SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Judul ini saya buat untuk kita pikirkan jelang pemilu 2024. Ada dua poin yang perlu ingin saya sharekan ke pembaca. Pertama, pemberi pesan, Menkeu Sri Mulyani, seorang ekonom. Ia seorang profesional yang ada dalam kabinet pemerintahan Jokowi. Isyarat apa seorang ekonom perempuan kelahiran Lampung, bicara filosofi yang dikenal luas masyarakat tentang Ojo Gumunan, Ojo Kagetan, dan Ojo Dumeh. Menariknya filosofi ini dipaparkan menggunakan bahasa Inggris. Salah satu yang menarik dari pernyataannya itu "Gumun is Actually Amaze". Jadi anak muda jangan gampang takjub.
Memang pesannya untuk pemilih muda dalam pemilu 2024. Diantara pernyataan ekonom yang Direktur Pelaksana Bank Dunia yaitu "Ojo gumunan, ojo kagetan, itu hanya akan terjadi kalau Anda tahu data, you are not going to be gumun. Siapa yang nggak tahu gumun di sini? Gumun is actually amaze, tiap kali kaget-kaget kenapa Indonesia begini ya, kenapa dunia begini ya," ingat Sri Mulyani.
Menkeu minta pemilih muda suka baca data, baca statement, lihat dan pilih path Indonesia ke depan."Kita belajar cukup banyak dan sudah cukup panjang perjalanan kita untuk we can make decision what is actually a good way to go, and which is the wrong way to go," ungkap Sri Mulyani. (Surabaya Pagi edisi Jumat, 21 Juli 2023, berjudul "Pesan Menkeu ke Pemilih Muda, Ojo Gumunan").
Data Menkeu, Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Mei 2023 turun dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Posisi ULN Indonesia pada akhir Mei 2023 tercatat sebesar US$ 398,3 miliar atau Rp 5.974 triliun (asumsi kurs Rp 15.000/US$ 1), turun dibandingkan ULN akhir April 2023 yang sebesar US$ 403,0 miliar.
Sri Mulyani menjamin meskipun instrumen utang masih digunakan pemerintah, manajemennya tidak akan ugal-ugalan. "Utang itu tidak berarti kita kemudian slopy atau ugal-ugalan, oleh karena itu kita harus hati-hati sekali," ungkap Sri Mulyani dalam paparannya di acara IDE Conference 2023, di Hotel Kempinski, Jakarta Pusat, Kamis (20/7/2023).
Saya menyerap makna filosofi jawa yang diungkap Sri Mulyani, jangan mudah heran. Lebih jauh lagi maknanya yakni sebagai bentuk larangan untuk tidak mudah kagum atau heran dengan perkembangan keadaan dan peristiwa atau benda yang terutama bersifat materi dan keduniawian.
Kagetan, dan takjub terhadap sesuatu tanpa didukung data kepada anak muda oleh profesional menteri, isyarat apa?
Sejauh ini Sri Mulyani, tidak merapat ke partai mana pun. Juga kepada tiga bakal capres Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan, Menkeu Sri Mulyani, tidak mendekat.
Akal sehat saya berbisik, Sri Mulyani sedang menyoroti manuver Anies Baswedan.
Saya catat usai deklarasi capres dari partai NasDem, Anies Rasyid Baswedan, mengunggah sebuah foto saat dirinya sedang bersantai sambil membaca buku berjudul "Principles for Navigating Big Debt Crises" di akun Instagram resminya, Rabu (26/4/2023).
Anies pun turut membubuhkan caption foto yang bertentangan dengan judul buku tersebut, tetapi masih mengambarkan dirinya yang tengah bersantai.
Buku yang dibaca Anies itu berjudul "Principles for Navigating Big Debt Crises", karya Ray Dalio yang diterbitkan tahun 2018. Dalio merupakan salah satu investor dan pengusaha paling sukses.
Dikutip dari CFA Institute, Dalio mengungkapkan bahwa krisis utang besar terjadi ketika skala utang mencapai tingkat di mana pemotongan suku bunga saja tidak cukup untuk mencegah depresi.
Substansi buku Dalio "Principles for Navigating Big Debt Crises" ini menyediakan kerangka kerja untuk memahami mekanisme krisis tersebut dan menetapkan enam tahapan mulai dari benih krisis hingga penyelesaiannya.
Dalam bukunya, dia berargumen jika pembuat kebijakan memiliki empat pengungkit untuk menurunkan utang dan biaya pembayaran utang, yaitu penghematan, gagal bayar dan restrukturisasi utang, percetakan uang oleh bank sentral, dan transfer uang dari mereka yang memiliki lebih banyak kepada mereka yang memiliki lebih sedikit.
Juga anggota koalisi pendukung Anies yaitu Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
AHY mengungkapkan keprihatinannya terhadap masalah ekonomi yang sedang dihadapi oleh Indonesia.
AHY menyatakan bahwa saat ini pertumbuhan ekonomi negara mengalami pelemahan sementara utang pemerintah terus meningkat.
“Ketika ekonomi tumbuh rendah, yang meroket justru utang kita, baik utang pemerintah maupun BUMN,” kata AHY dalam pidato politiknya di YouTube Partai Demokrat, Jumat (14/7/2023).
Sementara Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan bahwa posisi utang Indonesia sampai Desember 2022 mencapai Rp 7.733,99 triliun. Dan rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) sebesar 39,57%. Sri Mulyani tegaskan posisi utang Indonesia ini masih aman dan dalam kondisi yang sehat. Hal ini lantaran pemerintah mengelola utang secara hati-hati agar posisi utang masih dalam batas yang aman.
Oleh karena itu, dirinya meminta masyarakat untuk tidak menganggap bahwa kondisi utang bisa dikatakan sehat apabila tidak mempunyai utang. Pasalnya, tidak hanya Indonesia, semua negara juga memiliki utang.
Ternyata tidak hanya Anies dan AHY, yang kritisi utang Indonesia. Ada beberapa fraksi di DPR mengingatkan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berhati-hati menarik utang pada saat masa akhir pemerintahan Presiden Joko Widodo pada 2024.
Peringatan ini mencuat dalam Rapat Paripurna ke-24 Masa Sidang V Tahun Persidangan 2022-2023 dengan agenda tanggapan fraksi atas Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM - PPKF) 2024 yang turut dihadiri Sri Mulyani.
Fraksi PDI Perjuangan, yang diwakili Anggota DPR Masinton Pasaribu, mengatakan, dengan target defisit APBN 2024 yang didesain sebesar 2,16-2,64�ri PDB harus lebih dahulu mengoptimalkan sumber pembiayaan dalam negeri ketimbang utang. Tujuannya untuk memitigasi risiko beban biaya utang yang membengkak.
Juga Fraksi Partai Demokrat yang diwakili Anggota DPR Rizki Aulia Rahman Natakusumah. Aulia, meminta pemerintah supaya rasio utang terhadap PDB tidak terus menerus naik. Rasio utang terhadap PDB dalam KEM PPKF 2024 ditargetkan sebesar 38,07-38,97%. Hingga Maret 2023 rasio utang terhadap PDB sudah tembus 39,17%.
Apakah sorotan terhadap utang negara yang membuat Sri Mulyani, paparkan filosofi jawa ke pemilih muda pemilih 2024? Walahualan.
***
Saya juga kaget ujug-ujug Sri Mulyani, cukil filosofi jawa "Ojo gumunan, ojo kagetan "? (Ojo dumeh).
Sri Mulyani adalah the singer pengingat filosofi jawa itu. Dan filosofi "Ojo gumunan, ojo kagetan" adalah the songnya.
Mana yang lebih besar peranannya, pembawa pesannya (the singer) atau lagunya (the song)?"
Pertanyaan ini pernah diajukan oleh Analecto kepada Romo Keogh, dalam sebuah film tahun 60-an, yang pernah dinyatakan sebagai salah satu film favorit Gus Dur, berjudul The Singer not The Song.
Analecto adalah seorang dedengkot bandit yang sedang merasa terkesan pada sang Romo, karena pembunuhan yang dilakukannya terhadap sejumlah religius itu tidak menghentikan tekad si Romo untuk tetap berdakwah.
Pertanyaan itu juga diiringi sebuah penawaran: Jika jawaban Romo memuaskan, Analecto—yang juga atheist—berjanji tidak akan mengganggu aktivitas dakwah Keogh. Dan juga menjamin tak akan ada pembunuhan lagi. Tapi Romo Keogh tidak pernah menjawab pertanyaan itu. Ini barangkali karena ia memang tak punya syaraf takut dan ogah didikte. Atau barangkali ia merasa bingung seperti aku sekarang.
Apalagi the singernya, mengaku-aku lebih signifikan perannya dibanding the song-nya? lebih-lebih jika the song tersebut bukan soal merk kamera, tapi ... agama ? Di sisi lain, jika kita ingin mengatakan bahwa the song-nya yang lebih penting, kita mungkin akan terjebak pada perdebatan kurang penting yang menyangkut "what song did you mean?" karya masterpiece.
Secara teologi Tuhan adalah manusia, the singer itu. Dan menjelang ajalnya, Analecto sempat tersenyum dan berkata: "The singer, not the song". The singer-lah (baca: Romo Keogh) yang ternyata telah memenangkan hatinya, bukan the song-nya. Jelas, pemapar filosofi jawa ini yang menarik. Ia memilih anak muda tahu makna Ojo Gumunan.
Mengingat, filosofi ini bermakna jangan mudah heran. Lebih jauh lagi maknanya yakni sebagai bentuk larangan untuk tidak mudah kagum atau heran dengan perkembangan keadaan dan peristiwa atau benda yang terutama bersifat materi dan keduniawian.
Bisa jadi urusan utang Indonesia kelak diungkit anak-anak muda, karena mereka yang secara sosiologis yang mesti membayar, bukan Jokowi dan bukan juga Sri Mulyani. Ini bila presidennya bukan asuhan Jokowi.
Mengingat presiden penerus Jokowi akan melakukan sustainable development. Beda bila presidennya diluar Prabowo atau Ganjar. Ojo gumunan ini jangan mudah takjub pada politisi yang baru tahap mengkritik. ([email protected])
Editor : Moch Ilham