Ekspor Jatim Turun 5,33 Persen, Impor Naik 16,56 Persen hingga Juli 2026

Reporter : Arlana Chandra Wijaya

SurabayaPagi, Surabaya — Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat kinerja perdagangan luar negeri Jawa Timur sepanjang Januari-Juli 2026 bergerak berlawanan. Nilai ekspor turun, sementara impor justru tumbuh cukup kuat.

Pelaksana Tugas Kepala BPS Jawa Timur Herum Fajarwati mengatakan nilai ekspor Jawa Timur pada Januari-Juli 2026 mencapai 16,08 miliar dolar AS, turun 5,33 persen dibandingkan periode yang sama 2025 yang mencapai 16,99 miliar dolar AS.

Baca juga: Kontribusi Ekonomi Pulau Jawa Capai 54,67% Atas Total PDB Nasional

"Penurunan ini disebabkan oleh penurunan ekspor nonmigas yang sebesar 4,43 persen," kata Herum di Surabaya, Rabu (2/9/2026). 

Berdasarkan kelompok komoditas, ekspor nonmigas Jawa Timur turun 4,43 persen dari 16,64 miliar dolar AS menjadi 15,90 miliar dolar AS.

Sementara itu, ekspor migas mengalami penurunan lebih dalam, yakni 48,07 persen, dari 349,45 juta dolar AS menjadi 181,47 juta dolar AS.

Penurunan ekspor migas terutama dipengaruhi melemahnya ekspor minyak mentah yang turun 65,54 persen, dari 317,11 juta dolar AS menjadi 109,28 juta dolar AS.

Jika dilihat secara bulanan, nilai ekspor Jawa Timur pada Juli 2026 tercatat 2,65 miliar dolar AS. Angka tersebut turun 9,15 persen dibandingkan Juli 2025.

Penurunan pada Juli terutama berasal dari ekspor nonmigas yang turun 7,94 persen secara tahunan menjadi 2,64 miliar dolar AS.

Meski secara keseluruhan ekspor mengalami tekanan, sejumlah komoditas nonmigas masih mencatat pertumbuhan positif. Dari 10 golongan barang dengan nilai ekspor nonmigas terbesar, tembaga (HS 74) menjadi komoditas yang mencatat peningkatan nilai ekspor terbesar.

Nilai ekspor tembaga naik 39,51 persen menjadi 2,08 miliar dolar AS. Komoditas tersebut mayoritas dikirim ke Tiongkok dengan nilai mencapai 565,08 juta dolar AS.

Selanjutnya, ekspor lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15) meningkat 28,41 persen menjadi 1,67 miliar dolar AS. Komoditas tersebut paling banyak dikirim ke Tiongkok dengan nilai 745,41 juta dolar AS.

Ekspor olahan ikan, krustasea, dan moluska (HS 16) juga tumbuh 17,04 persen menjadi 503,70 juta dolar AS. Pasar terbesar komoditas tersebut adalah Amerika Serikat dengan nilai ekspor 251,14 juta dolar AS.

Di sisi lain, perhiasan dan permata (HS 71) menjadi komoditas yang mengalami penurunan terdalam. Nilai ekspornya merosot 54,17 persen dibandingkan Januari-Juli 2025 menjadi 1,73 miliar dolar AS.

Berbeda dengan ekspor, impor Jawa Timur sepanjang Januari-Juli 2026 justru menunjukkan pertumbuhan. BPS mencatat nilai impor mencapai 19,52 miliar dolar AS, naik 16,56 persen dibandingkan periode yang sama 2025 yang sebesar 16,74 miliar dolar AS.

Baca juga: Ekspor Jatim Turun 2,92 Persen, Impor Melesat 14,36 Persen hingga Mei 2026

"Sejalan dengan itu, nilai impor migas dan nonmigas naik," ujar Herum.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kenaikan impor nonmigas sebesar 14,16 persen, dari 13,94 miliar dolar AS menjadi 15,91 miliar dolar AS.

Impor migas juga meningkat 28,48 persen dari 2,81 miliar dolar AS menjadi 3,61 miliar dolar AS. Di dalamnya, impor minyak mentah naik 22,34 persen dari 317,07 juta dolar AS menjadi 387,90 juta dolar AS.

Sementara impor hasil minyak meningkat 30,53 persen dari 1,80 miliar dolar AS menjadi 2,35 miliar dolar AS.

Pada Juli 2026 saja, nilai impor Jawa Timur mencapai 3,01 miliar dolar AS, tumbuh 19,5 persen dibandingkan Juli 2025. Impor nonmigas tercatat 2,52 miliar dolar AS atau naik 22,3 persen secara tahunan.

Sementara impor migas mencapai 490 juta dolar AS atau tumbuh 6,8 persen dibandingkan Juli 2025.

Dari 10 golongan barang impor nonmigas terbesar sepanjang Januari-Juli 2026, buah-buahan (HS 08) mencatat peningkatan nilai sebesar 214,49 juta dolar AS atau tumbuh 35,87 persen. Pasokan terbesar berasal dari Tiongkok dengan nilai 740,29 juta dolar AS.

Baca juga: BPS Jatim: Inflasi Juni 2026 Naik 0,30 Persen, Dipicu Bensin dan Tiket Pesawat

Besi dan baja (HS 72) juga meningkat 28,04 persen atau bertambah 245,05 juta dolar AS. Komoditas tersebut paling banyak diimpor dari Tiongkok dengan nilai 659,72 juta dolar AS.

Sementara itu, impor pupuk (HS 31) naik 26,88 persen atau bertambah 181,31 juta dolar AS. Negara asal utama impor pupuk Jawa Timur adalah Rusia dengan nilai 268,11 juta dolar AS.

Adapun mesin dan peralatan mekanis (HS 84) masih menjadi salah satu kontributor terbesar impor. Nilainya naik 13,70 persen, dari 1,47 miliar dolar AS menjadi 1,67 miliar dolar AS. Tiongkok menjadi negara asal utama dengan nilai impor 872,82 juta dolar AS.

Secara keseluruhan, 10 golongan barang tersebut memberikan kontribusi 58,61 persen terhadap total impor nonmigas Jawa Timur selama Januari-Juli 2026.

Dari sisi pertumbuhan, impor 10 golongan barang tersebut meningkat 16,08 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Data BPS tersebut menunjukkan bahwa hingga Juli 2026 aktivitas perdagangan luar negeri Jawa Timur masih menghadapi dinamika yang berbeda antara sisi ekspor dan impor.

Di tengah penurunan nilai ekspor, sejumlah komoditas utama masih mampu mencatat pertumbuhan, sementara kebutuhan impor Jawa Timur meningkat seiring dengan naiknya permintaan terhadap sejumlah bahan baku, barang modal, dan komoditas lainnya.

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru