SURABAYAPAGI.com, Sidoarjo – Keberadaan warung kopi (warkop) berfasilitas karaoke di wilayah Ex Tol HK, Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo semakin marak, terutama warkop berkedok jualan kopi dan sempol dengan penjaga warkop yang berpakaian tidak pantas, dikeluhkan warga Dukuhsari maupun warga Kedung Cangkring Jabon yang dikenal sebagai basis santri.
Seorang guru yang merupakan warga Desa Dukuhsari mengaku miris setiap kali melintasi kawasan Ex Tol HK pada malam hari.
Keluhannya disampaikan kepada Wartawan Harian Surabaya Pagi pada Jumat (26/6/2026) sore. Merasa miris karena semakin bertambahnya tempat karaoke mulai dari sebelah utara Ex Tol hingga ke arah selatan di Dusun Bayung Panggreh, di mana kanan-kiri jalan dipenuhi tempat karaoke yang menyajikan hingar-bingar musik dan wanita pemandu lagu.
Kondisi yang lebih mencolok berada di warkop sebelah utara jembatan Ex Tol HK. Para wanita penjaga warkop di wilayah tersebut berpakaian kurang sopan, bermake-up tebal, dan merokok saat melayani pelanggan. Diduga mereka "bukan hanya berkedok jualan kopi", tapi ada sesuatu yang perlu ditelusuri keberadaannya. Satu warkop dijaga tiga sampai empat orang wanita berusia muda bahkan masih belia dengan tampilan yang mencolok.
Ternyata yang dikeluhkan seorang guru tadi benar adanya. Wartawan Harian Surabaya Pagi langsung merekam kondisi di lapangan pada Sabtu (27/6/2026) malam.
Belasan anak perempuan diduga berusia di bawah umur 17 tahun, didapati bekerja sebagai pelayan hingga pemandu lagu di warung remang-remang serta kafe yang ada di ex tol HK wilayah Jabon. Kondisi tersebut langsung mendapat sorotan tajam dari DPRD Sidoarjo, khususnya Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Menurut Wakil Ketua DPRD Fraksi PKB Kabupaten Sidoarjo, Muhammad Rojik, pihaknya mendapatkan informasi bahwa para gadis belia usia sekolah yang dipekerjakan di warung remang-remang itu berbusana kurang sopan sehingga terkesan seperti perempuan nakal.
“Per hari ini, kami mendapat banyak pengaduan dan laporan dari masyarakat yang melihat terutama di tol HK, anak-anak perempuan di bawah umur itu, melayani para pembeli dengan pakaian seronok. Sehingga muncul stigma negatif,” tutur Rojik, Jum’at (26/6/2026).
Bahkan, lanjutnya, pelayanan yang diberikan tidak sekadar menjual makanan dan minuman, namun diduga sudah menjurus pada transaksi obat-obatan terlarang dan seks bebas. Rojik menduga pergaulan bebas di warung remang-remang hingga kafe itu berpotensi terjadinya penularan HIV. Data Dinkes Sidoarjo, jumlah Orang dengan HIV (ODHIV) di Jabon mencapai 165 jiwa.
"Akibat fenomena ini, rata-rata di tiap desa di wilayah Jabon selalu ada yang menjadi korban obat terlarang," pungkas Muhammad Rojik. Hik/Dia
Editor : Redaksi