Oligarki Lama Ingin Kembali

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Menjelang peringatan peristiwa G30S atau Gerakan 30 September 1965, isu kebangkitan komunisme atau PKI selalu membuat gaduh politik nasional. Bahkan, memicu kerusuhan massa dengan merusak gedung LBH-YLBHI di Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat. Menyikapi isu ini pun sejumlah pihak angkat bicara, mulai anggota DPR hingga menteri. Tak terkecuali Panglima TNI dan Presiden Jokowi. Mengapa isu PKI begitu gaduh di era Presiden Jokowi dan siapa yang diuntungkan dari isu tersebut? ------------ Laporan : Ibnu F Wibowo-Joko Sutrisno, Editor: Ali Mahfud --------------- Peneliti dari Populi Center, Rafif Pamenang Imawan mengungkapkan ada hal lain yang perlu diwaspadai dari kemunculan isu 'hantu Komunisme'. "Hantu yang ada sekarang adalah hantu perubahan, bahwa oligarki lama mulai tersisih dari lingkar kekuasaan, dan mulai mencari celah untuk berkuasa pada rezim berikutnya," ungkap Rafif, kemarin (19/9). Masyarakat kini, sambung Rafif, patut lebih waspada atas latar belakang pemunculan hantu komunisme atau kebangkitan PKI. Dan, salah satu yang diwaspadai adalah oligarki lama atau golongan serta kelompok tertentu yang ingin kembali mencengkeram Indonesia, setelah tersingkir akibat runtuhnya rezim Orde Baru. Para penguasa lama tersebut, lanjutnya, dinilai 'menunggangi' isu kebangkitan komunisme untuk mencapai tujuannya. "Kepentingan jangka pendek yang dilihat, padahal cost (harga) jangka panjangnya besar, bisa mendorong perpecahan dan hilangnya prinsip impartiality (ketidakberpihakan)," tuturnya. Upaya pengembalian kuasa ke tangan para oligarki lama disebut semakin gencar dilakukan jelang dimulainya proses Pilkada 2018 dan Pemilu 2019. Hal serupa pun sempat terjadi ketika jelang Pemilihan Presiden pada 2014 silam, salah satunya di mana Presiden RI Joko Widodo sempat disandingkan dengan PKI yang sudah diberangus dari bumi Indonesia pada dekade 1960an silam. Rafif menilai kembali bergulirnya isu kebangkitan komunis di Indonesia tak lepas dari upaya para penguasa lama untuk memperoleh keuntungan politik. Ia menganggap akan ada pihak-pihak yang diuntungkan dan dirugikan dari berkembangnya isu tersebut. "Ingat, kita akan menghadapi pilkada krusial yang memperebutkan kantong suara besar di tahun 2018. Itu hanya berjarak satu tahun dengan pilpres," tandas Rafif. Tensi Tinggi Tensi tinggi atas isu komunisme kembali mencuat terlihat dalam sepekan ini. Pertama, diskusi ilmiah tentang pengungkapan sejarah 1965-1966 pada 16-17 September di kantor LBH Jakarta, Jalan Pangeran Diponegoro Nomor 74, Jakarta Pusat. Acara tersebut urung digelar karena tak ada izin dari kepolisian. Menanggapi pembatalan acara, LBH Jakarta dan beberapa LSM menggelar pentas seni bertajuk 'Asik Asik Aksi: Indonesia Darurat Demokrasi.' Acara itu berlangsung pada Minggu (17/9) petang hingga pukul 21.00 WIB. Usai acara pentas seni, peserta kegiatan tak bisa meninggalkan lokasi acara karena dikepung ratusan pedemo. Mereka menolak kegiatan itu dan menganggapnya membahas sesuatu tentang Partai Komunis Indonesia (PKI). Tak hanya itu, persoalan komunisme kembali mencuat terkait rencana TNI yang diakui Panglima Jendera Gatot Nurmantyo bakal memutar film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI untuk ditonton bersama prajurit. Gatot mengatakan, pemutaran ulang film bertujuan mengingatkan seluruh bangsa tentang peristiwa yang terjadi pada 30 September 1965 silam, agar tidak terulang lagi di masa kini. (selengkapnya lihat grafis) Minta Presiden Tanggung Jawab Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah meminta Presiden Joko Widodo bertanggungjawab menyelesaikan isu kebangkitan PKI yang saat ini menguat kembali di masyarakat. Menurut Fahri, seharusnya Jokowi sejak lama menyelesaikan beban masa lalu seperti peristiwa yang terjadi pada 1965. "Tanggung jawabnya di Presiden (Jokowi). Masa yang tanggung jawab orang lain," tutur Fahri di Gedung DPR, Jakarta. Menurutnya, selama ini Jokowi belum menunjukkan tindakan konkret untuk menyelesaikan masa lalu, khususnya terkait peristiwa G30S. Konsekuensinya, kata Fahri, sentimen negatif terhadap suatu pihak akan selalu terpelihara di masyarakat. "Presiden itu menurut saya terlalu naif. Kalau ada PKI gebuk saja. Apa maksudnya itu? Enggak boleh begitu. Selesaikan dan ada tahapan-tahapannya," ucap Fahri. Di samping itu, lanjut Fahri, kepala negara juga harus memiliki kemampuan kecerdasan dalam menyelesaikan konflik. Dia mengatakan, dalam konteks peristiwa 1965, Jokowi dapat mencari kebenaran secara adil dengan mendengarkan kedua pihak yang masih berselisih, antara korban di pihak PKI, dan korban atas tindakan PKI di masa lalu. "Saya minta Presiden turun tangan karena ini sudah pada level membahayakan. Saling curiga di masyarakat kita ini enggak sehat," tandasnya. Kurang Kerjaan Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menilai masyarakat tidak perlu lagi membahas isu G30S/PKI lantaran isu ini dinilai hanya akan menghabiskan energi positif bangsa. Mewaspadai munculnya kembali pergerakan ini merupakan kewajaran, namun tidak perlu berlebihan. "Kalau ributin itu saja (G30SPKI), kurang kerjaan gitu lho. Diwaspadai oke, tapi jangan terlalu hebohlah, kayak mau perang dunia. Saya kan ngalamin, kalian belum lahir. Biasa saja," kata Luhut di Kompleks Istana Presiden, Selasa (19/9/2017). Salah satu langkah pemerintah untuk mewaspadai munculnya gerakan PKI ini dilakukan dengan meningkatkan keamanan dan juga kesejahteraan. Luhut menjelaskan, komunisme dapat kembali muncul apabila terjadi ketidakadilan di dalam masyarakat. Komunisme, kata dia, tak akan muncul jika rakyat telah sejahtera. "Komunis itu terjadi kalau terjadi ketidakadilan. Kalau rakyat sejahtera, siapa yang mau komunis? Cina itu partainya saja komunis, rakyatnya mau gimana komunis mereka sudah pakai gadget semua," ujar dia. Permainan Politik Hal senada dinyatakan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkum dan HAM) Yasonna Laoly. Ia menilai isu komunisme hampir selalu dijadikan permainan politik menjelang 30 September setiap tahunnya. Yasonna pun meminta masyarakat tidak mudah terpancing dengan merebaknya isu tersebut. "Isu PKI itu kan mimpi di siang bolong. Untuk apa dibangkit-bangkitkan hantu yang sudah mati? Mana ada lagi yang dikatakan PKI," kata Yasonna di Kompleks Istana Kepresidenan, kemarin. Politisi PDI-P ini menegaskan bahwa keberadaan PKI dan ajaran komunisme sudah dilarang dengan Ketetapan MPRS Nomor XXV/MPRS/1966. Oleh karena itu, tak ada lagi hal yang perlu ditakutkan. Apabila ada yang mencoba menyebarkan ajaran PKI dan komunisme, maka akan langsung ditindak oleh kepolisian. "Jadi kan kehabisan isu jadi dieksploitasi lah. Jangan dibuat menjadi permainan politik jadi rakyat sudah capek lah," kata dia. Yasonna pun mengimbau pihak-pihak yang berada di belakang isu PKI untuk mengakhiri permainan politiknya dan mengerjakan hal-hal yang lebih positif. Ia juga berharap masyarakat tak lagi terprovokasi dengan isu komunisme. "Banyak kerjaan positif yang bisa kita kerjakan. Enggak usah susah-susah menciptakan yang tak jelas," ujarnya. n
Tag :

Berita Terbaru

PDIP Bergeser dari Isu Politik ke Lingkungan

PDIP Bergeser dari Isu Politik ke Lingkungan

Minggu, 11 Jan 2026 19:51 WIB

Minggu, 11 Jan 2026 19:51 WIB

Dalam Rakernas Ke-53, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri Undang Rocky Gerung             SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Dalam peringatan HUT PDI Perju…

KPK Ungkap Transaksi Rugikan Negara Rp 75 Miliar oleh Kepala KPP Madya Jakarta Utara

KPK Ungkap Transaksi Rugikan Negara Rp 75 Miliar oleh Kepala KPP Madya Jakarta Utara

Minggu, 11 Jan 2026 19:46 WIB

Minggu, 11 Jan 2026 19:46 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Akhirnya KPK tetapkan lima tersangka terkait operasi tangkap tangan pejabat pajak di Jakarta Utara (Jakut). Salah satu tersangka…

Pidato Eks Menag Ajak Perangi Korupsi Viral di Medsos

Pidato Eks Menag Ajak Perangi Korupsi Viral di Medsos

Minggu, 11 Jan 2026 19:44 WIB

Minggu, 11 Jan 2026 19:44 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Beberapa hari ini sebuah video beredar luas di media sosial. Video yang memperlihatkan eks Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, saat…

Tommy Soeharto, Bakal Punya Menantu DJ

Tommy Soeharto, Bakal Punya Menantu DJ

Minggu, 11 Jan 2026 19:41 WIB

Minggu, 11 Jan 2026 19:41 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Tata Cahyani mencuri perhatian di prosesi siraman putranya bersama Tommy Soeharto, Darma Mangkuluhur, Jumat lalu. Ia mengenakan…

Ayatollah Khamenei Digoyang Demo, Putra Shah Iran Provokasi

Ayatollah Khamenei Digoyang Demo, Putra Shah Iran Provokasi

Minggu, 11 Jan 2026 19:38 WIB

Minggu, 11 Jan 2026 19:38 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Teheran - Sudah dua minggu ini ada demo besar-besaran yang melanda negara Iran. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan AS siap…

Yakobus 4:7

Yakobus 4:7

Minggu, 11 Jan 2026 19:36 WIB

Minggu, 11 Jan 2026 19:36 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - "Tunduklah kepada Allah. Lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu". Karena itu, pendeta saya mengajak tunduklah kepada…