Nasib Kya Kya Kembang Jepun yang Dulu Jadi Ikon Su

Banyak Begal, Kini Bagai Kota Mati

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Saat dibuka pertama kali pada 31 Mei 2003, Kya Kya di Jalan Kembang Jepun digadang-gadang menjadi ‘Malioboro’-nya Surabaya. Apalagi peresmian dilakukan bertepatan dengan hari ulang tahun kota Surabaya, kala itu. Setelah 14 tahun berlalu, nasib Kya Kya benar-benar miris. Kini, suasana malam di sana tidak ubahnya bagai kota mati. Hanya ramai di siang hari karena kawasan perdagangan di kawasan Pecinan, tapi lumpuh ketika malam datang. -------------- Laporan : Firman Rachman, Editor : Ali Mahfud ---------- Sejak lama Kembang Jepun menjadi salah satu sentra perdagangan aktif. Toko-toko di sana didominasi milik warga keturunan Tionghoa, selain warga keturunan Arab dan penduduk lokal. Melihat potensi kewilayahan yang besar baik secara histori maupun geografis, Pemkot Surabaya menyulap Kembang Jepun menjadi Kya Kya yang menjadi ikon kota Surabaya. Kya-kya dibangun dengan konsep tempat kuliner dengan nuansa kampung pecinan berarsitektur China mutlak. Gemerlap lampu kuning dengan dominasi arsitektur bercorak merah seolah membawa kita ke negeri tirai bambu. Lautan manusia tertuju pada sentra kuliner yang dianggap terbesar saat itu. Perekonomian kerakyatan pun hidup. Tak hanya kuliner asli negeri China, para pedagang keturunan Arab, Madura, hingga penduduk asli Surabaya pun mendapat tempat di sentra wisata kuliner itu. Sepanjang 730 meter jalanan Kembang Jepun ditutup mulai pukul 18.00-03.00 WIB. Riuh pengunjung pun menjadi tontonan yang lumrah, kala itu. Tak hanya para pedagang saja. Tukang parkir, kebersihan hingga tukang becak turut mendapat berkah dari dibukanya Kya-Kya Kembang Jepun. Setidaknya itulah romantisme 14 tahun lalu. Bahkan usia Kya-Kya tak sepanjang harapan di awal kelahirannya. Tahun 2008, Kya-Kya resmi ditutup. Praktis hanya lima tahun usia sentra kuliner itu. Kini, Kya-Kya kembang Jepun bak kota mati di malam hari. Sembilan tahun berlalu. Dari ratusan pedagang, hanya tinggal sekitar empat pedagang kaki lima yang masih bertahan di tengah mati surinya Kembang Jepun. Diantaranya Ahong Food (chinese food) dan Sate Babi Gloria. Letak mereka pun sekitar 50 meter dari gerbang keluar di ujung jalan lokasi tersebut. Mingmi, salah seorang yang ditemui Surabaya Pagi, malam kemarin, menuturkan jika saat ini, Kembang Jepun begitu berbeda dengan apa yang ada pada beberapa tahun lalu. Semakin sepi dan rawan pelaku kejahatan yang berkeliaran. "Iya ini saya bantu usaha mama. Memang sudah lama di sini. Sejak belum ada Kya-Kya, usaha keluarga. Buaknya dari sore aja. Soalnya ini kan toko. Tunggu mereka tutup," cerita Mingmi. Cerita Mingmi soal sepinya jalanan Kembang Jepun tak ditampik Soleh. Juru parkir yang menggantungkan hidup dari bukanya empat warung kuliner itu. "Sampean kan lihat sendiri. Ini jalanan sudah kayak berhantu. Belum lagi kalau udah jam dua belas ke atas. Banyak yang kena jambret. Ini juga jadi lintasan begal mas," tutur Soleh. Praktis kini Kembang Jepun hanya "hidup" pada pagi hingga sore. Karena kawasan ini masih didominasi toko serta gudang barang rumah tangga hingga industri. Lewat pukul lima sore, jalanan ini lengang, tak terlihat lagi aktivitas perdagangan. n
Tag :

Berita Terbaru

Pansus BUMD DPRD Jatim Bakal Jalan-Jalan ke Luar Negeri Bulan Depan

Pansus BUMD DPRD Jatim Bakal Jalan-Jalan ke Luar Negeri Bulan Depan

Rabu, 25 Feb 2026 21:32 WIB

Rabu, 25 Feb 2026 21:32 WIB

Surabaya, Surabayapagi.com - Dokumen resmi hasil Rapat Badan Musyawarah (Banmus) tertanggal 23 Februari 2026, tercantum agenda kegiatan Perjalanan ke Luar…

Surabaya Raih Predikat Kota Terbaik Pertama dalam Pengelolaan Sampah se-Indonesia Tahun 2025

Surabaya Raih Predikat Kota Terbaik Pertama dalam Pengelolaan Sampah se-Indonesia Tahun 2025

Rabu, 25 Feb 2026 20:06 WIB

Rabu, 25 Feb 2026 20:06 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Kota Surabaya kembali menorehkan prestasi sebagai salah satu daerah dengan kinerja lingkungan terbaik di Indonesia. Berdasarkan…

Dorong Ekonomi Lokal, JConnect Ramadan Vaganza 2026 Resmi Dibuka di Balai Kota Surabaya

Dorong Ekonomi Lokal, JConnect Ramadan Vaganza 2026 Resmi Dibuka di Balai Kota Surabaya

Rabu, 25 Feb 2026 19:51 WIB

Rabu, 25 Feb 2026 19:51 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Halaman Balai Kota Surabaya kembali semarak dengan dibukanya gelaran JConnect Ramadan Vaganza 2026, Rabu (25/2). Event yang…

Hakim Khawatir Orang Atasnamakan Majelis

Hakim Khawatir Orang Atasnamakan Majelis

Rabu, 25 Feb 2026 19:40 WIB

Rabu, 25 Feb 2026 19:40 WIB

Jelang Vonis Kamis Hari Ini, dalam Perkara Dugaan Korupsi Minyak Mentah yang Rugikan Negara Rp 285 triliun      SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Hakim Ketua pe…

Tiga Partai dan Akademisi Setuju Batas Parlemen dihapus

Tiga Partai dan Akademisi Setuju Batas Parlemen dihapus

Rabu, 25 Feb 2026 19:37 WIB

Rabu, 25 Feb 2026 19:37 WIB

Hasil Pemilu 2024, Ada 50 juta hingga 60 juta Suara Rakyat Terbuang Sia-sia Akibat Parliamentary Threshold 4%     SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Putusan MK a…

Pasal Praktik Nepotisme Presiden atau Wapres, Digugat ke MK

Pasal Praktik Nepotisme Presiden atau Wapres, Digugat ke MK

Rabu, 25 Feb 2026 19:34 WIB

Rabu, 25 Feb 2026 19:34 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Pemohon sebagai pemilih berpotensi tidak memiliki kesempatan memilih calon presiden pilihan sendiri secara bebas jika ada keluarga…