Studi: Kesulitan Mendengar Berisiko Terkena Demensia

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news

SURABAYAPAGI, Surabaya -  Orang dewasa didesak untuk mencermati jika ada perubahan dalam pendengaran. Pasalnya, kesulitan mendengar pembicaraan jarak dekat jika lingkungan sekitarnya bising dikaitkan dengan risiko pengembangan demensia.

Hal itu terbukti dalam sebuah penelitian terhadap 82 ribu orang yang berusia di atas 60 tahun. Orang yang mengalami kesulitan mendengar pembicaraan di lingkungan yang bising rupanya memiliki risiko mengidap demensia yang lebih besar.

Demensia merupakan istilah umum untuk kondisi yang ditandai dengan kehilangan ingatan dan kesulitan dengan bahasa dan keterampilan berpikir lainnya. Sisi baiknya, studi menambahkan bukti yang menunjukkan masalah pendengaran mungkin bukan hanya gejala demensia, tetapi faktor risiko.

"Hasil studi ini menunjukkan bahwa gangguan pendengaran dalam kebisingan dapat mewakili target yang menjanjikan untuk pencegahan demensia," kata penulis studi, Thomas Littlejohns, yang merupakan ahli epidemiologi dari Universitas Oxford.

Para peneliti memanfaatkan basis data Biobank Inggris yang dibuat untuk mencari tahu hubungan antara genetika, faktor lingkungan, dan hasil kesehatan di sebagian besar populasi Inggris. Risiko demensia dianalisis pada perempuan dan laki-laki yang bebas dari demensia. Pendengaran mereka dinilai pada awal penelitian.

Para peserta diuji pendengarannya dalam kebisingan, yaitu kemampuan untuk menyimak potongan pembicaraan di lingkungan yang bising. Dalam hal ini, para peserta diminta mengenali angka yang diucapkan dengan latar belakang kebisingan.

Setelah 11 tahun atau lebih, 1.285 peserta telah mengembangkan demensia. "Peserta yang memiliki pendengaran lebih buruk memiliki risiko hampir dua kali lipat terkena demensia dibandingkan dengan mereka yang memiliki pendengaran yang baik," ujar Littlejohns.

Sekitar setengah dari orang-orang dalam penelitian yang memiliki pendengaran yang tidak memadai saat berbicara tidak menyadari adanya gangguan pendengaran saat diminta untuk melaporkannya. Itu juga berlaku pada sekitar 42 persen peserta yang hasil tesnya buruk. 

Tim peneliti juga mempertimbangkan mengenai keterkaitan gangguan pendengaran dengan faktor lain yang diketahui memengaruhi risiko demensia. Sebut saja isolasi sosial dan depresi, yang keduanya mungkin terjadi jika orang mengalami kesulitan mendengar.

Untuk memastikannya, Littlejohns dan rekan-rekannya membuat beberapa perbandingan guna melihat pengaruh terhadap kinerja pendengaran. Itu untuk membuktikan gangguan pendengaran benar-benar dipengaruhi oleh demensia yang tidak terdeteksi.

Hasilnya, risiko demensia yang ditunjukkan oleh kesulitan pendengaran tidak lebih buruk dibandingkan peserta studi yang mengembangkan demensia lebih cepat. Hasilnya hampir sama, baik pada pasien yang mengidap demensia setelah tiga tahun maupun setelah sembilan tahun.

Ini bukan studi pertama yang menemukan hubungan antara gangguan pendengaran dan demensia. Akan tetapi, tim mengatakan itu adalah yang pertama untuk menyelidiki risiko demensia dan kemampuan pendengaran di lingkungan yang bising.

"Penting untuk diingat jenis desain studi ini tidak dapat menyimpulkan kausalitas, tetapi ini menambah literatur, bahwa gangguan pendengaran dapat menjadi target yang dapat dimodifikasi untuk mengurangi risiko pengembangan demensia," ungkap Littlejohns. Hasil studi telah dipublikasikan di Alzheimer's & Dementia: The Journal of the Alzheimer's Association, dikutip dari laman Science Alert, Senin (21/11).hlt/dms

Berita Terbaru

PSI Siap Mati-matian Ikuti Jokowi

PSI Siap Mati-matian Ikuti Jokowi

Selasa, 03 Feb 2026 19:07 WIB

Selasa, 03 Feb 2026 19:07 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) siap berjuang mati-matian. Menurutnya pernyataan Jokowi itu menjadi dorongan moral dan militansi…

Setelah Lengser dari KSP, Moeldoko Mengeluh

Setelah Lengser dari KSP, Moeldoko Mengeluh

Selasa, 03 Feb 2026 19:06 WIB

Selasa, 03 Feb 2026 19:06 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Setelah tak jabat Kepala Staf Kepresidenan (KSP) dan kini jadi Ketua Umum Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia…

Gus Ipul-Gus Yahya, ke Istana Bareng

Gus Ipul-Gus Yahya, ke Istana Bareng

Selasa, 03 Feb 2026 19:02 WIB

Selasa, 03 Feb 2026 19:02 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto mengundang organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam pada Selasa (3/2) siang. Apa yang akan…

Komnas Anak Ingatkan Konflik Terekspos di Media Berdampak Buruk

Komnas Anak Ingatkan Konflik Terekspos di Media Berdampak Buruk

Selasa, 03 Feb 2026 18:59 WIB

Selasa, 03 Feb 2026 18:59 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Komnas Anak berharap kasus ini tidak berlarut-larut. Sebab, konflik yang terus menerus terekspos di media dikhawatirkan akan…

Kisah Anak-Cucu Almarhum Emilia Contesa : Denada Nangis, Ressa Siap Islah

Kisah Anak-Cucu Almarhum Emilia Contesa : Denada Nangis, Ressa Siap Islah

Selasa, 03 Feb 2026 18:56 WIB

Selasa, 03 Feb 2026 18:56 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Drama perseteruan antara pihak Ressa dan Denada memasuki babak baru yang makin panas. Tak main-main, Dino Rossano Hansa selaku Om…

Pimpinan BUMN Akal-akalan, Perlu Diungkap Modusnya

Pimpinan BUMN Akal-akalan, Perlu Diungkap Modusnya

Selasa, 03 Feb 2026 18:55 WIB

Selasa, 03 Feb 2026 18:55 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Saat pidato di Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah 2026, di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Senin (2/2/2026), Presiden Prabowo…