Pesan Ramadhan (6)

Hawa Nafsu Politisi

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Ketua GNPF Ulama Yusuf Martak, yang ikut dalam demo di Bawaslu, meminta Bawaslu menindaklanjuti temuan. Dalam aksi demo ‘’people power’’ Jumat (10/5/2019) kemarin, Yusuf Martak yang juga pendukung paslon 02, meminta Bawaslu, KPU, dan aparat agar benar-benar membuktikan Pilpres 2019 berjalan jurdil (jujur, dan adil). Yusuf Martak menyebut umat tak akan resah, gelisah, marah tatkala kejujuran sudah terbuka. Pertanyaan yamg nengusik ada apa seorang ulama ikut demo di bulan puasa terkait Pilpres 2019. Mengapa ia tidak menahan hawa nafsu, menunggu perhitungan rekapitulasi selesai dilakukan oleh KPU. Ada kesan demo-demo Pilpres pada bulan puasa, bisa menggambarkan peserta demo yang diantaranya menyebut dirinya ulama, seperti tidak menghormati makna bulan puasa. Apakah bagi politisi, demo mengurus kecurangan ke Bawaslu, disejajarkan dengan Jihad Hadapi kaum musyrikin? Saya bisa memahami hawa nafsu politisi yang demo-demo. Bisa jadi seperti watak sebagaian politisi yang kalah kontetasi. Mereka bisa menanggung malu saat kembali ke lingkungan masyarakat setelah tak terpilih sebagai wakil rakyat atau kalah dalam Pilpres.. Politisi demikian merasa was-was bila angkat kaki dari pusaran kekuasaan akan dilebeli politisi gagal. Psikiater Dame Jane Roberts dalam bukunya Losing Political Office mengatakan, tak mudah bagi politisi untuk kehilangan kekuasaan. Kalah, mundur, dan tak lagi berkuasa bagi politisi sama dengan kehilangan identitas yang bisa menyebabkan gangguan mental. Roberts yang mengutip kalimat Sigmon Freud mengatakan, kuasa bagi politisi adalah ide atau objek yang harus diperjuangkan dengan sepenuh hati. Selain kerja keras, politisi harus melakukan pengorbanan termasuk dalam kehidupan pribadi demi ambisi. Bisa jadi politisi yang kalah tak bisa membendung hawa nafsunya bahwa saat ini bulan Ramadan. Politisi seperti ini bisa mengabaikan hawa nafsunya setelah diketahui dirinya kehilangan kekuasaan. Tak salah Al-Ghazali, mengumpamakan nafsu itu seperti binatang buas atau kuda binal yang liar. Al Ghazali memiliki tiga cara mengendalikan hawa nafsu Pertama, mengekang atau mencegah keinginan (man’us syahwat). Kuda yang binal akan tak berdaya jika dikurangi makannya. Ini tentu saja hanya perumpamaan. Pointnya pada pengendalian diri. Politisi demo soal dugaan kecurangan pada saat bulan Ramadan, bisakah dianggap kehilangan pengendalian diri? Al Ghazali menyebut itulah manusia. Ghazali mengatakan, manusia kerap memprioritaskan keinginan meski sesungguhnya itu bukan kebutuhannya. Inilah sesungguhnya cikal bakal kerusakan yang terjadi pada diri manusia. Nafsu, karenanya, harus terlebih dahulu dikendalikan dengan cara mengekang keinginan. Kedua, dibebani dengan ibadah, karena keledai yang dibebani banyak dan dikurangi makannya, akan tunduk dan menurut. Ini juga tamsil atau perumpamaan. Makna kontekstualnya manusia perlu mentarget diri dengan sesuatu yang berguna, untuk kita sendiri maupun orang lain. Ketiga, meminta petunjuk kepada Tuhan. Memaknai ini sebagai bentuk kerendah-hatian manusia. Setelah berikhtiar kemudian tawakkal. Tuhan punya kuasa kepada manusia. Halo politisi, mengapa tidak menggunakan akal sehat ketimbang hawa nafsu demo. Mengingat, secara konstitusi, misal ada temuan kecurangan, mengapa tidak diserahkan ke Bawaslu dengan bukti-bukti kecurangan tanpa tekanan masa. *) Penulis adalah Pembelajar Agama Islam secara Otodidak
Tag :

Berita Terbaru

Kolaborasi The People’s Cafe dan Bu Rudy Angkat Kuliner Dengan Cita Rasa Local

Kolaborasi The People’s Cafe dan Bu Rudy Angkat Kuliner Dengan Cita Rasa Local

Jumat, 08 Mei 2026 15:49 WIB

Jumat, 08 Mei 2026 15:49 WIB

SurabayaPagi, Surabaya – Kolaborasi antara The People’s Cafe dan Bu Rudy menghadirkan sejumlah menu berbasis kuliner lokal yang kini tersedia di berbagai gerai …

Bongkar Kasus Joki UTBK, Ketua Komisi A DPRD Surabaya Apresiasi Langkah Cepat Polrestabes

Bongkar Kasus Joki UTBK, Ketua Komisi A DPRD Surabaya Apresiasi Langkah Cepat Polrestabes

Jumat, 08 Mei 2026 15:02 WIB

Jumat, 08 Mei 2026 15:02 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Ketua Komisi A DPRD Surabaya, Yona Bagus Widyatmoko, mengapresiasi langkah cepat Polrestabes Surabaya dalam mengungkap kasus joki…

Tidak Pulang Beberapa Hari, Remaja Putri 14 Tahun di Blitar Jadi Korban TPPO

Tidak Pulang Beberapa Hari, Remaja Putri 14 Tahun di Blitar Jadi Korban TPPO

Jumat, 08 Mei 2026 14:10 WIB

Jumat, 08 Mei 2026 14:10 WIB

SURABAYAPAGI.com, Blitar - Secepat kilat, Sat.Redkrim Polres Blitar bergerak ungkap dan tangkap yang dduga pelaku TPPO, atas laporan orang tua korban HSA 14…

Satpol PP dan Bea Cukai Gresik Bongkar Gudang Rokok Ilegal, Jutaan Batang Diamankan

Satpol PP dan Bea Cukai Gresik Bongkar Gudang Rokok Ilegal, Jutaan Batang Diamankan

Jumat, 08 Mei 2026 13:44 WIB

Jumat, 08 Mei 2026 13:44 WIB

SURABAYAPAGI.com, Gresik – Operasi gabungan Satpol PP Kabupaten Gresik bersama Bea Cukai Gresik berhasil mengungkap gudang penyimpanan rokok ilegal di sebuah r…

Mudahkan Masyarakat, Pemkot Madiun Fasilitasi 52 Jenis Layanan Terpusat di Mal Pelayanan Publik

Mudahkan Masyarakat, Pemkot Madiun Fasilitasi 52 Jenis Layanan Terpusat di Mal Pelayanan Publik

Jumat, 08 Mei 2026 12:46 WIB

Jumat, 08 Mei 2026 12:46 WIB

SURABAYAPAGI.com, Madiun - Sebagai sarana untuk memudahkan dalam pemberian layanan ke masyarakat, Pemerintah Kota (Pemkot) Madiun, Jawa Timur telah…

Bansos TPA Pojok Cair Pekan Depan Sebesar Rp 1,8 Juta, Penerima Bertambah Jadi 3.315 KK

Bansos TPA Pojok Cair Pekan Depan Sebesar Rp 1,8 Juta, Penerima Bertambah Jadi 3.315 KK

Jumat, 08 Mei 2026 12:06 WIB

Jumat, 08 Mei 2026 12:06 WIB

SURABAYAPAGI.com, Kediri - Pemerintah Kota Kediri memastikan bantuan sosial kompensasi dampak Tempat Pembuangan Akhir (TPA) bagi warga Kelurahan Pojok segera…