Pengorbanan Gatotkaca di Pilgub

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Sesungguhnya antara Arjuna dan Karna ini betul-betul kekuatan yang setanding dan sebanding. Sama-sama sakti. Sama-sama putra kandung Dewi Kunti Talibrata, sama-sama putra kandung dan kader terbaik NU. Barangkali hanya beda bapak. Satunya putra Dewa Indra, satunya lagi Dewa Surya. Satu nya anak ideologi KH Said Aqil Siraj dan satunya anak ideologis Alm. KH Hasyim Muzadi yang diteruskan ada KH Sholahuddin Wahid. Keduanya adalah ksatria utama pilihan para Dewa. Masing-masing pun didukung oleh kekuatan para raja dengan segenap pasukannya yang siap mengorbankan jiwa raga. Arjuna memiliki panah sakti Pasopati pemberian Siwa yang jika sudah dilepas tak pernah meleset dari sasaran. Sementara Karna memiliki panah Kunta Wijayandanu, saat dilepas dan disebut satu nama, maka nama tersebut pasti akan terpenggal kepalanya. Kelebihan Karna yang membuat dirinya lebih unggul dari Arjuna adalah perisai dan anting gaib pemberian Dewa Surya sejak kelahirannya. Dua benda sakti yang membuat Karna takkan bisa ditembus oleh senjata sesakti apapun. Tapi kedua benda sakti tersebut telah lepas dari tubuhnya akibat muslihat Dewa Indra yang cemas jika anaknya Arjuna sampai kalah. Maka kini kekuatan antara Arjuna dan Karna benar-benar setanding dan sebanding. Sulit untuk menebak siapa yang bakal unggul saat keduanya bertarung di Kurusetra Pilgub Jatim nantinya. Situasi ketidakpastian kemenangan milik siapa inilah yang membuat Sang Sutradara Bharayayudha, Basudewa Kresna benar-benar merasa cemas. Dia berpikir keras bagaimana agar kondisi yang serba mungkin tersebut menjadi kondisi yang pasti. Haruskah memerlukan kehadiran Poros Tengah untuk menjamin kepastian kemenangan? Siapa Poros Tengah itu? Apa yang harus dilakukan oleh Poros Tengah itu untuk menjamin kemenangan salah satu pihak. Sakuni di pihak lain memang sudah mencoba menciptakan Poros Tengah itu. Mengundang kehadiran Raja Ular Taksaka, untuk merasuk ke dalam salah satu anak panah Karna dan akan membunuh Arjuna pada saat anak panah itu dilepaskan. Tapi rupanya siasat Sakuni itu keburu gagal. Karena kehadiran Taksaka keburu diketahui oleh Kresna. Poros Tengah yang sempat mendominasi pemberitaan media massa selama berminggu-minggu gagal mengusung Calon Gubernur idaman, yakni Emil Dardak. Karena keburu di ambil Demokrat sebagai Calon Wakil Gubernur Khififah Indar Parawansa (KIP). Poros Tengah Taksaka, ibarat bunga yang diidamkan banyak orang, layu sebelum berkembang. Tapi bagaimanapun strategi Sakuni menghadirkan Poros Tengah adalah strategi yang cerdas, fikir Kresna. Mungkin hanya soal momentum saja yang membuat strategi itu gagal. Poros Tengah harus hadir pada saat momentum yang tepat. Ketika tak seorang pun berpikir Poros itu akan muncul dan membantu salah satu pihak antara Arjuna atau Karna. Jangan sampai ketahuan sebelum melaksanakan tugasnya dengan baik. Di tengah gelap malam, di saat Kresna sedang berpikir keras tentang bagaimana menghadirkan kekuatan Poros Tengah yang bisa menyelamatkan atau bahkan memenangkan Arjuna, tiba-tiba saja pasukan Kurawa menyerang perkemahan pasukan Pandawa. "Ah, ini jelas pelanggaran dalam perang. Menyerang musuh di malam hari." geram Kresna sambil mengepalkan tinjunya. Tapi tiba-tiba dia mendapatkan ide. "Tapi, ini justru bisa menjadi momentum itu. Yeaah...momentum itu datang tepat pada waktunya." gumam Kresna sambil melonjak girang. Cepat dia memanggil Bima yang tengah kecipuhan menata pasukannya yang kocar-kacir karena serangan mendadak di malam hari. Kresna meminta Bima untuk memanggil putranya Gatotkaca dari ibu Arimbi untuk datang dan terlibat dalam perang. "Gatotkaca adalah seorang raksasa Bima. Kesaktiannya akan berlipat-lipat saat malam hari. Panggil dia dan perintahkan untuk menghancurkan pasukan Kurawa. Maka tanpa menunggu esok pasukan Kurawa akan hancur lebur, dan kemenangan akan menjadi milik kita" perintah Kresna pada Bima. Dengan sigap dan cepat, dengan mantra tertentu Bima memanggil putra kesayangannya, Gatotkaca. Dan tanpa berpanjang kata, begitu Gatotkaca datang dihadapannya Bima memerintahkan agar Gatotkaca segera turun gelanggang menghancurkan kekuatan musuh dengan segenap kesaktiannya. Maka, seperti prediksi Kresna dengan sangat mudah Gatotkaca menghancurleburkan pasukan musuh. Dengan badan raksasanya, sekali kaki dan tangannya bergerak satu batalion pasukan musuh hancur lebur tunggang langgang. Tak satu musuh pun yang bisa menghentikan amuk Gatotkaca di malam hari. Bahkan tak satu senjata pun dari para kesatria seperti Duryudana, Karna, Drona dan Aswatama yang mampu menembus kulit Gatotkaca. "Inilah momentum yang tepat itu. Inilah pentingnya Poros Tengah yang difikirkan oleh Sakuni itu." gumam Kresna dengan senyum simpul. Sambil melihat Gatotkaca meluluhlantakkan pasukan musuh, mengalahkan satu persatu kesatria musuh. Hingga akhirnya Gatotkaca berhasil menawan Duryudana dalam genggaman tangan raksasanya. Ajal Duryudana tinggal menunggu waktu. Maka akhir perang pun tinggal menunggu waktu. Kemenangan pun sudah di depan mata. Pada saat seperti itu pusat perhatian Kresna tertuju ke Karna. Dia berharap secepatnya Karna melepaskan panah Kunta Wijayandanu ke dada Gatotkaca. Karena hanya panah Karna lah satu-satunya senjata yang bisa membunuh Gatotkaca. Sekali dilepaskan panah itu pasti membunuh musuhnya, tapi hanya sekali, tak lebih, itulah kelemahan Karna yang ingin diambil Kresna. Kunta Wijayandanu adalah panah sakti yang hanya bisa digunakan sekali. Dan sejak lama disimpan Karna hanya untuk membunuh Arjuna. Tapi kini Karna harus menggunakan panah itu, sebab jika tidak maka Duryudana akan terbunuh dan perang akan berakhir. Karna mengalami dilema. Kalau dia melepas Kunta, maka dia akan kehilangan senjata saktinya saat menghadapi Arjuna. Tapi jika tidak, maka dia akan kehilangan Duryudana. Dan saat Duryudana teriak minta tolong Karna tak lagi dapat menahan diri. Kunta Wujayandanu dilepaskan ke dada Gatotkaca. Menembus dada raksasa sakti sang putra Bima. Mengantar nyawa Gatorkaca ke swargaloka, sekaligus mengantar nyawa pemiliknya sendiri, yakni Karna ke hadapan Arjuna. Melihat itu semua, bibir Kresna sebelah kanan tersenyum simpul. Tapi bibir kirinya mengurai tangis, menyaksikan pengorbanan Gatotkaca demi kemenangan Arjuna. Dan bila tiba waktunya Arjuna berhadapan dengan Karna. Kini mereka bukan lagi lawan setanding dann sebanding. Karena Karna telah kehilangan Panah Kunta, sementara Arjuna tetap gagah perkasa dengan Panah Pasupati. Meski begitu jiwa ksatria Karna tak pernah membuat langkahnya surut. Dengan keyakinan penuh dia tetap menghadapi Arjuna di atas kereta perangnya. Dengan mata nanar Karna siap menerima Pasupati yang telah dihunus oleh Arjuna, sambil menangkupkan kedua telapak tangan, memberi salam pada Kresna. Kresna tersenyum sekaligus menangis menjawab salam Karna. Sambil berkata dalam hati. " Inilah pentingnya Poros Tengah dalam Bharatayudha ini. Inilah pentingnya pengorbanan Gatotkaca." Tapi apakah Poros Tengah mau menjadi Gatotkaca yang rela mengorbankan dirinya demi kemenangan salah satu pihak antara Gus Ipul (GI) dan KIP? Ataukah Kresna dan Bima memiliki kekuatan untuk menghadirkan Poros Tengah Gatotkaca dalam perang, demi keuntungan salah satu pihak? Atau jangan-jangan Gatotkaca yang sudah menyadari akan dikorbankan justru semakin melipatgandakan kesaktiannya dan bahkan menghancurkan pasukan kedua pihak? Satu hal yang pasti, kemenangan salah satu pihak apakah itu GI atau KIP, jelas memerlukan bantuan kekuatan Gatotkaca. Kita tidak tahu apakah PKS, PAN atau Gerindra yang akan rela menjadi Gatotkaca dan rela berkorban untuk kemenangan salah satu pihak. Bahkan kita juga tidak tahu apakah justru sebaliknya, ketiga partai akan menjelma menjadi Poros Tengah yang tak bisa dikendalikan, dan justru akan menumbangkan kedua pihak. Sebab Pilgub Jatim bukanlah Bharatayudha.
Tag :

Berita Terbaru

Resmikan Landfill Mining TPA Ngipik, Bupati Gresik Dorong Transformasi Pengelolaan Sampah

Resmikan Landfill Mining TPA Ngipik, Bupati Gresik Dorong Transformasi Pengelolaan Sampah

Selasa, 24 Feb 2026 21:28 WIB

Selasa, 24 Feb 2026 21:28 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Gresik – Upaya serius mengatasi persoalan sampah terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Gresik. Salah satu langkah konkret diwujudkan melalui p…

Menlu Jelaskan 8.000 Personel TNI Jaga Perdamaian

Menlu Jelaskan 8.000 Personel TNI Jaga Perdamaian

Selasa, 24 Feb 2026 19:40 WIB

Selasa, 24 Feb 2026 19:40 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya untuk berkontribusi aktif dalam menjaga stabilitas dan perdamaian global melalui…

SBY Pesan, Indonesia Jangan Lugu

SBY Pesan, Indonesia Jangan Lugu

Selasa, 24 Feb 2026 19:38 WIB

Selasa, 24 Feb 2026 19:38 WIB

Sejarah Perang Dunia II, Indonesia Tidak Terlibat Langsung Perang tapi Tetap Terdampak   SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Presiden RI ke-6 Susilo Bambang …

Yaqut Klaim Pembagian Kuota Jaga Keselamatan Jemaah

Yaqut Klaim Pembagian Kuota Jaga Keselamatan Jemaah

Selasa, 24 Feb 2026 19:36 WIB

Selasa, 24 Feb 2026 19:36 WIB

Sidang Praperadilannya Dikawal Puluhan Banser. KPK tak Hadir, Ditunda 3 Maret      SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Eks Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas atau Gu…

Jaksa Tuding Penjualan Laptop Chromebook era Nadiem, Kayak Sedekah

Jaksa Tuding Penjualan Laptop Chromebook era Nadiem, Kayak Sedekah

Selasa, 24 Feb 2026 19:34 WIB

Selasa, 24 Feb 2026 19:34 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Jaksa Penuntut Umum (JPU) heran dengan harga jual laptop Chromebook dari PT Hewlett-Packard Indonesia (HP) lebih murah daripada…

KPK Bahas Mitigasi Potensi Risiko Korupsi Program MBG dan Kopdes

KPK Bahas Mitigasi Potensi Risiko Korupsi Program MBG dan Kopdes

Selasa, 24 Feb 2026 19:33 WIB

Selasa, 24 Feb 2026 19:33 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Mitigasi potensi risiko korupsi pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih, mulai dibahas Tim…