Para Pedagang Lebih Pilih tak Berjualan Ketimbang Dirapid Tes dan Diisolasi
SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Pemerintah Kota Surabaya menggelar rapid test massal secara dadakan di beberapa pasar induk di Surabaya. Salah satunya, di Pasar Pabean Surabaya, akhir pekan kemarin, yakni Sabtu (25/7/2020). Ternyata yang terjaring test deteksi awal virus Corona itu pedagang pasar, kuli panggul, hingga para pembeli yang bertransaksi di Pasar Pabean. Namun, mereka yang reaktif rapid test langsung diisolasi di hotel. Ini yang membuat para pedagang ketakutan merasa “diteror”, sebab diantara mereka ada yang tahu bahwa rapid tes reaktif bukan pasien corona. Makanya, diantara mereka menilai aneh, rapid tes sebagai deteksi awal, tetapi sudah diisolasi di hotel. Meski ketakutan, para pedagang masih tetap beraktivitas seperti biasa, Minggu (26/7/2020).
Saat Surabaya Pagi meninjau lokasi pasar, Minggu (26/7/2020), didapati Pasar Pabean masih buka seperti biasa dan masih dipadati oleh para pengunjung. Terlihat masih terjadi aktifitas jual beli seperti hari-hari biasanya. Para pedagang masih melayani para pembeli, namun dari keramaian tersebut, masih tampak para pedangang, penjaga parkir, dan beberapa kuli panggul yang kesulitan menaati protokol kesehatan.
Hal ini disebabkan oleh ramainya aktifitas di Pasar Pabean. Walaupun kesulitan menerapkan protokol kesehatan, para pedagang, kuli panggul, dan pembeli masih menggunakan masker serta berusaha menerapkan protokol kesehatan yang telah di tetapkan.
Salah satu pedagang bawang yang enggan disebutkan namanya di Pasar Pabean mengaku bila dirinya ketakutan dengan diadakannya rapid test, sebab menurutnya ia dan beberapa pedagang yang lain dalam keadaan sehat.
"Jujur saya takut kalau harus dilakukan test seperti itu. Saya dan pedagang yang lain kan sehat-sehat saja. Mengapa harus di test? Semuanya sehat, kemarin kami dipaksa untuk ikut semua. Jadinya saya takut dipaksa test lagi," ungkap ibu pedagang bawang saat ditemui Surabaya Pagi, di Pasar Pabean, Minggu (26/7/2020).
Rapid Test Dadakan
Pedagang bawang tersebut mengaku bila lebih baik dirinya tidak berdagang ketimbang mengikuti rapid test yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Surabaya tersebut. "Besok kalau ada rapid test, lebih baik kami memilih kabur saja. Libur aja, mending tidak buka, daripada buka disuruh test-test begitu. Orang sehat kok di paksa test. Banyak yang takut, kalo kami di bawa gak biasa jualan gimana? Keluarga di rumah repot kalo kami gak ada," keluhnya.
Pedagang bawang tersebut juga menuturkan bila pada Senin (27/07/20) dan Selasa (28/07/20) akan kembali dilakukan test massal di wilayah Pasar Pabean. "Ada test lagi. Kemarin di pasar ikan. Besok (hari ini, red) Senin di pasar sayur, Selasa di pasar kain-kainnya," terangnya.
Senada dengan hal tersebut, Kholis salah satu pedagang ikan di Pasar Pabean mengaku telah mengikuti test massal yang dilakukan oleh Pemkot Surabaya. Ia mengatakan bila hanya sedikit dari keseluruhan pedagang yang mengikuti test massal. "Saya Sabtu kemarin ikut rapid test, sebetulnya takut tapi berusaha untuk memberanikan diri saja, untungnya hasilnya non reaktif. Tapi banyak juga pedagang yang tidak ikut. Mereka memilih kabur karena takut di rapid test, alasannya karena banyak pedagang dan pembeli mau mudik ke Madura, yang ikut juga sedikit cuma 400 orang saja" terangnya.
Kholis juga menuturkan bila desas-desus yang berada di Pasar Pabean bahwa akan di adakannya test massal kembali, namun tidak terlihat tenda yang didirikan oleh Pemkot Surabaya. "Harusnya ada tenda kalau ada test massal lagi, tenda yang kemarin sudah di ambil. Otomatis nggak ada test lagi" ujarnya.
Rapid tak Perlu Diisolasi
Terpisah, Ketua Satgas Covid IDI Surabaya, dr. Musofa Rusli menuturkan bila hasil rapid test saja tidak bisa memberikan informasi yang cukup. "Saya kurang tahu tentang rapid di pasar Pabean. Tapi sebaiknya dikaji dikaitkan dengan aturan yang berlaku saat ini. Kalo hasil reaktif sebaiknya segera dilakukan swab untuk konfirmasi. Karena dari hasil rapid saja, tidak bisa memberi informasi yang cukup untuk kita harus bertindak apa selanjutnya," tuturnya.
Bahkan, tambah Musofa Rusli, Kementrian Kesehatan menerbitkan Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease yang menerangkan bila penggunaan rapid test tidak digunakan untuk diagnostic dan tak perlu dilakukan untu isolasi.
Rapid test hanya dapat digunakan untuk skrining pada populasi spesifik dan situasi khusus. WHO juga merekomendasikan penggunaan rapid test untuk tujuan penelitian epidemilogi atau penelitian lain. Penggunaan rapid test selanjutnya dapat diikuti perkembangan teknologi terkini dan rekomendasi WHO.
Dari panduan tersebut rupanya menjadi pedoman oleh Pemkot Surabaya untuk melakukan skrining di pasar tradisional yang cukup ramai di Kota Surabaya.
Sasar Pasar di Surabaya
Kepala Satpol PP Eddy Christijanto mengatakan bahwa total, sebanyak 347 orang yang di rapid test di Pasar Pabean, yang terdiri dari pedagang ikan di Pasar Pabean dan di Jalan Panggung, pengunjung serta supplier ikan yang sedang mengirim ikan basah. “Hasilnya, dari 347 orang tersebut, 47 orang hasil rapid test-nya adalah reaktif. Mereka yang dinyatakan reaktif langsung dilakukan swab test. Mereka yang reaktif kan belum tentu positif covid-19. Tetapi sementara ini mereka diinapkan di hotel untuk isolasi sambil menunggu hasil swab keluar,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bila rapid test disertai swab, merupakan tindak-lanjut dari kegiatan di Pasar Keputran Utara dan Pasar Keputran Selatan. Edy menjelaskan bila Pemkot Surabaya sedang gencar untuk menekan potensi penyebaran covid-19. Salah satu sasarannya adalah pasar-pasar tradisional. Nampaknya upaya untuk menekan potensi persebaran virus Covid - 19 masih akan terus berlanjut. Selain di Pasar Keputran Utara, Pasar Keputran Selatan dan Pasar Pabean, rapid test dan swab test sangat memungkinkan dilakukan di pasar tradisional yang lain.
Eddy menegaskan bila warga harus patuh memakai masker, sering melakukam cuci tangan memakai sabun dan air mengalir, serta saling menjaga jarak diamana pun berada. “Untuk kegiatan dilakukan sekitar tiga jam mulai pukul 13.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB dan dilaksanakan di sisi Kalimas yang berseberangan dengan Jembatan Merah Plasa,” tegasnya.
Eddy juga mengungkapkan bila para personel yang terdiri dari Satpol PP, BPB Linmas, tenaga medis dari Dinas Kesehatan, TNI serta kepolisian ini langsung berpencar.
Mereka bertugas untuk menutup seluruh akses masuk dan keluar dari kawasan itu. Hasilnya, banyak orang yang ingin menghindar berusaha pergi. Tetapi mereka tidak bisa ke mana-mana karena akses jalan sudah ditutup.
Sementara itu, Kepala Pasar Pabean Mustajab Ali Munir mengatakan bila sasaran rapid test dan swab test adalah pedagang ikan, pedagang ikan di Pasar Pabean sekitar 150 orang. “Dari pendataan kami, dari pedagang Pasar Pabean yang di-rapid test, lima yang hasilnya reaktif,” pungkasnya.
Pasar Keputran Utara Buka Lagi
Pasar Keputran Utara dibuka lagi, Minggu (26/7/2020), setelah hampir sepekan ditutup setelah ditemukan 37 orang positif Covid-19. Pasar Keputran Utara resmi dibuka Minggu sore pukul 15.00 WIB, yang sebelumnya diawali apel pada pukul 14.00 WIB.
Irvan Widyanto Kepala BPB Linmas Kota Surabaya menjelaskan, dibukanya lagi Pasar Keputran Utara hari ini karena pembersihan sudah tuntas dilakukan.
“Pembersihan sudah dilakukan. Penyemprotan disinfektan juga sudah dilakukan. Kemudian pembersihan di dalam area pasar dan saluran-saluran sudah kita lakukan dan Dirut PD Pasar juga para pedagang juga sudah melakukan kerja bakti. Intinya untuk kenyamanan pedagang dan pembeli,” ujar Irvan pada Minggu (26/7/2020).
Selain pembersihan dan penataan, Irvan menambahkan, di pasar ini juga sudah dibentuk gugus tugas untuk penerapan protokol kesehatan di pasar. byt/pat/by/cr4/rmc
Editor : Moch Ilham