Kematian Kesatria Sebelum Pilgub

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Baiklah. Inilah kisah kematian para ksatria pilih tanding sebelum perang Baratayudha dimulai. Bagaimana skenario status quo para dewa, melalui Basudewa Kresna mencoba menghentikan Wisanggeni, Antasena dan Antareja agar tidak sampai masuk gelanggang perang Baratayudha. Kenapa ketiga kstaria utama putra Pandawa ini harus dihentikan? Kenapa mereka tidak boleh ikut berperang? Alasan atau legitimasi apa yang akan digunakan oleh status quo dewata untuk mencegah mereka ikut berperang? Bukankah mereka bertiga berhak untuk ikut perang? Ya ya ya....tapi bagaimana membayangkan sebuah perang dengan kehadiran wayang super hero seperti Wisanggeni, Antasena dan Antareja? Jika Antareja sampai ikut terlibat dan turun ke medan perang, ribuan prajurit Kurawa bisa mati hanya dalam sekejap oleh kesaktiannya sebagai keturunan bangsa ular. Atau Wisanggeni dan Antasena, yang dipercaya dapat membalikkan dunia wayang hanya dengan kedua telapak tangannya. Jalannya perang akan jungkir balik, tidak bisa berjalan sebagaimana skenario yang telah ditetapkan. Maka, inilah kisah pengorbanan atau kisah ksatria yang dikorbankan sebelum perang yang jarang diungkap, terjadi sebelum Baratayudha. Sebuah kisah para ksatria yang memilih mati di jalan mereka sendiri. Siapakah sebenarnya Wisanggeni, Antasena dan Antareja? Dalam pewayangan Jawa, Antasena dan Antareja adalah putra Bima. Antasena dari ibu Urang Ayu putri Bethara Mintuna, sedang Antaraje dari ibu Nagagini putri dari Dewa Baruna. Sementara Wisanggeni adalah putra Arjuna dari ibu Drasanala putri Dewa Brahma. Ada kesamaan pokok antara Antasena dan Wisanggeni, yaitu sama-sama blak-blakan, jujur, apa adanya, spontan, sekaligus berani melawan junjungan mereka kalau mereka yakin bahwa junjungan mereka memang salah. Mereka berdua adalah kesatria yang selalu siap bertempur membela nama besar keluarga Pandawa. Tetapi ketika mereka tahu bahwa keluarga mereka mulai menapaki jalan yang sesat, kedua kesatria ini tidak segan-segan berteriak dalam bahasa “ngoko", yakni bahasa Jawa yang dipakai antara dua orang yang setara dalam suasana yang sama sekali tidak formal. Mereka menggunakan gaya bahasa “ngoko” karena memang tidak bisa menggunakan “krama inggil”, yakni bahasa Jawa yang harus digunakan oleh orang muda kepada orang tua atau bahasa orang yang berderajat lebih rendah kepada mereka yang berderajat lebih tinggi, atau antara dua orang yang sederajat tetapi dalam sikap saling menghormati. Antareja sedikit berbeda dengan dua saudaranya tersebut, Antareja masih menggunakan bahasa santun, selebihnya sifat lainnya sama dengan kedua saudaranya. Antasena, Antareja dan Wisanggeni adalah ketiga ksatria Yang amat sakti, sampai para dewa pun gentar. Dalam wayang Jawa disebutkan bahwa para dewa mempunyai skenario bahwa keluarga Bharata (Pandawa dan Kurawa) harus berperang sampai titik darah penghabisan untuk memperebutkan Astinapura. Ini skenario para dewa yang harus terjadi. Karena itu apapun yang menghalangi skenario ini, harus disingkirkan. Menurut para dewa, Antasena, Antareja dan Wisanggeni adalah tiga Ksatria Pandawa yang pasti akan menggagalkan Baratayuda atau perang keluarga Barata. Ketiga anak Pandawa ini dipastikan akan dalam sekejap menumpas Kurawa, sehingga yang akan terjadi adalah penumpasan kilat, bukan perang dahsyat yang membanjirkan darah di kedua pihak. Karena itu, menurut para dewa, Antasena, Antareja dan Wisanggeni harus mati demi Bharatayuda. Demi tujuan para dewa itulah Antasena, Antareja dan Wisanggeni harus mati. Ketiganya gugur karena tipu daya para dewa. Antasena memilih Moksa, Antareja memilih mati menjilat tapak kakinya sendiri dan Wisanggeni gugur menelan liurnya sendiri. Kembali ada kesamaan antara ketiganya, yakni mati secara kesatria ketika mempertahankan keyakinan mereka akan kebenaran. Memang, sangat menyesakkan dada bagi orang hidup untuk berbicara mengenai pilihan cara harus mati. Tapi adalah sebuah tindakan koruptif berbicara mengenai Antasena, Antareja dan Wisanggeni tanpa menerima cara ketiganya gugur. Diantara anak Bima, Antasena adalah yang tersakti dan terbijak, dia bisa terbang, bisa ambles ke bumi dan bisa hidup di darat dan lautan. Kulitnya bersisik dan kebal terhadap segala macam senjata Perang. Senjata ampuhnya terletak di tangannya, bila sudah digunakan untuk menyerang, tidak ada yang mampu menahan kesaktian tangannya, bahkan gunung pun roboh bila kena tinju tangan Antasena. Hatinya sangat baik sebagai pembela Kebenaran, Lugas dan tegas. Seperti Antareja dan Wisanggeni, Antasena tidak diperkenankan ikut Perang Bharatayudha, karena kesaktiannya yang tidak ada bandingannya dari pihak Kurawa, sehingga bila ikut perang keadaan jadi tidak berimbang. Untuk hal inilah Sri Kresna diutus para dewa berperan sebagai negosiator sehingga Antasena mau melakukan "Bom Bunuh Diri" moksa sebelum perang Bharatayudha, demi keseimbangan semesta, kejayaan, dan nama baik para Dewa. Sri Kresna mengatakan jika Pandawa mau menang maka Antareja, Wisanggeni dan Antasena harus mau berkorban tidak ikut Bharatayudha, alias harus gugur duluan sebelum terjadi Perang di Padang Kurusetra. Peristiwa moksa Raden Antasena tergolong unik, tak terhitung ribuan kilo meter yang ditempuh Sri Kresna untuk mencari keberadaan Raden Antasena, ia bertanya kesana kesini, menemui seluruh penguasa penjuru bumi, dan tetap tak mampu Sri Kresna menemuinya, tapi tanpa disangka Raden Antasena muncul di hadapan Sri Kresna menyerahkan diri. Bahkan kemunculannya yang menyamar sebagai orang lain tak disadari oleh Sri Kresna. Raden Antasena sudah mengetahui isi dari pemikiran dan apa yang hendak diutarakan Sri Kresna, di sinilah Sri Kresna benar-benar mengakui kehebatan Raden Antasena. Kresna sebenarnya amat sangat menyayangkan tentang keputusan dewata untuk meminta kedua Putra Werkudara ini untuk moksa. Karena baginya kebijaksanaan Raden Antasena jauh melebihi kebijaksanaan Semar, Narada, Hanoman…maupun dirinya sendiri. Pengetahuannya akan kehidupan dan segala maknanya amatlah dalam. Sebelum Moksa, Raden Antasena berpesan kepada Sri Kresna: “Perang Bharatayuda hanyalah perang fisik seperti perang-perang besar lainnya, yang menjadi simbol perseteruan antara kebenaran dan kejahatan. Perang sesungguhnya antara Kebenaran dan Kejahatan telah berlangsung sejak lama, sebelum Kurawa dan Pandawa dilahirkan. Kehadiran saya tak diperlukan dalam perang di Kurusetra itu. Saya tak sampai hati mencabut nyawa mereka yang tak mengerti tujuan dari peperangan tersebut. Tolong Sampaikan salam perpisahan saya untuk Ayahanda saya, Bima, dan sampaikan permohonan maaf saya yang tak bisa berbakti padanya karena tidak bisa terlibat dalam Perang Bharatayudha …” Sri Kresna hanya menangis terharu mendengar statement pemuda tersebut. Ini mengingatkan posisi Gerindra, PAN dan PKS di Pilgub Jatim. Membayangkan ketiga partai ini akan menjelma menjadi kekuatan pilih tanding Wisanggeni, Antasena dan Antareja jika bergabung. Sempat mengguncang dengan label Poros Tengah dan Poros Emas, kini kabarnya nyaris tak terdengar. Seperti moksa sebelum Baratayudha dimulai. Teringat juga akan banyaknya tokoh-tokoh pilih tanding dalam masa running Pilgub. Tri Rismaharini, Hasan Aminuddin, Nurwiyatno, Wachid Wahyudi, HR Harsono, Ridwan Hisjam, Safiin, Hari Estu Bagio, Masfuk, Suyoto, Ipong Muchlisoni, Said Abdullah, Nurhayati Ali Assegaf, Musyafa Noer, Kusnadi, Kanang Budi dan masih banyak kesatria pilih tanding lainnya yang keburu moksa, hilang dan menghilang tanpa jejak lagi. Sebelum Pilgub dimulai. Mati atau dimatikan?
Tag :

Berita Terbaru

Resmikan Landfill Mining TPA Ngipik, Bupati Gresik Dorong Transformasi Pengelolaan Sampah

Resmikan Landfill Mining TPA Ngipik, Bupati Gresik Dorong Transformasi Pengelolaan Sampah

Selasa, 24 Feb 2026 21:28 WIB

Selasa, 24 Feb 2026 21:28 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Gresik – Upaya serius mengatasi persoalan sampah terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Gresik. Salah satu langkah konkret diwujudkan melalui p…

Menlu Jelaskan 8.000 Personel TNI Jaga Perdamaian

Menlu Jelaskan 8.000 Personel TNI Jaga Perdamaian

Selasa, 24 Feb 2026 19:40 WIB

Selasa, 24 Feb 2026 19:40 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya untuk berkontribusi aktif dalam menjaga stabilitas dan perdamaian global melalui…

SBY Pesan, Indonesia Jangan Lugu

SBY Pesan, Indonesia Jangan Lugu

Selasa, 24 Feb 2026 19:38 WIB

Selasa, 24 Feb 2026 19:38 WIB

Sejarah Perang Dunia II, Indonesia Tidak Terlibat Langsung Perang tapi Tetap Terdampak   SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Presiden RI ke-6 Susilo Bambang …

Yaqut Klaim Pembagian Kuota Jaga Keselamatan Jemaah

Yaqut Klaim Pembagian Kuota Jaga Keselamatan Jemaah

Selasa, 24 Feb 2026 19:36 WIB

Selasa, 24 Feb 2026 19:36 WIB

Sidang Praperadilannya Dikawal Puluhan Banser. KPK tak Hadir, Ditunda 3 Maret      SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Eks Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas atau Gu…

Jaksa Tuding Penjualan Laptop Chromebook era Nadiem, Kayak Sedekah

Jaksa Tuding Penjualan Laptop Chromebook era Nadiem, Kayak Sedekah

Selasa, 24 Feb 2026 19:34 WIB

Selasa, 24 Feb 2026 19:34 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Jaksa Penuntut Umum (JPU) heran dengan harga jual laptop Chromebook dari PT Hewlett-Packard Indonesia (HP) lebih murah daripada…

KPK Bahas Mitigasi Potensi Risiko Korupsi Program MBG dan Kopdes

KPK Bahas Mitigasi Potensi Risiko Korupsi Program MBG dan Kopdes

Selasa, 24 Feb 2026 19:33 WIB

Selasa, 24 Feb 2026 19:33 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Mitigasi potensi risiko korupsi pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih, mulai dibahas Tim…