SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Pada acara seminar Kemenko PMK di Jakarta Rabu (12/9/2023). Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menjelaskan asal guyonan terkait dirinya disebut Presiden Negara Kesatuan Republik Ikan.
Pada acara tersebut dirinya menjelaskan bahwa humor itu muncul ketika dirinya purna tugas sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan 2014-1019.
Susi pun menceritakan aktivitas yang dilakukannya selama menjabat menjadi Menteri hingga mendapat julukan Presiden Negara Republik Ikan.
"Itu kan (Presiden NKRI) kulo, kulo (aku, aku), Pak. 'Nyalon apa?' 'Partai ikan?' Saya sih tidak mengamati banget (perkembangan), Pak. Tapi, ada waktu di 2015 saya ambil, saya mulai melakukan policy 2 penangan illegal fishing," kata Susi Pudjiastuti, Rabu (13/9/2023).
"Waktu itu dari jumlah stok ikan juga naik 2 kali lipat. Dan saya dengar di masyarakat juga mereka menangkap lebih dekat, ukuran ikan lebih gede, waktunya lebih sedikit, ukuran ikan lebih besar harganya lebih mahal. Lebih cepat, lebih besar, lebih banyak uangnya, masyarakat senang itu intinya," jelas Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan tersebut.
"Ikan tuna yellow fish pun dari ukuran 2015 antara 17 kg sampai 27 kg. Pak Rahmat Gobel laporan di Gorontalo dan wilayah timur setiap tahun naik ukurannya. Sampai 2018 di Banda, masyarakat bisa angkat tuna 90 kg beratnya. Jadi kalau sudah 90 kg kan itu tuna besar. Dan saya dengar itu tidak ada lagi karena kapal asing sudah masuk lagi," tambahnya.
Namun kini, Susi mengaku tidak mengetahui terlalu jauh soal kondisi kelautan dan perikanan Tanah Air. Sebab, dia sudah jarang berkunjung ke daerah-daerah. Ia pun hanya mengamati melalui laporan netizen di media sosial. jk-08/Acl
Editor : Redaksi