Surat Terbuka untuk Gubernur Soekarwo, Gus Ipul, K

Khofifah - Gus Ipul, Harus Berani Lawan Radikalisme

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Calon Gubernur 2018 Jatim, Anies dianggap menang di Pilkada DKI Jakarta dengan kekuatan radikalisme Islam. “Ketika Anies-Sandi Menang dengan Kekuatan Islamis”, demikian headline berita BBC pasca kemenangan Anies 19 April 2017 silam. Entah Anies menginginkannya atau tidak, kekuatan kaum pembenci Ahok, gubernur incumbent yang melakukan perbuatan penghina agama, di Pulau Pramuka. Awal tahun 2017, menjelang pilkada, suasana Jakarta amat tegang. Ada ancaman pengerahan massa dari luar kota. 66.000 aparat Polri-TNI dikerahkan untuk antisipasi keamanan. Akhirnya, suasana pilkada dilaporkan aman tanpa gangguan berarti. Hasilnya, pilkada DKI Jakarta telah sukses menjadi drama politik dan fenomena nasional dengan isu agama sebagai nafasnya. Ibarat reaksi penguraian persatuan bangsa Indonesia dengan isu agama sebagai katalisnya. Ibarat perang sipil dengan isu agama sebagai garda terdepannya Calon Gubernur 2018 Jatim, Dalam kaitan ini, paham radikalisme yang diinstrumentalisasi dalam berbagai bentuk dan maksud oleh kelompok-kelompok revivalis dilatari oleh beberapa persepsi dan alasan, seperti ketidakadilan yang dialami rakyat, korupsi yang menggurita, krisis ekonomi-politik, dan kesenjangan kaya-miskin. Dalam anggapan mereka, ini terjadi karena sistem negara Indonesia yang terlalu berkiblat kepada demokrasi dan "memberhalakan" Pancasila. Oleh karena itu, kelompok ini mengajukan syariah sebagai satu-satunya pandangan dunia (world view) yang harus dijadikan sebagai landasan konstitusi maupun dasar negaranya. Apa yang kita saksikan dalam beberapa bulan ini, di mana pintu masuk paham radikalisme yang digerakkan kelompok revivalis melalui momentum Pilkada DKI, menjadi bukti betapa mereka ingin mereaktualisasi paham radikalisme. Bahkan, gerakan massa yang dilabelisasi dengan 411, 212, 313, dan semacamnya menjadi sebuah rejuvinasi radikalisme yang memanfaatkan pergerakan massa yang disulut dengan semangat populisme. Dengan melibatkan berbagai aktor, baik di kalangan politisi, agamawan, pengusaha, dan tokoh masyarakat lainnya, paham radikalisme kian ditasbihkan sebagai satu-satunya cara untuk melakukan perubahan Indonesia yang lebih baik. Berbagai adagium agama diserukan dalam altar pergerakannya untuk memicu emosi publik-terutama sekelompok orang yang berafiliasi dengan pergerakan ini. Persepsi Islam sebagai agama yang damai tergantikan dengan wajah Islam yang keras, radikal, teror, dan menakutkan. Segala upaya untuk menumbuhkan semangat keberislaman ditanggapi sebagai upaya untuk menghidupkan teror. Setiap gerakan yang menyeru kepada Islam, dianggap akan menyuburkan perilaku teror. Ditambah, parahnya, seluruh simbol-simbol Islam diarahkan pada sesuatu yang harus diwaspadai. Bahkan, nama-nama yang (agak) Islami pun turut dicurigai, sebagaimana yang terjadi pada automatic gate bandara Soekarno-Hatta baru-baru ini. Radikalisme sebagian gerakan Islam (walau seringnya digeneralisir menjadi radikalisme Islam) tumbuh subur karena adanya perlakuan diskriminatif negara Barat terhadap Islam. Standar ganda yang diterapkan Amerika, misalnya, dengan selalu mengaitkan kepada aksi terorisme terhadap semua kejahatan yang pelakunya –kebetulan– beragama Islam, sedangkan sikap yang berbeda ditunjukkan pada kejadian yang pelakunya tidak beragama Islam, menjadi akar dari perilaku radikal tersebut. Sikap diskriminatif terhadap Islam inilah yang seolah menjadi pupuk yang menyuburkan perilaku radikal di kalangan umat Islam. Ketidak-pahaman Barat terhadap Islam dalam taraf tertentu bisa dimaklumi menjadi sumber ketakutan. Belum lagi tesis dari Samuel Huntington tentang clash of civilitation yang menempatkan Islam sebagai ‘musuh’ Barat berikutnya setelah runtuhnya Komunisme Pemuda menjadi objek terdampak utama. Mereka yang lahir di era teknologi ini dihadapkan pada sebuah kondisi dimana hampir tidak ada lagi ruang-ruang sosialisasi nyata. Semuanya mulai tergantikan dengan pola komunikasi semu yang diwujudkan oleh seperangkat gadget. Facebook, Twitter, Instagram, dan sederet sosial media lainnya telah sukses menggusur pola hubungan tatap-muka. Whatsapp, BBM, Line, dan puluhan sarana online chatting sejenis juga merubah wajah komunikasi verbal antar manusia. Seluruh sosialisasi manusia, khususnya para pemuda, telah diambil alih oleh seperangkat teknologi dan sebuah sambungan internet. Calon Gubernur 2018 Jatim, Pemerintah Jawa Timur awal tahun 2017 lalu telah menyusun Peraturan Daerah (Perda) untuk menangkal paham dan gerakan radikalisme. Rancangan Perda disusun melibatkan akademisi, pakar dan organisasi masyarakat seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Ranperda akan difokuskan dalam diskusi kelompok terarah pada 24 Juli 2017. Gubernur Dr. Soekarwo, buka kartu bahwa Raperda ini digagas karena ada kegelisahan dari kalangan akademisi dan ormas atas gerakan ISIS sejak tahun 2012. Saat itu, dia langsung mengeluarkan Peraturan Gubernur (Pergub) untuk menangkal gerakan radikalisme. Pak De bertekad Gerakan radikalisme tak boleh hidup di provinsi Jawa Timur. Nah, gubernur 2018-2023 perlu merespons untuk kemaslahatan masyarakat Jawa Timur. Artinya Pak De yang nasionalisme religius saja berani melawan radikalisme. Apalagi Khofifah dan Gus Ipul, yang berbasis NU, religius nasionalisme. Dalam memerangi radikalisme. Pak De mengajak kelompok masyarakat, akademisi dan pakar. Terutama untuk dilibatkan dalam proses deradikalisasi. Termasuk terhadap warga Jawa Timur yang dideportasi dari Irak dan Suriah. Hal yang digenggam Pak De bahwa pendiri bangsa, telah membangun negara dengan pondasi kuat mengusir penjajah Belanda, Inggris, Jepang dan Portugal. Perlawanan yang digagas Gubernur ini, ternyata direspons oleh kaum nahdliyin dengan menyelenggarakan Istighosah NU di Sidoarjo . Istighosah yang di hadiri puluhan ribu kaum nahdliyin itu begitu menggetarkan, terutama ketika lagu Indonesia Raya dikumandangkan. Untuk pemahaman, saya mencari asal usul kata istighosah yang ternyata berasal dari kata al ghouts yang artinya pertolongan. Dalam konteks kalimat ini, istighosah berarti permintaan tolong kepada Tuhan. Istighosah di Sidoarjo itu seperti menutup rangkaian kejadian di Jawa Timur pada periode sebelum dan sesudah pilkada DKI Februari 2017. Saat itu, NU melawan paham radikalis yang sedang mencoba masuk ke Jatim, melalui pengajian-pengajian oleh pemuka agama Syiah. Bahkan sebelum itu para kyai dan santri di Madura sepakat menolak penyebaran paham wahabi dan ISIS di daerahnya. Kyai-kyai NU seperti tidak mau ditunggangi lagi seperti ketika ada pengusiran warga Sampang yang mengatas-namakan NU sebagai bagian dari pelaku pengusiran. Alhamdulillah, mayoritas NU, terutama di Jawa Timur, sudah mulai bisa membedakan mana kaum radikalis berbaju agama yang hendak memecah belah kesatuan Indonesia. Temuan yang saya peroleh, pergerakan kader NU di Jawa Timur bukan tanpa sebab, karena mereka sudah mendapat masukan sebelum memutuskan tindakan penolakan sebelum ustadz berbau radikal memasuki provinsi NU. Maklum, Jawa Timur adalah provinsi yang plural, dimana banyak wilayah tempat semua agama bergandengan tangan bersama. Seperti contoh di Tuban, ketika hari raya Nyepi, secara otomatis suara adzan yang biasanya berkumandang melalui pengeras suara dikecilkan suaranya untuk menghormati saudara sebangsanya yang sedang menjalani kepercayaannya. Geliat NU ini bisa menjadi tonggak bahwa ketika negara dalam bahaya, NU menunjukkan jati diri dalam membela negara. Mengingat bela negara bagian dari sebagian dari iman. Dari meja redaksi Surabaya Pagi, saya berharap, siapa pun yang menang dalam pillada Jatim 2018 nanti, apa cawagub Azwar Anas atau cawagub Emil Dardak, keduanya adalah tokoh muda yang brilian. Saatnya cawagub Gus Ipul dan Khofifah, perlu dipompa agar nyalinya bertumpuk-tumpuk melawan segala bentuk radikalisme. Tentu radikalisme, yang menggunakan atribut agama maupun ideologi. Apalagi di Jatim, dikenal sebagai basis NU terbesar di Indonesia. Gubernur Jatim penerus Pak De Karwo, yang nasionalisme religius, saya pikir harus berani melawan radikalisme, sebab warga Jatim itu mayoritas nasionalisme yang religius. ([email protected], bersambung)
Tag :

Berita Terbaru

Resmikan Landfill Mining TPA Ngipik, Bupati Gresik Dorong Transformasi Pengelolaan Sampah

Resmikan Landfill Mining TPA Ngipik, Bupati Gresik Dorong Transformasi Pengelolaan Sampah

Selasa, 24 Feb 2026 21:28 WIB

Selasa, 24 Feb 2026 21:28 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Gresik – Upaya serius mengatasi persoalan sampah terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Gresik. Salah satu langkah konkret diwujudkan melalui p…

Menlu Jelaskan 8.000 Personel TNI Jaga Perdamaian

Menlu Jelaskan 8.000 Personel TNI Jaga Perdamaian

Selasa, 24 Feb 2026 19:40 WIB

Selasa, 24 Feb 2026 19:40 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya untuk berkontribusi aktif dalam menjaga stabilitas dan perdamaian global melalui…

SBY Pesan, Indonesia Jangan Lugu

SBY Pesan, Indonesia Jangan Lugu

Selasa, 24 Feb 2026 19:38 WIB

Selasa, 24 Feb 2026 19:38 WIB

Sejarah Perang Dunia II, Indonesia Tidak Terlibat Langsung Perang tapi Tetap Terdampak   SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Presiden RI ke-6 Susilo Bambang …

Yaqut Klaim Pembagian Kuota Jaga Keselamatan Jemaah

Yaqut Klaim Pembagian Kuota Jaga Keselamatan Jemaah

Selasa, 24 Feb 2026 19:36 WIB

Selasa, 24 Feb 2026 19:36 WIB

Sidang Praperadilannya Dikawal Puluhan Banser. KPK tak Hadir, Ditunda 3 Maret      SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Eks Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas atau Gu…

Jaksa Tuding Penjualan Laptop Chromebook era Nadiem, Kayak Sedekah

Jaksa Tuding Penjualan Laptop Chromebook era Nadiem, Kayak Sedekah

Selasa, 24 Feb 2026 19:34 WIB

Selasa, 24 Feb 2026 19:34 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Jaksa Penuntut Umum (JPU) heran dengan harga jual laptop Chromebook dari PT Hewlett-Packard Indonesia (HP) lebih murah daripada…

KPK Bahas Mitigasi Potensi Risiko Korupsi Program MBG dan Kopdes

KPK Bahas Mitigasi Potensi Risiko Korupsi Program MBG dan Kopdes

Selasa, 24 Feb 2026 19:33 WIB

Selasa, 24 Feb 2026 19:33 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Mitigasi potensi risiko korupsi pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih, mulai dibahas Tim…