SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Peran warung kopi sekarang sudah ada yang naik tingkat. Hotel-hotel, mal, guest house, gedung gedung perkantoran sudah diisi warung kopi kekinian, cafe. Pemilik "warung kopi" ada yang mencontek mentah mentah kedai dari Singapura, sampai replika coffee shop Amerika. Termasuk gedung wakil rakyat di Senayan Jakarta, ada cafe yang artistik.
Saya pernah menghadiri undangan di gedung DPR-RI. Sambil menunggu pertemuan, saya minum kopi di sebuah cafenya. Suasananya tak beda dengan warung kopi.
Tidak hanya saya dan seorang teman yang nyruput kopi. Ada beberapa orang yang duduk minum juice. Kesan saya nongkrong di warung kopi kelas gedung semacam itu, seperti orang membuang waktu dengan omong kosong. Saya dan teman bicara kesana kemari tahu tahu waktu berlalu. Secangkir kopi pesanan saya Black Coffee habis. Tapi percakapan saya masih terus tak habis-habis. Maklum jam pertemuan masih setengah jam. Obrolan ngalor ngidul bak otang tanpa topik. Kata orang warungan itu bicara omong kosong.
Saya saat duduk di kursi cafe sempat mendengarkan apa yang diperbincangkan teman di meja sebelah. Saya malah m dapat pengetahuan lintas batas. Topik obrolan mereka meski acak, pernah ada orang yang membahas soal politik aktual .
Wartawan saya di Jakarta sempat nguping (mendengar) ada sosok kader PDIP yang duduk di Komisi III, ngobrol pertemuan Puan Maharani, dengan Presiden Joko Widodo, Jumat (24/3/2023). Pembicaraan pertemuan ini diungguh Instagramnya Puan.
Puan menulis pertemuannya dengan Jokowi, membahas Pemilu 2024 hingga isu-isu nasional terkini. Dalam unggahannya, Puan juga menyinggung soal 'serba 2'.
"Dan ternyata ini pertemuan 'serba 2' lho... 2 pemimpin, 2 kader PDI Perjuangan, bertemu di tanggal 2 Ramadan...," kata Puan.
"Semoga pertemuan hari Jumat di awal Ramadan ini membawa berkah dan bermanfaat yaa... Aamiin yaa rabbal alamin," imbuh anak Megawati.
***
Dalam pergunjingan di warung kopi Senayan, pria yang ngopi di sebelah wartawan saya menebak Puan "menyerah" jelang deklarasi 1 Juni 2023. Menyerah? Ya katanya, Ketua DPP PDIP itu tidak tampak ngotot maju sebagai capres 2024. Terutama setelah HUT PDIP ke 50 Januari 2023 lalu.
Wartawan saya melaporkan, kader PDIP itu melihat Puan Maharani, seperti "iklas" jadi "nomor 2".
Bisik bisik yang didengar wartawan saya ada isyarat dengan menyebut "serba 2" di Istana Negara, Puan "bisa" menerima hanya bacawapres?
Saya nilai sosok itu ngobrol bukan kapasitas sebagai pengambil keputusan pencapresan dari partainya.
Mungkin saat itu, ia "ngobrol warung kopi" menggunakan nalar. Ia utak Atik makna "serba 2" yang diungkap Puan Maharani.
Pria itu menebak kata "serba 2" itu tidak hanya soal dua kader PDIP bertemu (Puan-Jokowi), 2 pemimpin (Presiden dan Ketua DPR-RI), dan momen pertemuatan pas tanggal 2 Ramadan saja, ada "makna 2" di pemerintahan yaitu cawapres. Apalagi Puan mengucapkan doa semoga pertemuan hari Jumat di awal Ramadan itu membawa berkah dan bermanfaat yaa... Aamiin yaa rabbal alamin.
Saya ikut mengamini. Tapi akal sehat saya memberi sinyal sinyal pembicaraan itu, Puan mengkonfirmasi hasil pertemuan sebelumnya antara ibunya dengan Jokowi di Istana negara.
***
Praktis, sampai jelang akhir Maret 2023 ini, Megawati, masih nutup rapat capres atau cawapres PDIP yang ada di kantongnya. Ini menurut saya Mega pasti punya kalkulasi politik, siapa saja parpol yang mendeklarasikan capres - cawapres 2024.
Bagi jurnalis sekelas saya, fenomena Mega dan Puan temui Presiden dalam tenggang waktu yang berdekatan pasti ada kepentingan politiknya. Apalagi jelang pengumuman deklarasi Capres NasDem akhir Maret ini. Suka atau tidak, Megawati pasti menghitung Anies sebagai rival kader PDIP nanti.
Bisa juga feeling saya Mega besar kemungkinan gundah membaca tren beberapa lembaga survei yang tak untungkan elektabilitas anaknya. Suka atau tidak, sebagai pimpinan parpol besar, Mega tidak bisa meremehkan hasil survei yang sudah terpublikasikan.
Akal sehat saya juga berbisik pernyataan Jokowi, yang menyebut pencapresan mesti gunakan data dan angka adalah sendirian kepada Mega yang sering memimpin partai dengan gaya otoriter.
Catatan jurnalistik saya menulis dua kali bertemu ibu-anak, Jokowi, mesti masih ugemi (pegang) adat Jawa, punya kalkulasi politik modern yang berpikir logis. Buktinya ia tidak pernah memilih calon pemimpin berdasarkan feeling.
Siapapun kader PDIP yang dimunculkan dalam kontestasi politik lima tahunan nanti, Anies Baswedan salah satu rivalnya. Tentu, semua capres menunggu rakyat yang akan memilihnya.
Pertanyaannya dalam persaingan, rivalitas tetap perlu. Apalagi PDIP tidak pernah setuju dalam pemerintahan presidensil tidak ada oposisi.
Makanya, dalam beberapa pidatonya, Mega tidak pernah takut dengan oposisi. Kini, Gerindra telah memutuskan untuk mengusung kembali Prabowo sebagai capres di Pilpres 2024 mendatang. Gerindra juga telah menjalin koalisi dengan PKB.
Sebagai pendiri sekaligus Ketua Umum PDIP, Mega awal kepemimpinannya tak ubahnya seperti Ratu Adil. Menurut saya, kharisma Mega tak dimiliki Puan. Mega dulunya dikenal pemimpin yang pro akan rakyat kecil.
Puan, pernah dikritik Ketua DPR-RI yang mematikan mikrofon saat politikus Partai Demokrat interupsi dalam rapat paripurna pengesahan UU Cipta Kerja, Senin, 5 Oktober 2020. ([email protected])
Editor : Moch Ilham