SURABAYAPAGI.COM, Sumenep - Amelia Zahroh Ramadani, Gadis desa asal Gadu Barat Kecamatan Ganding Kab. Sumenep, memiliki akta lahir di Makkah pada tanggal 21 Agustus 2008, dan kini tinggal di kediaman orang tuanya di desa Gadu Barat.
Amelia, menempuh Pendidikan formalnya pada anak Usia dini (PAUD) dan Raudlatul Adfal (RA) di Sekolah Indonesia Mekkah (SIM) karena tinggal bersama kedua orang tuanya.
Namun, di usianya menginjak Delapan tahun, Amelia yang lebih akrab disapa Amel itu, dititipkan di sebuah lembaga pendidikan pesantren terbesar di Madura, yakni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-guluk Sumenep Madura.
Kurang lebih pada tahun 2017 lalu, Amel dimutasi dari Mekkah ke Pesantren Annuqayah dan menempuh pendidikan formalnya di kelas III Madrasah Ibtidaiyah di pondok pesantren Annuqayah.
Amel, memiliki kegemaran membaca buku komik dan buku Novel, sehari-harinya, menikmati buku bacaan itu sampai tiga judul buku.
Saat ditemui reporter surabaya pagi di rumah kediaman Babanya di Desa Rombiya Barat, Amel mengaku, kegemaran membaca itu diawali dari perasaan dirinya yang merasa sendiri dan tak memiliki teman bicara. Katanya
"Saya membaca buku itu berawal dari sendiri, karena tidak memiliki banyak teman bermain, jadi membaca buku saya jadikan sebuah percakapan saya dengan penulis bukunya"
Kata Amel, Dengan membaca banyak berpengaruh terhadap dirinya, bahkan merubah kepribadiannya, tergantung dengan apa yang dibacakannya.
"Jujur, terkadang saya tertawa sendiri, menangis sendiri, karena ternyata berimajinasi itu jauh terasa sangat nikmat, dan bacaan itu sangat berpengaruh terhadap kehidupan saya"
Makanya kata dia, dengan membaca sama dengan membuka ruang baru dalam pengetahuan, selain dapat mencerdaskan dan menambah wawasan ilmu pengetahuan. Tegasnya
Di Pesantren Annuqayah, Amel menempuh pendidikan formalnyà di Madrasah Ibtidaiyah (MI) kelas III dan nyantri di pondok pesantren Annuqayah daerah latee II bersama saudara kandungnya, Helwin Ainur Rizqoh
Putri bungsu dari dua bersaudara ini memiliki kepribadian yang kalem dan pendiam, tak jarang orang menyebutnya sebagai gadis yang cuek, imut dan ngangenin, karena memiliki hobby membaca buku, baik komik dan novel berikut bacaan buku lainnya.
"Saya sampai lupa bergaul dengan banyak teman, karena selalu sendiri menghabiskan hari-hariku dengan membaca buku, jadi hampir waktuku dihabiskan dengan membaca, jadi banyak yang bilang saya cuek dan sombong"
Tapi bagi saya kata dia, tidak pernah menggubris apa kata orang tentang dirinya, yang terpenting membaca, sebab, katanya, semakin banyak membaca semakin banyak paham bagaimana kedua orang tuanya berjuang dan membesarkannya dalam mencari ilmu pengetahuan, baik ilmu agama dan umum.
"Pada saat saya membaca buku sejarah, justru saya teringat perjuangan Baba yang tak sempat membesarkan saya di usia sekarang, Baba telah tiada pada saat saya masih mengenyam ilmu pendidikan"
Di usia saya seperti ini, saya merasa kehadiran Baba itu seperti malaikat yang penyelamat bagi kehidupan saya dan kakak, meskipun Baba sudah tiada tapi merasakannya begitu dekat. Mungkin itu dipengaruhi oleh bacaan. Pungkasnya.
Untuk diketahui, sosok kedua orang tuanya, sama-sama memiliki darah juang diperantauan, tepatnya di Kota Suci Mekkah, Moh. Busriyanto asal desa Rombiya Barat dan Risqiyah dari Desa Gadu Timur, .
Dari hasil perkawinannya di kota suci mekkah, memiliki dua anak perempuan yakni, Helwin Ainur Rizqoh dan Amelia Ramadani, dan kini keduanya menempuh pendidikan di Pondok pesantren Annuqayah.
Helwin menempuh pendidikan di Fakultas Sains di Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, (INSTIKA) sementara adiknya Amelia masih berstatus sebagai siswa kelas IX Madrasah Tsanawiyah Guluk-guluk Sumenep Madura.
Namun, takdir berkata lain, sosok Baba dalam kehidupan mereka tutup usia pada tahun 2018 di kota Suci Mekkah, pada saat kedua putrinya mengenyam ilmu pendidikan di pondok pesantren. AR
Editor : Moch Ilham