Lawan PDIP di Tahun 2029

"Harus naik kelas dong, kelasnya harus beda dong. Masa sih, mantan presiden mainannya masih lokal-lokalan, masih mau cari dukungan suarakah?" imbuh dia.

PSI, Ungkap Injak Kepala Kerbau

Ketua DPP PSI, Bestari Barus mengungkap maksud ritual injak kepala kerbau yang dilakukan Presiden ketujuh RI Joko Widodo (Jokowi) dalam safari politiknya di Lampung, Sabtu (27/8).

Bestari memastikan pelaksanaan ritual bukan atas kemauan Jokowi, melainkan masyarakat adat di Lampung sebagai penghargaan atas kontribusi selama menjadi presiden.

"Ritual itu bukan Pak Jokowi buat. Pak Jokowi hanya sebagai orang yang diberikan gelar tersebut," kata Bestari saat dihubungi, Senin (29/6).

Dia menambahkan, ritual juga bukan kali pertama. Berdasarkan informasi yang ia terima, Bestari bilang ritual dan gelar kehormatan tersebut juga sempat diberikan kepada mantan presiden terdahulu.

Namun, Bestari tak mengungkap sosok mantan presiden selain Jokowi yang dimaksud. Itu ritual bukan hanya ke Pak Jokowi. Tapi banyak tokoh bangsa yang lain. Bahkan menurut berita yang saya dengar, tapi perlu dikonfirmasi, bahkan salah satu presiden kita terdahulu pernah menerima itu dan menginjakkan kakinya juga di atas kepala kerbau itu," katanya.

Baca juga: Jadikan PDIP Sebagai Oposisi

Sebagai peninggalan leluhur, Bestari karenanya menilai ritual yang dijalani Jokowi tak pantas dianggap atau dituding sebagai keangkuhan. Dia menilai tudingan tersebut sebagai bentuk penghinaan terhadap adat istiadat.

Dia mengingatkan semua pihak untuk melakukan tabayun sebelum melayangkan tudingan tak berdasar.

"Kader partai politik itu seharusnya tanya dulu. Atau tanya kepada ketua umumnya, dulu pernah nerima enggak. Kira-kira begitu, saya kira itu," ujar Bestari.
Jokowi menerima gelar

"Baginda Pemuka Bangsa" dalam prosesi adat Lampung yang berlangsung di Kedatun Keagungan, Jalan Sultan Haji, Kota Bandar Lampung, Sabtu (27/6).

Jokowi Berpakaian Adat
Dalam momen itu, Jokowi yang duduk di sebuah kursi lengkap dengan pakaian adat yang dia kenakan, menginjak kepala kerbau yang diletakkan di atas karpet merah.

Tokoh adat Lampung, Mawardi Rahma Harirama yang bergelar Sultan Seghayo Dipuncak Nur, menjelaskan prosesi pemberian gelar adat atau muakhi telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari budaya masyarakat Lampung sejak ribuan tahun lalu.

"Prosesi pemberian muakhi (gelar adat) ini memang sudah berlangsung ribuan tahun lalu di Lampung. Ini adalah bagian dari penerapan piil pesenggiri, falsafah budaya Lampung yang mengedepankan nemui nyimah atau silaturahmi," ujar Mawardi. n lm, erc, dna

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru