SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Ramadan 2020 tahun ini memang berbeda seperti ramadan di tahun-tahun sebelumnya. Ramadan bersamaan dengan masuknya pandemi virus Corona (Covid-19) di Indonesia. Pemerintah Pusat menginstruksikan untuk tidak berkumpul sejak masuknya kasus pertama. Ditambah, diberlakukannya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Surabaya. Ini berdampak pada beberapa tempat yang identik dengan religi, seperti di kawasan Ampel Surabaya. Hingga hari ke-11 PSBB, kawasan wisata religi Ampel masih kembang kempis alias ngos-ngosan dari serbuan para pemburu ‘harta karun’ Timur Tengah seperti kurma, hingga baju muslim.
Seperti dari pantauan wartawan Surabaya Pagi, Jumat (8/5/2020) siang kemarin di area Makam Sunan Ampel Surabaya. Kawasan yang selalu ramai di bulan Ramadhan dan usai Sholat Jumat ini, kini sepi.
Hal ini terlihat saat hendak masuk dan menyisir area Makam Sunan Ampel. Namun tidak sedikit pedagang maupun pengunjung dan penjaga masjid yang tidak menggunakan masker atau melakukan social distancing dengan baik.
Sebelum menuju ke masjid dan makan, Surabaya Pagi, melewati pedagang-pedagang di pasar Ampel. Tidak banyak pengunjung yang dapat maupun membeli dagangan yang mereka miliki.
Para penjual baju Koko, kurma, hingga pernak-pernik tidak dipadati pengunjung pada tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, nyaris sepi.
Seperti Wiji, salah satu penjual kurma di kawasan Makam Sunan Ampel yang mengaku mengalami penurunan omzet sejak masuknya virus Covid - 19 di Surabaya dan diiringi oleh peraturan pemerintah yang melarang untuk tidak berkumpul di keramaian hingga penetapan PSBB di Kota Surabaya.
"Tahun ini agak berbeda dari tahun sebelumnya mbak, sepi sekali. Sejak Corona itu masuk terus ada PSBB ini jadi sepi. Bisa dilihat dari masuk gang ini, jarang ada pengunjung sekarang. Saya kehilangan omzet hingga 50-60% jadinya, sehari juga maksimal laku nya cuma 3-5kg aja," Keluh Wiji saat ditemui di depan tokonya.
Meski sepi, Wiji tetap membuka dagangannya. Pasalnya, dagangan kurma yang ia sudah jalani lebih dari 10 tahun ini, sudah menjadi pencahariannya. “Bagaimana lagi. Meski sepi yah tetap harus buka,” tambahnya.
Masjid Ampel Dibatasi
Kemudoan, Surabaya Pagi menyusuri hingga masjid Ampel yang terletak berada di dalam para pedagang. Jumat siang kemarin, salah satu penjaga masjid, saat ditemui, terlihat sangat kesal dengan situasi saat ini dengan himbauan dari Pemerintah untuk menutup tempat ibadah sementara dan mewajibkan untuk melakukan ibadah dirumah.
Menurut penjaga masjid hal tersebut menjadi persoalan, sebab ia mempercayai bila cagar budaya seperti Makam Sunan Ampel dan Masjid Agung Sunan Ampel merupakan tempat ibadah yang wajib dipertahankan.
Ia juga menjelaskan bila pihak penjaga masjid telah melakukan protokol kesehatan sesuai dengan himbauan pemerintah, dengan adanya bilik sterilisasi, wajib mengenakan masker, dan menggunakan hand sanitizer ketika memasuki masjid.
Terapkan Protokol Kesehatan
"Sebelum disuruh blablabla atau PSBB itu, kita sudah menerapkan. Seluruh jamaah yang masuk harus lewat bilik, pakai masker, dan kita kasi hand sanitizer sebelum masuk masjid. Tapi kali masker dilepas didalam masjid kan itu bukan urusan saya lagi. Kita sudah usaha. Tapi kalau sampai masjid ini ditutup bisa kebakar semua orang ini mbak. Ya mbak nya taulah orang Surabaya Utara itu gimana. Sering kami didatangi polisi tapi saya tolak, saya tidak mau masjid ini tutup" tegasnya.
Penjaga masjid tersebut juga mengeluhkan bila menurutnya para pengunjung juga berimbas pada kota amal yang tersedia di kawasan Makam Sunan Ampel. "Ini sudah sepi sekali, sudah turun separuh jamaah yang kesini. Kalo sepi gini siapa yang mau tanggung nasib kami? Ini tidak ada bantuan dari pemerintah untuk tempat wisata ini mbak. Hasilnya kami jadi berkurang pendapatan dari kotak biru (kotak amal) itu. Cuma kotak biru itu yang bantu kita hidup. Nah ada banyak juga penjaga disini mau makan apa mbak?" Paparnya.
Tempat Ziarah Ditutup
Hampir sama dengan masjid Sunan Ampel. Saat Surabaya Pagi meneruskan penelusuran hingga makam Sunan Ampel. Di area Makam Sunan Ampel terlihat hanya beberapa pengunjung yang berziarah maupun makam telah ditutup.
Seperti Irma salah satu pengunjung yang berziarah menuturkan bila dirinya sering datang untuk sholat dan mendoakan makam kyai maupun Sunan Ampel Sendiri.
"Saya sering kesini, karena saya kost didekat sini. Saya kalau kesini juga untuk sholat saja, ya sekalian saya ziarah gitu. Saya pengennya jangan sampai masjid ditutup, nanti saya sholat dimana? Kost saya sempit, ini kan masjidnya juga masuk di bagian wisata religi" ujarnya kepada Tim Surabaya Pagi.
Kini, selama pandemi Covid-19 ini, dari penjaga masjid Sunan Ampel, kawasan Ampel meski sepi, tetapi tetap bergeliat. “Meski kondisi kayak gini, sepi. Tetapi masih bergeliat. Masih ada yang datang. Tetapi, tolong, kami disini yang penjaga, juga dibantu,” harap penjaga makam yang juga penjaga masjid. byt/pat
Editor : Moch Ilham