Terancam Mati, jika Pedagang tak Beradaptasi

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Satria Wicaksono, pengurus BPD Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Jatim, punya pandangan tersendiri terhadap dinamika Kembang Jepun sebagai pusat grosir di wilayah pecinan Surabaya. Menurutnya, kawasan Kembang Jepun yang selama ini dikenal sebagai pusat grosir bisa mati jika pedagang di sana tidak bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman. "Zaman sekarang kalau nggak bisa beradaptasi akan mati," ujar Satria Wicaksono kepadaSurabaya Pagi, kemarin (7/11) Ia berharap Pemkot Surabaya tidak tinggal diam. Sebab, pelaku usaha mikro dan menengah di Kembang Jepun sangat banyak. Dengan perkembangan teknologi saat ini dan berkembangnya toko-toko online, mestinya pedagang di Kembang Jepun bisa beradaptasi. Apalagi sekarang muncul pusat-pusat grosir baru di Surabaya, seperti Pasar Kapasan dan PGS. "Yang penting ada dukungan dari pemerintah (Pemkot Surabaya, red) tentunya," tandas Wicaksono. Sementara itu di lihat secara historis, Kembang Jepun sebagai wilayah Pecinan tak lepas dari kebijakan pemerintah kolonial kala itu. Bahkwa titik awal perkembangan Kota Surabaya justru ketika VOC berdaulat penuh atas kota ini. Itu terjadi sekitar abad ke-18, tepatnya 11 November 1743, setelah ada perjanjian antara Gubernur Jenderal Belanda van Imhoff dengan raja dari Mataram, yaitu Paku Buwono II. Pada masa awal perkembangan kota, Surabaya dibangun dengan pusat di sekitar kawasan Jembatan Merah—yang menghubungkan Jalan Kembang Jepun dan Jalan Rajawali. Fase perkembangan kota terbagi menjadi dua. Diawali dengan terbentuknya Kota Bawah, untuk kemudian disusul dengan Kota Atas. Kota Bawah Surabaya menjadi pusat kegiatan bangsa Belanda. Mereka membangun gedung-gedung pemerintahan, juga wilayah permukiman yang terbagi menjadi dua wilayah berdasarkan etnis di bawah ketentuan undang-undang Wijkenstelsel. Permukiman pertama adalah kampung orang-orang Eropa yang terletak di barat Jembatan Merah. Kedua adalah permukiman orang-orang Timur Asing (Vreande Oostrelingen), yaitu Tionghoa (Pecinan), Arab, dan pribumi. Sejak kepemimpinan Daendels pada 1811, pusat pemerintahan Surabaya berpusat di kawasan Jembatan Merah. Kembang Jepun—tempat adanya Kampung Pecinan dan berada tidak jauh dari Jembatan Merah, Sungai Kali Mas, dan Pelabuhan Tanjung Perak—menjadi kawasan strategis untuk melangsungkan aktivitas bisnis. Alhasil, kawasan Kembang Jepun berkembang menjadi pusat perdagangan dan hiburan satu-satunya di Surabaya kala itu. Bahkan, menjadi kawasan tersibuk. Perkembangan Surabaya semakin pesat setelah penghapusan Cultuurstelsel pada 1870. Tidak hanya berpusat di sekitar Jembatan Merah, bangsa Belanda mulai membangun kantor-kantor perdagangan dan permukiman ke arah selatan Surabaya. Kota Atas lahir. Kota Atas bertumbuh di sepanjang tembok kota Kota Bawah yang pada abad 19 dirobohkan, dengan pusatnya adalah kawasan Balai Kota. Jalan ini sebetulnya baru akrab disebut Kembang Jepun pada masa kolonial Jepang. Banyak serdadu Jepang (Jepun) yang punya teman-teman perempuan (kembang) di daerah ini.n
Tag :

Berita Terbaru

Balai POM Bima Perkuat Peran Kader Sekolah dalam Mewujudkan Budaya Keamanan Pangan

Balai POM Bima Perkuat Peran Kader Sekolah dalam Mewujudkan Budaya Keamanan Pangan

Jumat, 08 Mei 2026 07:40 WIB

Jumat, 08 Mei 2026 07:40 WIB

SURABAYAPAGI.com, Bima -  Balai POM di Bima, Nusa Tenggara Barat kembali mempertegas komitmennya dalam menciptakan ekosistem sekolah yang sehat dan mandiri. …

Aturan Baru SPMB di Jember, Dispendik Tekankan Sistem Transparan Anti Curang

Aturan Baru SPMB di Jember, Dispendik Tekankan Sistem Transparan Anti Curang

Jumat, 08 Mei 2026 05:20 WIB

Jumat, 08 Mei 2026 05:20 WIB

SURABAYAPAGI.COM : Pemerintah Kabupaten Jember melalui Dinas Pendidikan Kabupaten Jember menggelar sosialisasi Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran…

Bos Blueray Cargo, Didakwa Suap Pejabat BC Rp 61 Miliar

Bos Blueray Cargo, Didakwa Suap Pejabat BC Rp 61 Miliar

Jumat, 08 Mei 2026 05:15 WIB

Jumat, 08 Mei 2026 05:15 WIB

SURABAYAPAGI.COM : Pimpinan Blueray Cargo (Grup), John Field, didakwa menyuap sejumlah pejabat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dengan uang sejumlah Rp61 …

Kereta Cepat di Makkah

Kereta Cepat di Makkah

Jumat, 08 Mei 2026 05:10 WIB

Jumat, 08 Mei 2026 05:10 WIB

Minggu ini, ribuan jemaah haji Indonesia telah tiba dan berkumpul di Makkah dari Madinah untuk melaksanakan umrah wajib dan menanti puncak haji. Sudah sekitar…

Tersangka Dugaan Pemerkosaan Santriwati, Ditangkap di Rumah Juru Kunci Petilasan

Tersangka Dugaan Pemerkosaan Santriwati, Ditangkap di Rumah Juru Kunci Petilasan

Jumat, 08 Mei 2026 05:10 WIB

Jumat, 08 Mei 2026 05:10 WIB

SURABAYAPAGI.COM : Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Tengah (Jateng), Kombes Muhammad Anwar Nasir, mengatakan AS ditangkap Kamis pagi pukul 04.45 WIB…

Urus Dokumen di Era Bupati Gus Fawait, Warga Desa Cukup Datangi MPP Mini

Urus Dokumen di Era Bupati Gus Fawait, Warga Desa Cukup Datangi MPP Mini

Jumat, 08 Mei 2026 05:09 WIB

Jumat, 08 Mei 2026 05:09 WIB

SURABAYAPAGI.COM : Pemerintah Kabupaten Jember terus melakukan terobosan untuk mendekatkan layanan publik kepada masyarakat di wilayah pinggiran. Di bawah…