Terus Bertambah, 33 Lansia Meninggal usai Divaksin Pfizer

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Svein Andersen, lansia dari Norwegia pertama yang disuntik vaksin Pfizer, di Oslo, Minggu (27/12/2020) lalu.  SP/getty images
Svein Andersen, lansia dari Norwegia pertama yang disuntik vaksin Pfizer, di Oslo, Minggu (27/12/2020) lalu.  SP/getty images

i

 

13 Orang Israel juga Alami Lumpuh Wajah

 

SURABAYAPAGI.COM, Oslo - Tercatat, ada 33 penghuni panti jompo di Norwegia yang meninggal usai disuntik vaksin Pfizer-BioNTech. Sebelumnya, jumlah lansia  yang wafat usai disuntik vaksin bikinan pasangan suami istri asal Jerman, Ugur Sahin dan Oezlem Tuereci ini, masih 29 orang. Namun meski korban jiwa berjatuhan, Badan Kesehatan Norwegia menjamin keamanan vaksin corona ini.

Melansir The New York Times, Senin (18/1/2021), Kepala Bidang Pengobatan Badan Kedokteran Norwegia, Dr. Steinar Madsen, menyatakan kematian puluhan penghuni panti jompo itu diperkirakan tidak berkaitan langsung dengan vaksinasi.

Menurut laporan, 33 penghuni panti jompo yang meninggal usai disuntik vaksin Covid-19 sempat mengalami sakit keras. Namun, sebagian dari mereka memang kondisi kesehatannya sudah menurun dan diperkirakan memang tidak lama lagi meninggal.

Menurut Madsen, efek samping vaksin yang umum terjadi saat pasien yang lanjut usia itu disuntik bisa mengakibatkan komplikasi berat. Akan tetapi, menurut dia bahaya infeksi Covid-19 jauh lebih besar ketimbang vaksinasi.

Sampai saat ini pakar kesehatan setempat dan pemerintah masih mempelajari kematian 33 penghuni panti jompo itu. Mereka berencana membahasnya dengan Badan Kedokteran Eropa pada pertemuan pekan ini.

Pemerintah Norwegia menyetujui penggunaan vaksin Pfizer-BioNTech untuk penggunaan darurat.

Pfizer-BioNTech lantas menyampaikan ucapan turut berduka cita terhadap keluarga yang ditinggalkan oleh 33 penghuni panti jompo yang meninggal usai vaksinasi.

Mereka menyatakan pemerintah Norwegia memprioritaskan vaksinasi terhadap para penghuni panti jompo, sebagian dari mereka bahkan sudah sangat sepuh dan memiliki penyakit bawaan lain. Bahkan ada yang sakit berat dan diperkirakan umurnya tidak akan lama.

Terkait kejadian itu, Institut Kesehatan Masyarakat Norwegia menyatakan tidak akan mengubah jadwal dan skema vaksinasi, yakni tetap mengutamakan penghuni panti jompo yang berusia di atas 85 tahun serta para tenaga kesehatan.

Akan tetapi, pada 11 Januari lalu mereka membuat pernyataan untuk lebih berhati-hati untuk memberikan vaksin terhadap para lansia yang kondisinya sudah sangat lemah.

Astrid Meland yang merupakan penulis di surat kabar nasional Norwegia, VG, meminta pemerintah Norwegia lebih terbuka dan memberikan gambaran utuh terkait kejadian itu. “Pemerintah Norwegia gagal mengkomunikasikan kejadian mengejutkan ini, dan aturan pemberian vaksin belum berubah," tulis Astrid.

"Sangat disayangkan berita ini beredar sangat cepat, dan meninggalkan kesan bahwa vaksin itu mematikan. Sayangnya kelompok yang tidak percaya vaksin tidak berminat menggunakan berita ini," lanjut Astrid. Saat ini tercatat ada 59 ribu kasus infeksi Covid-19 di Norwegia, dengan 520 orang meninggal.

 

Lumpuh Wajah

Nyaris sama dengan Norwegia, Israel juga merasakan efek dari Pfizer.  Sedikitnya,  13 warga Israel mengalami kelumpuhan wajah atau Bell's Palsy ringan dan sementara usai disuntik Pfizer.

Israel telah memulai vaksinasi Covid-19 dengan vaksin Pfizer pada 20 Desember lalu. Hingga kini lebih dari 2 juta warga Israel telah disuntik vaksin tersebut.

Kementerian Kesehatan Israel mengatakan hal itu terjadi akibat efek samping vaksin. Diperkirakan jumlah kejadian itu bisa jauh lebih tinggi. "Setidaknya selama 28 jam saya mengalami itu (kelumpuhan wajah)," kata salah satu orang yang mengalami efek samping tersebut kepada Ynet.

"Saya tidak bisa mengatakan itu benar-benar hilang setelahnya, tetapi selain itu saya tidak memiliki rasa sakit lain, kecuali rasa sakit kecil di tempat suntikan itu, tidak ada yang lebih dari itu," kata dia seperti dilaporkan Jerusalem Post, kemarin.

 

Suntikan Kedua

Pejabat kesehatan sempat mempertimbangkan untuk tidak memberikan dosis kedua untuk 13 orang tersebut. Namun Kementerian Kesehatan merekomendasikan agar dosis kedua tetap diberikan.

Kementerian Kesehatan meyakini dosis kedua tetap harus diberikan asalkan orang tersebut telah pulih dari kelumpuhan.

Sementara itu Direktur Unit Penyakit Menular di Sheba Medical Center Prof Galia Rahav mengaku ragu memberikan dosis kedua vaksin ke orang-orang yang mengalami efek samping itu. "Memang benar bisa diberikan sesuai dengan Kementerian Kesehatan, tapi saya merasa kurang nyaman."

Dia mengungkapkan bahwa tidak ada yang bisa memastikan apakah kelumpuhan ini terkait dengan vaksin atau tidak. "Itu sebabnya saya tidak akan memberikan dosis kedua kepada seseorang yang menderita kelumpuhan setelah dosis pertama."

Beberapa waktu lalu Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menunjukkan vaksin Covid-19 dari Pfizer-BioNTech dapat menyebabkan Bell's Palsy.

Temuan FDA mendapati dari 22 ribu partisipan penerima vaksin, empat di antaranya mengalami Bell's Palsy. Bell's Palsy adalah suatu kelainan yang ditandai dengan kelumpuhan sementara otot-otot wajah.

Salah satu penderita mengalami kelumpuhan otot-otot wajah sekitar tiga hari setelah penyuntikan. Keadaan kembali normal setelah tiga hari. Tiga orang lain mengalami kelumpuhan otot wajah setelah 9-48 hari pasca penyuntikan. Keluhan berangsur membaik setelah hari ke-10.

Dokter I Made Cock Wirawan menjelaskan penyebab pasti Bell's Palsy hingga saat ini juga belum diketahui. Namun, kelainan bisa sembuh dengan sendirinya. jk/ri/xin/ril

Berita Terbaru

Baru 49,25 Persen dari 116 Juta Wajib Pajak Kendaraan yang Patuh

Baru 49,25 Persen dari 116 Juta Wajib Pajak Kendaraan yang Patuh

Kamis, 29 Okt 2026 01:07 WIB

Kamis, 29 Okt 2026 01:07 WIB

SURABAYAPAGI.com - PT Jasa Raharja mencatat tingkat kepatuhan wajib pajak kendaraan bermotor, baru mencapai 49,25 persen hingga September 2026, dari total 116…

Rupiah Melemah ke Rp 18.184 per Dollar AS

Rupiah Melemah ke Rp 18.184 per Dollar AS

Kamis, 29 Okt 2026 01:05 WIB

Kamis, 29 Okt 2026 01:05 WIB

SURABAYAPAGI.com - Bank Indonesia (BI) mengungkapkan pelemahan nilai tukar rupiah dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik. Tekanan tersebut antara…

IHSG Ditutup Menguat Ikuti Bursa Saham Kawasan Asia

IHSG Ditutup Menguat Ikuti Bursa Saham Kawasan Asia

Kamis, 29 Okt 2026 01:02 WIB

Kamis, 29 Okt 2026 01:02 WIB

SURABAYAPAGI.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu sore ditutup naik mengikuti penguatan bursa saham kawasan Asia. IHSG…

Bahlil Peringatkan KKKS Segera Eksekusi Proyek Migas Mangkrak

Bahlil Peringatkan KKKS Segera Eksekusi Proyek Migas Mangkrak

Kamis, 29 Okt 2026 00:59 WIB

Kamis, 29 Okt 2026 00:59 WIB

SURABAYAPAGI.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia memberi peringatan keras kepada para Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS)…

Istri Tersangka Pembunuhan Ibu dan Anak di Madiun, Menangis Histeris

Istri Tersangka Pembunuhan Ibu dan Anak di Madiun, Menangis Histeris

Kamis, 29 Okt 2026 00:56 WIB

Kamis, 29 Okt 2026 00:56 WIB

SURABAYAPAGI.com, Madiun - Prarekonstruksi kasus dugaan pembunuhan Dini Hardiyanti (30) dan anaknya, AGF (4), di Kota Madiun, diwarnai momen emosional saat…

Jokowi Dipastikan Hadiri Sidang Ijazah Palsu 5 November 2026

Jokowi Dipastikan Hadiri Sidang Ijazah Palsu 5 November 2026

Kamis, 29 Okt 2026 00:53 WIB

Kamis, 29 Okt 2026 00:53 WIB

SURABAYAPAGI.com, Jakarta - Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) dipastikan bakal hadir di sidang perkara fitnah dan pencemaran nama baik terkait tudingan ijazah…