Bukan Hanya Tukinem, Sosok Ini Juga Hampir Jadi Korban dalam Ritual di Tren

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
SURABAYAPAGI.com, TRENGGALEK - Penyidik PolresTrenggalek memeriksa tujuh saksi tambahan terkait tewasnya Tukinem (51) yang dipaksa menenggak air dari selang. Para saksi tambahan ini antara lain suami Tukinem, dan Kepala Dusun Jerukgulung, Desa Surenlor, Kecamatan Bendungan. Kasatreskrim Polres Trenggalek, AKP Sumi Andana mengatakan ada enam saksi tambahan yang diperiksa pada Rabu (7/3/2018). Menjelang sore, saksi bertambah satu, yaitu Riyanto, suami korban. “Kami berharap ada gambaran lebih lengkap apa sebenarnya yang terjadi.” “Kami ingin tahu apa yang mereka ketahui dari kejadian ini,” tutur Sumi kepada SURYAMALANG.COM. Pada tahap awal, penyidik sudah memeriksa 15 saksi. Tujuh dari 15 saksi itu sudah ditetapkan menjadi tersangka. Polisi melakukan oleh TKP lanjutan pada Selasa (6/3/2018) sore. Polisi mendapat 13 barang bukti tambahan, di antaranya kemenyan, sisir, cermin, kelapa muda, mukena, gayung, dan ember. “"Benda-benda itu dipakai untuk melakukan ritual,” terang Sumi. Penyidik juga telah melakukan prarekonstruksi. Prarekonstruksi dilakukan untuk memberi gambaran peristiwa secara lengkap, dan peran para tersangka. Sumi memastikan penyidikan berjalan cepat sehingga lekas bisa dilakukan rekonstruksi. “Mungkin kami sudah rekonstruksi pada pekan depan,” tegas Sumi. Hingga kini belum diketahui motif ritual yang menyebabkan kematian Tukinem, murni ritual atau ritual itu sebagai kamuflase. Dibantarkan Satu tersangka atas nama Rini Astuti dibantarkan. Rini adalah anak ke-2 Tukinem. Rini pula yang menjadi tersangka utama penyebab kematian Tukinem. Pembantaran dilakukan karena Rini menjalani pemeriksaan kondisi kejiwaan di RSUD dr Soedomo. Pembantaran ini tidak membuat masa penahanan Rini berkurang. Jika pemeriksaan kejiwaan selesai, Rini melanjutkan masa penahanannya. Sumi mengungkapkan butuh tujuh hari untuk melakukan observasi kejiwaan Rini. Nantinya seluruh tersangka akan menjalani pemeriksaan kejiwaan. “Lama-tidaknya pemeriksaan tergantung kondisi kejiwaan setiap tersangka.” “Namun kami sudah agendakan untuk memeriksakan kejiwaan mereka,” tandas Sumi. Nyaris Ada Korban Kedua Sebelumnya, polisi melepas delapan dari 15 saksi, karena tidak terlibat ritual yang mengakibatkan kematian Tukinem. Satu dari para saksi itu adalah Ag, keponakan Tukinem. Ag hampir saja menjadi korban seperti Tukinem. Kepada penyidik, Ag menuturkan saat itu Rini yang berinisiatif melakukan ritual. Ritual dilakukan untuk mengusir roh jahat. Saat itu Rini memerintahkan, semua ikut ritual mengguyurkan air ke kesekujur tubuh. “Semua seperti menuruti kemauan Rini. Tidak ada yang berani membantah,” ucap Ag. Saat itu Ag juga dipaksa untuk dirituali. Alasannya agar roh jahat di dalam tubuhnya keluar. Ag diminta tidur di atas tanah, kemudian disiram menggunakan air. Kondisi memburuk karena lokasi ritual itu penuh lumpur. Dalam posisi tengkurap, Ag disirami air sampai basah kuyub dan berlumuran lumpur. Ag juga sempat akan dimasuki selang ke dalam mulutnya. Namun, dia menolak. “Setelah itu saya bisa menjauh dari lokasi sehingga selamat,” ucapnya. Sebelumnya, keluarga besar Tukinem (51) di Dusun Jerukgulung, Desa Surenlor, Kecamatan Bedungan melakukan ritual penyembuhan sejak Jumat (2/3/2018) sampai Minggu (4/3/2018) pukul 04.00 WIB. Ritual dilakukan dengan menyembelih lima ayam dan memakannya dengan nasi kuning. Di tengah ritual, Tukinem mengeluh sakit perut dan sesak. Kemudian Rini berinisiatif melakukan ritual kepada Tukinem. Caranya dengan memasukkan satu ikan teri ke mulut Tukinem. Selajutnya mulut Tukinem dimasuki selang dengan air yang mengalir. Agar air tidak tumpah, mulut Tukinem disumpal menggunakan handuk. Para tersangka membantu dengan memegangi tubuh Tukinem agar tidak berontak. Ritual ini dilakukan selama 30 menit sampai Tukinem mati lemas. Dari hasil otopsi, rongga dada, paru-paru dan saluran nafas Tukinem penuh dengan air. Di bagia baru-baru saja ada 30 CC air. (sry/03)
Tag :

Berita Terbaru

19 Sekolah Muhammadiyah di Gresik Raih Penghargaan atas Kenaikan Jumlah Murid

19 Sekolah Muhammadiyah di Gresik Raih Penghargaan atas Kenaikan Jumlah Murid

Minggu, 05 Apr 2026 16:27 WIB

Minggu, 05 Apr 2026 16:27 WIB

SURABAYAPAGI.com, Gresik - Sebanyak 19 sekolah Muhammadiyah di Kabupaten Gresik menerima penghargaan atas keberhasilan meningkatkan jumlah peserta didik secara…

Daop 7 Madiun Catat Enam Gangguan Perjalanan KA Selama Angkutan Lebaran 2026

Daop 7 Madiun Catat Enam Gangguan Perjalanan KA Selama Angkutan Lebaran 2026

Minggu, 05 Apr 2026 15:00 WIB

Minggu, 05 Apr 2026 15:00 WIB

SURABAYAPAGI.com, Blitar - Selama masa Angkutan Lebaran 2026, PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 7 Madiun mencatat adanya enam kejadian gangguan…

Kurang Waspada! Motor dan Truk Adu Banteng, Pengendara Motor Tewas di TKP

Kurang Waspada! Motor dan Truk Adu Banteng, Pengendara Motor Tewas di TKP

Minggu, 05 Apr 2026 14:55 WIB

Minggu, 05 Apr 2026 14:55 WIB

SURABAYAPAGI.com, Blitar - Kecelakaan antara pengendara motor dan Truk Isuzu dengan adu banteng yang terjadi pada Minggu (5 April 2026) dini hari mengejutkan…

Kebijakan Pembatasan Belanja Pegawai 30 Persen dari APBD Akan Resmi Berlaku Tahun 2027

Kebijakan Pembatasan Belanja Pegawai 30 Persen dari APBD Akan Resmi Berlaku Tahun 2027

Minggu, 05 Apr 2026 14:23 WIB

Minggu, 05 Apr 2026 14:23 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Terkait kebijakan pembatasan belanja pegawai maksimal 30 persen dari APBD akan resmi diberlakukan tahun 2027. Dimana, postur APBD…

Usai Santap Nasi Berkat Tahlilan, Puluhan Korban Diduga Alami Keracunan Muntah-Diare

Usai Santap Nasi Berkat Tahlilan, Puluhan Korban Diduga Alami Keracunan Muntah-Diare

Minggu, 05 Apr 2026 14:14 WIB

Minggu, 05 Apr 2026 14:14 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Baru-baru ini viral, seusai menyantap nasi berkat tahlilan di Jalan Sido Kapasan Gang 10, Simokerto, Surabaya, sebanyak puluhan…

Warga Napis Bojonegoro Akhirnya Miliki Jembatan, Pasca Penantian Puluhan Tahun

Warga Napis Bojonegoro Akhirnya Miliki Jembatan, Pasca Penantian Puluhan Tahun

Minggu, 05 Apr 2026 14:06 WIB

Minggu, 05 Apr 2026 14:06 WIB

SURABAYAPAGI.com, Bojonegoro - Setelah menanti selama puluhan tahun, akhirnya kini warga di perbatasan Bojonegoro dan Ngawi bisa bernapas lega lantaran…