Ngeyel Mudik, Bisa Alami Lonjakan Covid-19 Seperti India

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Suasana penyekatan di bundaran Waru Cito perbatasan Surabaya dan Sidoarjo. SP/Arlana
Suasana penyekatan di bundaran Waru Cito perbatasan Surabaya dan Sidoarjo. SP/Arlana

i

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Ahli epidemiologi asal Indonesia di Griffith University di Australia, Dicky Budiman, mengingatkan fakta ilmiah yang tak terbantahkan bahwa saat sejumlah besar orang Indonesia ngotot untuk mudik ini akan memperburuk pandemi. Ini terbukti saat kegiatan mudik Lebaran tahun lalu yang berkontribusi pada kenaikan 10 hingga 20 persen kasus positif Covid-19.

Hal sama juga dipublish Media asing asal Hong Kong, SCMP . Media Hong Kong ini memprediksikan Indonesia akan mengalami lonjakan kasus Covid-19 seperti di India setelah perayaan Lebaran Idul Fitri 2021.

Hal tersebut dapat terjadi karena saat ini masih banyaknya masyarakat Indonesia yang ngeyel melanggar kebijakan pemerintah mengenai larangan mudik 2021. “Banyak masyarakat yang melanggar protokol kesehatan serta ngotot melaksanakan mudik telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan ahli kesehatan,” demikian SCMP, edisi Minggu kemarin.

“Ahli kesehatan telah yang memperingatkan bahwa Indonesia dapat menghadapi lonjakan kasus Covid-19 beberapa minggu setelah Idul Fitri,” tambah SCMP.

 

Varian Baru Terdeteksi

Dicky Budiman menambahkan, dengan sudah ditemukannya beberapa varian virus Covid-19 baru di Indonesia. bakal dapat memperparah pandemi Covid-19 di Indonesia jika lonjakan kasus terjadi.

“Varian baru juga sudah terdeteksi di Indonesia. Ini lebih menular dan dapat mengurangi kemanjuran vaksin atau antibodi masyarakat," kata Dicky Budiman.

"Itu berarti orang yang sudah tertular Covid-19 dapat terinfeksi kembali. Inilah mengapa mudik masih berisiko tahun ini,” sambungnya.

Sementara itu, Hermawan Saputra, dari Asosiasi Kesehatan Masyarakat Indonesia mengatakan kesehatan di Indonesia akan kewalahan jika terjadi lonjakan kasus Covid-19 antara 30 hingga 50 persen.

“Kombinasi kelelahan pandemi, penegakan hukum yang lemah pada pelanggar protokol kesehatan, dan kegagalan mengoordinasikan peraturan Covid-19 di berbagai lembaga membuat Indonesia berpotensi menghadapi situasi seperti India,” katanya.

Hal tersebut diperparah oleh terbongkarnya kasus penggunaan alat rapid test Covid-19 bekas di Bandara Kualanamu, Sumatra Utara yang sangat berpotensi menularkan Covid-19 terhadap khalayak banyak.

Ditambah lagi, pemerintah Indonesia masih mengizinkan masuk warga negara asing (WNA) yang berasal dari negara dengan kasus Covid-19 tinggi seperti India dan China yang dapat membawa masuk varian baru virus Covid-19 ke Indonesia.

 

Vaksin Belum Relevan

Meskipun Indonesia adalah salah satu negara Asia pertama yang melaksanakan vaksinasi massal, para ahli meminta pemerintah agar tidak melonggarkan langkah-langkah keamanan karena peluncurannya berjalan lebih lambat dari yang diharapkan.

Hingga Kamis, 6 Mei 2021, diketahui baru sekitar 8 juta orang yang telah menerima dua dosis vaksin yang mayoritas menggunakan vaksin Sinovac buatan China.

“Vaksin belum relevan untuk membantu kita mengendalikan pandemi. Dari target awal menginokulasi 40 juta orang, baru delapan juta orang yang sudah ditusuk dua kali,” kata Hermawan Saputra.

“Jika tingkat kemanjuran vaksin Sinovac 65 persen, berarti baru 4.5 juta orang yang membangun respon imunitas yang dipicu oleh vaksin tersebut,” tambah dirinya. n jk/scmp/erc/rmc

Berita Terbaru

Antisipasi Penipuan dan Janji Palsu dalam Proses Rekrutmen Penerimaan Pegawai KAI, Murni Tanpa Pungutan/Biaya

Antisipasi Penipuan dan Janji Palsu dalam Proses Rekrutmen Penerimaan Pegawai KAI, Murni Tanpa Pungutan/Biaya

Kamis, 05 Nov 2026 13:39 WIB

Kamis, 05 Nov 2026 13:39 WIB

SURABAYAPAGI.com, Blitar - PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 7 Madiun kembali menegaskan komitmennya untuk menyelenggarakan seluruh proses…

Operasi Patuh Semeru 2026, Ditlantas Polda Jatim bersama Satlantas Polres Blitar Lakukan Inspeksi Angkutan Umum

Operasi Patuh Semeru 2026, Ditlantas Polda Jatim bersama Satlantas Polres Blitar Lakukan Inspeksi Angkutan Umum

Kamis, 05 Nov 2026 13:36 WIB

Kamis, 05 Nov 2026 13:36 WIB

SURABAYAPAGI.com, Blitar - Ditlantas Polda Jatim berkolaborasi bersama Satlantas Polres Blitar dan stakeholder terkait melakukan inspeksi dan rampchek angkutan…

CSAP Catat Penjualan Rp14,3 Triliun, Bidik Pasar Renovasi Rumah di Kawasan Surabaya Timur

CSAP Catat Penjualan Rp14,3 Triliun, Bidik Pasar Renovasi Rumah di Kawasan Surabaya Timur

Kamis, 05 Nov 2026 13:25 WIB

Kamis, 05 Nov 2026 13:25 WIB

SurabayaPagi, Surabaya – Potensi pasar perlengkapan dan bahan bangunan di Surabaya Timur semakin menarik perhatian pelaku ritel modern. Pertumbuhan kawasan h…

Siapkan Pembangunan Ulang Jembatan Koncer 2027, Pemkab Bondowoso Alokasikan Rp20 Miliar

Siapkan Pembangunan Ulang Jembatan Koncer 2027, Pemkab Bondowoso Alokasikan Rp20 Miliar

Kamis, 05 Nov 2026 13:15 WIB

Kamis, 05 Nov 2026 13:15 WIB

SURABAYAPAGI.com, Bondowoso - Melihat sejumlah kondisi bangunan yang dinilai sudah mengalami kerusakan berat, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso mulai…

Viral! Kemunculan Buaya 2,2 Meter saat Banjir Lahar Semeru di Lumajang

Viral! Kemunculan Buaya 2,2 Meter saat Banjir Lahar Semeru di Lumajang

Kamis, 05 Nov 2026 13:14 WIB

Kamis, 05 Nov 2026 13:14 WIB

SURABAYAPAGI.com, Lumajang - Kemunculan seekor buaya saat banjir lahar Gunung Semeru kembali menggegerkan warga di Desa Gondoruso, Kecamatan Pasirian,…

Diterjang Puting Beliung, Puluhan Rumah Warga di Kediri Rusak hingga Ambruk

Diterjang Puting Beliung, Puluhan Rumah Warga di Kediri Rusak hingga Ambruk

Kamis, 05 Nov 2026 12:44 WIB

Kamis, 05 Nov 2026 12:44 WIB

SURABAYAPAGI.com, Kediri - Sebanyak 86 rumah warga di Dusun Kepung Barat, Desa/Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri, baru saja diterjang angin puting beliung,…