Ini Alasan MSA, Tak Penuhi Panggilan Penyidik: ’Fokus Rawat Ayah Yang Sakit

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Surabaya Pagi, Surabaya Tarik ulur pemeriksaan anak salah satu Kiai Besar di Jombang, MSA yang diduga melakukan pencabulan pada santriwatinya tak kunjung memenuhi panggilan polisi. Pasalnya, MSA memiliki alasan khusus. Salah satu juru bicara keluarga yang juga menjadi Sekjen DPP Organisasi Shiddiqiyyah (ORSHID), Ummul Choironi mengatakan MSA telah mengetahui ada ’permainan’ sejumlah pihak dari kasus ini. Untuk itu, MSA enggan menghadiri panggilan polisi. Selain itu, MSA juga masih fokus merawat ayahnya yang sakit. "Kita kemarin kita biarkan berkembang seperti itu (dugaan pencabulan) karena kita sudah tahu yang sebenarnya. Pada waktu itu pun kami fokus pada waktu itu Bapak Kiai kondisinya sedang jatuh sakit, jatuh sampai patah tulang," kata Ummul di Surabaya, Selasa (28/1/2020). "Nah itu yang merawat MSA. Ini yang membuat kenapa dipanggil dua kali MSA tidak menghadiri panggilan karena kondisinya sedang sulit. Beliau kan waktu itu hampir sebulan penuh merawat bed rest. Beliau tidak operasi karena usianya sudah sepuh 90 tahun lebih," imbuhnya. Selain itu, kasus hukum MSA ini dinilai Ummul terlalu terburu-buru. Polisi disebut langsung melakukan penetapan tersangka, tanpa meminta keterangan dari terduga pelaku. **foto** Bahkan, Ummul menyebut ada pihak-pihak yang sengaja membuat laporan berisi fitnah pencabulan agar MSA dibui. "Di sisi lain kita melihat dalam panggilan yang dibuat kepolisian ada hal yang tidak sesuai dengan aturan yang berlaku. Karena MSA belum disidik, artinya keterangannya belum dimintai tetapi statusnya di dalam SPDP statusnya sudah tersangka. Secara hukum ini tidak tepat. Karena itu MSA tidak mau menghadiri panggilan kepolisian karena kita melihat ada permainan untuk menjebak dari MSA supaya yang penting bagaimana caranya bisa dipenjarakan," paparnya. Untuk itu, Ummul menyebut adanya permainan ini lah yang membuat MSA merasa tak ingin datang hingga terperosok terlampau jauh. "Karena mungkin dari MSA sendiri sudah melihat ada permainan di internal kepolisian yang itu tadi, yang memaksakan," lanjutnya. Di kesempatan yang sama, juru bicara keluarga MSA, Nugroho Harijanto menambahkan jika MSA tidak merasa melakukan perbuatan pencabulan. Untuk itu, dirinya enggan datang ke Polda dan memberikan pernyataan. "Jadi, MSA merasa saya ini tidak melakukan tapi kok surat panggilan sebagai tersangka itu juga mempengaruhi jadi dia merasa difitnah dan semua memberikan pernyataan seperti itu. MSA merasa tidak melakukan, ya tidak mau. Di samping orang tuanya sedang sakit MSA juga merasa seperti itu merasa terdzolimi,"tegasnya. Sementara itu, penyidik Renakta Ditreskrimum Polda Jatim telah mengeluarkan surat pencekalan terhadap tersangka MSA. Pasalnya, untuk membatasi gerak tersangka agar tidak bepergian ke luar negeri yang bisa menghambat jalannya proses penyidikan. Sedangkan penyidik sendiri telah memberi kesempatan kepada MSA waktu 1 minggu untuk memenuhi panggilan ke 2, dengan pertimbangan diberi waktu 1 Minggu agar supaya MSA punya waktu yang cukup untuk mempersiapkan diri memenuhi panggilan ke 2, untuk diambil keterangan. Dan pada Selasa (28/1/2020) ada seseorang yang mengaku suruhan tersangka MSA mendatang Penyidik Renakta, untuk minta diundur pemeriksaannya dengan alasan, yang tidak bisa dituruti oleh Penyidik permintaannya. "Yang jelas, hingga saat ini MSA belum hadir tanpa alasan yang jelas, maka langkah selanjutnya Penyidik akan mempersiapkan tindakan kepolisian selanjutnya, berupa upaya paksa sesuai ketentuan yang yang berlaku,"tegas Dirreskrimum Polda Jatim Kombes Pol. Pitra Andreas Ratulangi (28/1/2020).nt
Tag :

Berita Terbaru

Jalan Sehat Diwarnai Kendala, Pemprov Jatim Akui Distribusi Kupon Belum Optimal

Jalan Sehat Diwarnai Kendala, Pemprov Jatim Akui Distribusi Kupon Belum Optimal

Selasa, 16 Jun 2026 20:14 WIB

Selasa, 16 Jun 2026 20:14 WIB

SurabayaPagi, Surabaya – Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas ketidaknyamanan dalam pelaksanaan Jalan Sehat 1 M…

MPR RI Minta Dana Tambahan Rp 945 Miliar

MPR RI Minta Dana Tambahan Rp 945 Miliar

Selasa, 16 Jun 2026 19:29 WIB

Selasa, 16 Jun 2026 19:29 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Sekjen Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Jenderal MPR RI Siti Fauziah dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XIII DPR RI, di…

Mahasiswa UGM: Jangan Anggap Kritik Sebagai Gangguan

Mahasiswa UGM: Jangan Anggap Kritik Sebagai Gangguan

Selasa, 16 Jun 2026 19:26 WIB

Selasa, 16 Jun 2026 19:26 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Menteri ATR/BPN Nusron Wahid buka suara mengenai kejadian acara diskusi di Universitas Gadjah Mada (UGM) berujung digeruduk…

PDIP Jadikan Jokowi Studi Kasus Kekuasaan dan Ambisi

PDIP Jadikan Jokowi Studi Kasus Kekuasaan dan Ambisi

Selasa, 16 Jun 2026 19:25 WIB

Selasa, 16 Jun 2026 19:25 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Ketua DPP PDIP Deddy Sitorus menyebut partainya tak akan melupakan Jokowi dan menjadikannya sebagai bahan pembelajaran di internal…

Buron Korupsi Rp 10,1 Triliun Eddy Tanzil, Sisakan 51,6 Miliar

Buron Korupsi Rp 10,1 Triliun Eddy Tanzil, Sisakan 51,6 Miliar

Selasa, 16 Jun 2026 19:21 WIB

Selasa, 16 Jun 2026 19:21 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Kini, aset terpidana kasus korupsi sekaligus buron legendaris dari tahun 1996, Eddy Tansil senilai Rp 51.682.537.000 (51,6…

Damai elektronik, AS-Iran

Damai elektronik, AS-Iran

Selasa, 16 Jun 2026 19:19 WIB

Selasa, 16 Jun 2026 19:19 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Para pejabat AS mengatakan kepada Reuters dan AFP bahwa kesepakatan damai diteken secara elektronik oleh Trump, Wakil Presiden AS…