Ekalaya dan Bandung Bondowoso di Pilgub

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Adalah Bambang Ekalaya atau Prabu Palgunadi. Begitu inginnya dia menjadi pemanah nomor satu di kolong langit ini. Dalam keyakinannya, hanya Guru Drona lah satu-satunya orang yang sanggup mendidiknya menjadi pemanah terbaik. Sayang seribu kali sayang Guru Drona menampik Ekalaya menjadi muridnya. Drona sudah telanjur bersumpah hanya akan menjadi guru bagi Pandawa dan Kurawa. Meski kecewa dengan penolakan Drona, Ekalaya sama sekali tak patah arang. Di sebuah goa, dia membuat patung Drona, dan dengan segenap kegigihan dan keyakinan tanpa kenal waktu dia melatih diri, sendiri, di hadapan patung Drona yang dibayangkan benar-benar tengah menungguinya berlatih. Kerana kemauan keras, keyakinan dan bakatnya Ekalaya tidak butuh waktu lama menjelma menjadi ksatria pilih tanding, pemanah terbaik. Bahkan keahliannya memanah bisa melebihi kemahiran Arjuna, ksatria Pandawa murid terkasih guru Drona yang pada masa itu dianggap sebagai pemanah terbaik. Suatu hari ketika Ekalaya sedang berlatih memanah, seekor anjing berburu menggonggonginya. Karena dianggap mengganggu, diambilnya tujuh buah anak panah, dipasangnya pada busurnya, dan dengan sekali bidik, ketujuh anak panah itu melesat lalu menancap tepat ke moncong anjing itu. Tidak lama kemudian, datanglah pemilik anjing itu, Arjuna. Waktu itu Arjuna memang sedang berburu ditemani anjingnya. Ketika melihat anjingnya mati dengan tujuh buah anak panah menancap sekaligus di moncongnya, ia marah. Namun, selain marah Arjuna juga merasa keahliannya memanah kini tersaing oleh seseorang. Sebagai orang yang selama ini dikenal paling ahli memanah, Arjuna tidak sanggup membidik sasaran dengan sekaligus tujuh buah anak panah seperti yang dilakukan oleh pembunuh anjingnya. Karena itu dengan hati amat penasaran Arjuna mencari orang itu. Setelah berjumpa dengan orang, yang ternyata juga tak kalah tampan darinya, Arjuna mendapat keterangan bahwa si Pemanah bernama Ekalaya dari negeri Nisada. Ekalaya juga mengaku, keahliannya memanah didapat dari Guru Drona, yang dianggap sebagai gurunya. Hal ini membuat Arjuna kemudian menuduh, Guru Drona telah menyalahi janjinya untuk memberikan seluruh ilmunya hanya pada Arjuna. Untuk meyakinkan Arjuna bahwa Ekalaya bukan muridnya, Drona lalu menipu putra raja Paranggelung itu. Ekalaya disuruh memotong ibu jarinya sendiri, sebagai tanda bakti seorang murid pada gurunya. Pada ibu jari tangan kanan Ekalaya sejak lahir terpasang cincin Mustika Ampal pemberian dewa. Karena Ekalaya memang ingin sekali berbakti pada Resi Drona, permintaan itu dipenuhi. Ibu jari tangan kanannya dipotong dan diserahkan pada Drona. Namun dengan demikian sejak itu Ekalaya tidak dapat lagi memanah dengan baik. Sebagaimana kesaktian Poros Tengah di Pilgub Jatim yang sejatinya setanding dan sebanding dengan Poros GI dan Poros KIP. Sebagaimana cincin Mustika Ampal, Emil Dardak yang sempat digadang-gadang sebagai Cagubnya Poros Tengah dianggap akan membawa tuah yang akan bisa menandingi kesaktian Arjuna dan Karna, kesaktian GI dan KIP. Emil Dardak ibarat ibu jari bagi Poros Tengah dalam upayanya melepas anak panah, membidik hati pemilih di Jatim. Maka ketika ibu jari itu dipotong, sebagaimana Ekalaya, Poros Tengah seperti kehilangan kesaktiannya. Kehilangan tenaga untuk melepaskan anak panahnya. Jari-jari lain pun seperti mau lepas, sebagaimana mau lepasnya PKS menuju Poros GI dan mau lepasnya PAN menuju Poros KIP. Sementara sang urat nadi utama Gerindra menjadi kebingungan mencari pengganti Sang Mustika Ampal. Surat tugas yang diberikan pada La Nyalla M Mattalitti pun oleh banyak pihak dinilai sebagai setengah hati. Seperti yang diungkapkan oleh Redi Panuju, pengamat politik asal Unitomo. Karena syarat yang begitu berat dan terkesan muskil untuk bisa dipenuhi La Nyalla dengan waktu yang demikian singkat, hanya 10 hari. Membangun koalisi dengan partai lain dan menyiapkan kelengkapan pemenangan hanya dalam hitungan 10 hari adalah ibarat kerja Bandung Bondowoso menyiapkan seribu candi untuk Roro Jonggrang. Maha berat. Penuh potensi pengelabuan oleh berbagai pihak, sebagaimana pengelabuan yang dialami oleh Bandung Bondowoso meski sebenarnya dia mampu memenuhi persyaratan Roro Jonggrang, membangun seribu candi dalam satu malam. Membangun koalisi dan menyiapkan kelengkapan pemenangan hanya dalam waktu 10 hari dinilai beberapa pihak sebagai bentuk strategi Roro Jonggrang menolak Bandung Bondowoso dengan meminta sarat seribu candi dalam semalam. Bandung Bondowoso yang memang dikenal sakti dan pantang menyerah tak mundur sedikitpun dengan syarat muskil yang diajukan oleh Putri Ratu Baka itu. Dan dengan segenap potensi dan jaringannya ternyata menjelang malam berakhir Bandung Bondowoso telah menyelesaikan 999 candi. Kurang satu. Saat itulah dengan kelicikannya Jonggrang membakar tumpukan jerami, membuat ufuk membara terkesan pagi telah datang. Dan ayam jantan pun berkokok tanda Bandung Bondowoso gagal. Jika Ekalaya telah kehilangan ibu jari dan membuat musnahnya kesaktian, dan jika Bandung Bondowoso telah gagal, strategi apakah yang akan dilakukan Gerindra? Bisa jadi Gerindra tengah berupaya keras mencari cincin Mustika Ampal lain yang dianggap jauh lebih bertuah. Sehingga bisa menarik kembali jari-jarinya yang menjelang putus, PAN dan PKS kembali ke pangkuan Poros Tengah. Menjelma Ekalaya untuk menandingi Arjuna dan Karna. Tapi siapa dan dimana Mustika Ampal itu? Siapa yang layak dan berani menjadi Cagub Cawagub Poros Tengah, menjadi Ekalaya, untuk menandingi Poros Arjuna yang dibimbing Guru Drona dan Poros Karna yang dibimbing Guru Parasu Rama? Jika tidak ada, tidak menemukan, atau tidak ada yang sanggup kiranya apa yang akan dilakukan Gerindra? Apa yang akan dilakukan Ekalaya? Pilihannya memang sulit. Bisa saja Ekalaya kembali ke Paranggelung, mewarisi tahta ayahnya, menemani rakyat dan mengawasi pemenang diantara Arjuna vs Karna, menjaga sang pemenang agar tak lupa terhadap janji-janjinya kelak. Setia Bersama Rakyat. Atau bisa saja Gerindra Ekalaya berpihak pada salah satu diantara Arjuna atau Karna. Mendapatkan sedikit hadiah dan atau akses kekuasaan, tapi kehilangan marwah di mata rakyatnya karena hanya menjadi pendukung yang tidak berperan apa-apa. Menjadi pasukan hore yang syukur kalau diingat, dilupakan hampir pasti. Apalagi kalau sampai jago yang dibela sampai kalah. Atau memilih siapapun yang mau menjadi Ekalaya. Asal memiliki sekeranjang anak panah cukup sudah. Penting untuk tetap fight dan eksis dalam medan peperangan, meski pada akhirnya menemui nasib tragis seperti Ekalaya yang terbunuh oleh anak panah Arjuna. Atau justru sebaliknya tidak memilih ke semua itu. Tapi memilih menjadi penyelamat rakyat dari risiko yang mungkin muncul di tengah pertarungan dahsyat antara Poros Arjuna vs Poros Karna. Menyelamatkan tanah Arya dari perang kebencian, dari perang antar saudara yang mungkin saja akan berdarah-darah. Jadi, jalan mana yang hendak kau pilih wahai Ekalaya?!
Tag :

Berita Terbaru

Resmikan Landfill Mining TPA Ngipik, Bupati Gresik Dorong Transformasi Pengelolaan Sampah

Resmikan Landfill Mining TPA Ngipik, Bupati Gresik Dorong Transformasi Pengelolaan Sampah

Selasa, 24 Feb 2026 21:28 WIB

Selasa, 24 Feb 2026 21:28 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Gresik – Upaya serius mengatasi persoalan sampah terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Gresik. Salah satu langkah konkret diwujudkan melalui p…

Menlu Jelaskan 8.000 Personel TNI Jaga Perdamaian

Menlu Jelaskan 8.000 Personel TNI Jaga Perdamaian

Selasa, 24 Feb 2026 19:40 WIB

Selasa, 24 Feb 2026 19:40 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya untuk berkontribusi aktif dalam menjaga stabilitas dan perdamaian global melalui…

SBY Pesan, Indonesia Jangan Lugu

SBY Pesan, Indonesia Jangan Lugu

Selasa, 24 Feb 2026 19:38 WIB

Selasa, 24 Feb 2026 19:38 WIB

Sejarah Perang Dunia II, Indonesia Tidak Terlibat Langsung Perang tapi Tetap Terdampak   SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Presiden RI ke-6 Susilo Bambang …

Yaqut Klaim Pembagian Kuota Jaga Keselamatan Jemaah

Yaqut Klaim Pembagian Kuota Jaga Keselamatan Jemaah

Selasa, 24 Feb 2026 19:36 WIB

Selasa, 24 Feb 2026 19:36 WIB

Sidang Praperadilannya Dikawal Puluhan Banser. KPK tak Hadir, Ditunda 3 Maret      SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Eks Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas atau Gu…

Jaksa Tuding Penjualan Laptop Chromebook era Nadiem, Kayak Sedekah

Jaksa Tuding Penjualan Laptop Chromebook era Nadiem, Kayak Sedekah

Selasa, 24 Feb 2026 19:34 WIB

Selasa, 24 Feb 2026 19:34 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Jaksa Penuntut Umum (JPU) heran dengan harga jual laptop Chromebook dari PT Hewlett-Packard Indonesia (HP) lebih murah daripada…

KPK Bahas Mitigasi Potensi Risiko Korupsi Program MBG dan Kopdes

KPK Bahas Mitigasi Potensi Risiko Korupsi Program MBG dan Kopdes

Selasa, 24 Feb 2026 19:33 WIB

Selasa, 24 Feb 2026 19:33 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Mitigasi potensi risiko korupsi pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih, mulai dibahas Tim…