SURABAYAPAGI, Surabaya - Pemerintah Kota Surabaya telah meresmikan plaza atas Alun-alun Surabaya yang berada di Kompleks Balai Pemuda, Jalan Gubernur Suryo, pada Senin lalu (17/08/2020).
Kompleks Alun-alun Surabaya tersebut, rencananya akan difungsikan sebagai wadah kegiatan para penggiat seni dan budaya di Kota Pahlawan.
Tidak hanya itu, konsep bangunan Alun-alun Surabaya ini tak hanya berfungsi untuk wadah pertunjukkan kesenian. Namun, anak-anak Surabaya yang ingin mengembangkan bakat dan minat di bidang kesenian dapat memanfaatkan bangunan tersebut.
Apalagi, kompleks Balai Pemuda ini juga dilengkapi dengan Gedung Balai Budaya, Perpustakaan, Rumah Bahasa dan Matematika.
Di kompleks Balai Pemuda sendiri, juga terdapat Gedung Merah Putih, Ruang Dewan Kesenian Surabaya, Masjid As Sakinah, Kantor DPRD Kota Surabaya, Tourism Information Center, Perpustakaan Surabaya, Teater Balai Pemuda, dan Rumah Bahasa.
Alun-Alun Kota Surabaya ini juga memuat maximal 200 pengunjung setiap harinya. Hal ini terlihat dari antrian pengunjung yang masuk ke parkiran besment kompleks Balai Pemuda Surabaya.
Para pengunjung nampaknya juga tidak perlu mengantri untuk mencuci tangan, sebab tersedia sebanyak 12 spot tempat cuci tangan di area plaza atas Alun-Alun.
Tidak hanya itu, di lantai plaza atas Alun-Alun terdapat banyak sekali tanda atau garis merah sebagai tanda untuk berjaga jarak di area tersebut.
Pantauan Surabaya Pagi pad Minggu (23/08/20) di kompleks Balai Pemuda, para pengunjung lebih memilih untuk memadati plaza atas Alun-alun Surabaya.
Hal ini terlihat, bahwa setiap pengunjung yang hadir rata-rata datang dengan memboyong keluarga. Namun tidak nampak aktifitas yang berlebihan, para pengunjung yang hadir kebanyakan memilih untuk mengabadikan gambar dengan melakukan selfie.
Bahkan, setiap 5 menit sekali terdengar suara petugas yang berjaga dari jajaran Linmas maupun Dishub yang mengingatkan para pengunjung untuk menggunakan masker menggunakan speaker ataupun memberikan teguran kepada pengunjung.
Maulana, warga Rungkut yang datang bersama keluarga menuturkan bahwa, dirinya datang bersama keluarga untuk mengetahui hasil pembangunan dari alun-alun yang menurutnya menarik karena bisa menjadi spot foto yang baru bagi warga Surabaya.
"Belum tau awalnya lapangan Balai Pemuda itu apa, ketika sudah jadi cukup bagus sebagai tempat wisata yang baru. Saya ingin tahuBbalai Pemuda sekarang seperti apa, nah sekarang plaza nya lumayan buat spot foto," ungkapnya kepada Surabaya Pagi.
Disinggung soal pendapatnya mengenai acara pertunjukan seni yang sempat di gelar oleh Pemerintah Kota Surabaya, nampaknya Maulana juga was-was bila nantinya akan timbul klaster baru.
"Adanya pentas seni kemarin saya was-was, saya pikirnya kok bisa bikin acara seperti padahal masih pandemi. Mungkin kalau mau membuka atau membuat acara harus dipikir ulang atau di kaji terlebih dahulu supaya massa tidak menjadi titik kumpul yang padat," terangnya.
Senada dengan hal tersebut, Wawan warga Sawahan juga mengatakan bila Pemerintah Kota tidak melakukan antisipasi membludaknya pengunjung yang datang saat malam pertunjukan seni.
"Pemkot tidak mengantisipasi kerumunan, harusnya ada estimasi jumlah pengunjung.
Full pengunjung sampai luar, parkir mobil juga full, saya jadinya males karena udah kebanyakan orang. Jam 7 sudah banyak orang, petugas keamanan juga diam saja melihat para pengunjung yang meluber di luar yang tidak taat physical distancing," keluhnya.
Sebaliknya, Andre salah satu warga Wiyung menuturkan bila dirinya tidak ada masalah dengan pertunjukan seni yang di gelar oleh Pemerintah Kota Surabaya.
"Sebetulnya kita tidak bisa memungkiri bahwa Surabaya mempunyai Alun-alun baru, dan moment nya pas libur panjang dengan adanya pagelaran seni akibat dari kita ini jenuh dengan Covid, nah akhirnya masyarakat membludak semua" jelasnya.
Namun ia menyangkan bila pihak Pemerintah Kota Surabaya tidak menyangka bila akan terjadi lonjakan pengunjung yang besar.
"Pemkot mungkin harus memberikan pekerjaan untuk pelaku atau pekerja seni. Disatu sisi memang mengundang kluster baru, maka harus duduk bersama antara Pemkot dan pekerja seni untuk menemukan solusi," pungkasnya.Byt
Editor : Mariana Setiawati