SurabayaPagi, Sidoarjo – Dugaan keracunan massal terjadi di Pondok Pesantren (Ponpes) Manba’ul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo. Ratusan santri dilaporkan mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), Selasa (1/9/2026).
Para santri yang mengalami keluhan kemudian dievakuasi ke sejumlah rumah sakit dan fasilitas kesehatan di Kabupaten Sidoarjo. Penanganan pasien berlangsung hingga Selasa malam, dengan jumlah korban yang terus mengalami pembaruan.
Baca juga: 567 Orang Terdampak, Kasus Dugaan Keracunan MBG Sidoarjo Meluas ke 19 Lembaga Pendidikan
Direktur RSI Siti Hajar Sidoarjo, dr. H. Iqbal Faizin, M.Kes., mengatakan hingga pukul 21.15 WIB, hampir 60 pasien telah masuk melalui Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit tersebut.
Dari jumlah itu, tujuh pasien membutuhkan perawatan lebih lanjut dan menjalani rawat inap.
“Ya, kondisi di RS Siti Hajar sampai pukul 21.15, tercatat ada pasien masuk melalui IGD hampir 60, kemudian yang diperlukan rawat inap tercatat tujuh,” ujar Iqbal.
Menurut Iqbal, seluruh pasien yang datang telah mendapatkan penanganan dari tim medis. Pasien dengan kondisi stabil menjalani observasi dan mendapatkan tindak lanjut sesuai kebutuhan medis.
Pasien yang membutuhkan rawat inap juga telah ditempatkan di ruang perawatan. Sementara pasien lainnya masih dipantau hingga kondisi kesehatannya dinyatakan stabil.
RSI Siti Hajar, lanjut Iqbal, masih memiliki kapasitas untuk menerima pasien tambahan apabila jumlah korban kembali bertambah.
“Kami masih bisa menampung kira-kira hampir 50-an pasien lagi, masih bisa. Insyaallah semuanya terkondisikan dengan baik, baik keluarga maupun pasien, yang keluarga di luar, yang pasien di dalam,” katanya.
Data Awal Capai 393 Korban
Pada Selasa malam, data sementara pasien yang mendapatkan perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan mencapai 393 orang.
Rinciannya, 271 pasien ditangani di RSUD R. T. Notopuro Sidoarjo, 14 pasien di RS Delta Surya, 57 pasien di RSI Siti Hajar, 13 pasien di RS Pusura, delapan pasien di RS Porong, 22 pasien di RS Siti Fatimah, serta delapan pasien di Klinik Azka.
Data tersebut merupakan jumlah sementara hingga sekitar pukul 21.30 WIB dan masih memungkinkan berubah seiring proses pendataan dan evakuasi pasien.
Bupati Sidoarjo Subandi yang meninjau penanganan pasien di RSUD R. T. Notopuro memastikan tidak ada korban meninggal dunia dalam kejadian tersebut.
“Tidak ada yang meninggal, semua pasien tertangani dengan baik. Berita santri ada yang meninggal itu hoaks,” tegas Subandi.
Jumlah Pasien Bertambah Menjadi 500 Orang
Perkembangan terbaru pada Rabu (2/9/2026) menunjukkan jumlah santri dan siswa yang telah mendapatkan penanganan medis meningkat menjadi sekitar 500 orang.
Baca juga: Gejala Berlanjut, Enam Santri Ponpes Manba’ul Hikam Kembali Dilarikan ke RSUD Notopuro
Berdasarkan data terbaru Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo yang dilaporkan pada Rabu pagi, dari 500 pasien tersebut, sebanyak 65 orang masih menjalani rawat inap, sementara 324 pasien telah diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Sebanyak 111 pasien lainnya masih menjalani observasi.
Sumber lain yang memperbarui data pada pagi hari mencatat 320 pasien telah diperbolehkan pulang, 65 pasien masih menjalani rawat inap, dan 115 pasien berada dalam tahap observasi.
Perbedaan angka pada kelompok pasien yang sudah pulang dan observasi menunjukkan proses pemutakhiran data masih berlangsung.
Pasien tersebar di sejumlah fasilitas kesehatan di Sidoarjo. RSUD R. T. Notopuro menjadi salah satu rumah sakit dengan jumlah pasien terbanyak, disusul sejumlah rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya.
Keluhan Muncul Beberapa Jam Setelah Konsumsi MBG
Dugaan keracunan bermula setelah para santri mengonsumsi paket MBG yang dibagikan di lingkungan pesantren pada Selasa siang.
Pengasuh sekaligus Ketua Yayasan Ponpes Manba’ul Hikam, KH Abdul Wahid Harun, sebelumnya menyampaikan bahwa sejumlah santri mulai mengalami keluhan seperti mual dan muntah setelah mengonsumsi makanan tersebut.
Keluhan disebut mulai muncul sekitar waktu salat Asar. Seiring waktu, jumlah santri yang mengalami gejala kesehatan bertambah sehingga proses evakuasi ke sejumlah rumah sakit dilakukan.
Berdasarkan informasi mengenai paket makanan yang dibagikan, menu MBG tersebut terdiri atas nasi putih, telur orak-arik, tempe bumbu Bali, tumis buncis dan baby corn, serta buah apel. Paket tersebut dilaporkan berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Tanggulangin.
Baca juga: BGN Terus Bersih-bersih Dapur
Namun, hingga kini belum dapat dipastikan makanan atau bahan tertentu sebagai penyebab munculnya keluhan kesehatan para santri. Pemeriksaan medis dan investigasi terhadap makanan serta proses pengolahan dan distribusi masih diperlukan untuk memastikan penyebab kejadian.
Penanganan dan Investigasi Berjalan
Peristiwa tersebut membuat sejumlah rumah sakit di Sidoarjo meningkatkan kesiapan layanan untuk menangani pasien yang terus berdatangan.
Pemerintah Kabupaten Sidoarjo juga melakukan pemantauan terhadap kondisi para santri yang menjalani perawatan. Aparat terkait turut dilibatkan dalam penanganan kejadian tersebut.
Dengan jumlah pasien yang mencapai ratusan orang, dugaan keracunan ini menjadi perhatian serius terhadap aspek keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG, khususnya pada proses pengolahan, distribusi, penyimpanan, hingga makanan diterima dan dikonsumsi penerima manfaat.
Meski demikian, status kejadian masih berupa dugaan keracunan. Penetapan penyebab dan sumber kontaminasi harus menunggu hasil pemeriksaan laboratorium serta investigasi dari instansi berwenang.
Pemerintah daerah dan pihak terkait diharapkan segera menyampaikan hasil pemeriksaan secara terbuka agar masyarakat memperoleh informasi yang akurat sekaligus mencegah berkembangnya kabar yang tidak terverifikasi.
Untuk sementara, fokus penanganan diarahkan pada pemulihan seluruh pasien dan memastikan tidak ada korban yang mengalami kondisi lebih serius.
Editor : Redaksi