SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Menteri BUMN Erick Thohir mengungkapkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memiliki utang konsolidasi mencapai Rp 1.500 triliun. Ia menyinggung banyak persepsi yang mengatakan jumlah utang BUMN tersebut sangat berisiko.
Kendati demikian, Erick Thohir menilai utang tersebut masih sehat dengan membandingkan tingkat utang BUMN dengan besaran investasi yang didapatkan.
"Ada persepsi yang kemarin bilang BUMN ini banyak utang, kita selalu sudah persentasikan total utang BUMN yang memang kita bandingkan dengan investasi. Kita bandingkan investasi itu total utang Rp 1.500 triliun dan modal yang investasi itu mencapai Rp 4.200 triliun," kata Erick dalam Konferensi Pers Kinerja Portfolio BUMN di Kementerian BUMN, Rabu (28/9/2022).
Erick Thohir mencatat probabilitas perbandingan antara utang dengan equity kira-kira 35%.
"Artinya apa? Probabilitas perbandingannya itu kira-kira 35 persen antara utang dengan tentunya equity. Artinya juga kembali sehat," ujar Erick.
Meski laporan keuangan konsolidasi BUMN dicatatkan sehat, Erick tidak menutup mata bahwa masih ada perusahaan yang kinerja keuangannya masih terkoreksi alias tidak sehat.
"Kita tidak menutup mata, ada juga BUMN-BUMN yang kurang sehat. Nah karena itu kita sejak awal membentuk yang namanya portofolio daripada perbaikan BUMN-BUMN itu," kata Erick.
Sebelumnya Erick melaporkan pendapatan BUMN 2021 tumbuh 18, 8 persen dibandingkan tahun 2020 menjadi Rp 2.292,6 triliun.
Erick mencatat kinerja keuangan ini didorong oleh pertumbuhan harga komoditas global. Di mana, naiknya penjualan akibat meningkatkan aktivitas penanggulangan Covid-19 dan pertumbuhan volume penjualan di beberapa klaster.
Untuk margin EBITDA meningkat menjadi 20,4 persen. Pertumbuhan ini lantaran adanya perbaikan dan efisien pada beban operasional tidak langsung.
Selain itu, Erick juga mencatat restrukturisasi utang dan penurunan tingkat bunga pinjaman tahun lalu mengakibatkan penurunan beban utang konsolidasi dari yang semula Rp 91,5 triliun pada 2020 menjadi Rp73,5 triliun di 2021.
"Beban bunga utang konsolidasi juga turun karena kita melakukan restrukturisasi dan menurunkan tingkat bunga pada tahun lalu," kata Erick.
Pertumbuhan penjualan, perbaikan margin operasi, penurunan beban bunga akibat restrukturisasi dan penurunan kerugian kurs, pada akhirnya memberikan kontribusi positif pada kinerja keuangan BUMN.
BUMN memperoleh laba bersih perseroan 2021 meningkat menjadi Rp124,7 triliun. Jumlah laba bersih tersebut naik 838,2% dibandingkan tahun sebelumnya yakni Rp13,3 triliun.
Erick menilai salah satu efisiensi yang dilakukan seperti pembentukan klaster BUMN memberikan dampak yang signifikan. jk
Editor : Redaksi