SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Ternyata, deklarasi calon wakil presiden (cawapres) pendamping Prabowo Subianto akan dilakukan sebelum pendaftaran di KPU ditutup, pada 25 Oktober pukul 23.59 WIB.
Sampai Kamis (19/10/2023) sudah dua pasangan capres-cawapres yang mendaftarkan diri ke KPU untuk Pilpres 2024. Mereka pasangan Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar (Cak Imin) serta duet Ganjar Pranowo dan Mahfud Md.
Sosok cawapres pendamping Prabowo Subianto masih menjadi teka-teki. Dikabarkan masih tarik ulur di antara anggota Koalisi Indonesia Maju (KIM).
Isu yang berkembang selama ini di tengah publik, Prabowo bakal disandingkan dengan Gibran Rakabuming Raka.
Namun menjelang hari-hari pendaftaran ke KPU, muncul isu ada tarik ulur nama capres Prabowo antara Gibran, Erick Thohir hingga Yusril Ihza Mahendra.
Sampai Kamis (19/10/2023), Ketua DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Zita Anjani masih tetap menjagokan Menteri BUMN Erick Thohir sebagai calon wakil presiden untuk Prabowo Subianto.
Teranyar beredar surat keterangan tidak pernah dipidana dari Pengadilan Negeri (PN) Jaksel atas nama Yusril Ihza Mahendra.
Direktur Eksekutif Institute for Democracy & Strategic Affairs Ahmad Khoirul Umam memiliki analisis apabila Gibran menjadi Cawapres Prabowo, ada sisi positif dan negatifnya.
Menurut dia, sisi positif dari pencalonan Gibran sebagai Cawapres adalah menjadi "titik temu" dari proses negosiasi yang alot di internal Koalisi Indonesia Maju (KIM), utamanya di tengah tarik-menarik antara Golkar dengan PAN yang menginginkan Erick Tohir. Pencawapresan Gibran juga bisa menjadi mesin politik untuk menggerus suara pendukung Ganjar Pranowo di basis-basis wilayah yang dikuasai PDIP.
Di sisi lain, kata Ahmad, pencawapresan Gibran bisa menciptakan "perang bubat" antara kubu Prabowo dengan PDIP yang lagi-lagi akan merasa dikhianati, dilangkahi, dan diabaikan oleh keluarga Jokowi.
"Jika Gibran menjadi Cawapres Prabowo, besar kemungkinan PDIP akan melakukan evaluasi total terhadap status relasi dan keanggotaan Gibran, Boby, dan juga Jokowi sendiri di PDIP," ujar Ahmad.
Catatan jurnalistik saya, pencawapresan Gibran tampaknya sedang ditunggu-tunggu oleh para rival politik Jokowi. Ini terkait narasi "politik dinasti".
Dalam kalkulasi saya, narasi itu bisa menjadi amunisi yang efektif untuk menghantam legitimasi dan kredibilitas politik Presiden Jokowi.
Ada yang berpendapat, putusan MK dan deklarasi Prabowo-Gibran dapat dianggap sebagai manifestasi nyata ambisi besar Jokowi. Ada rasan-rasan, Jokowi, haus kekuasaan, untuk mewujudkan presiden 3 periode. Termasuk penundaan Pemilu, hingga mengokohkan posisi anak-anaknya di percaturan politik kekuasaan nasional.
***
Membaca peta politik timbulnya koalisi-koalisi, Prabowo Subianto saat ini menjadi bakal calon presiden dengan dukungan paling kuat. Ini ditandai bergabungnya Partai Demokrat. Praktis, Menteri Pertahanan ini didukung empat partai parlemen. Wajar dicap, menjadi koalisi paling gemuk dibandingkan dengan pesaingnya.
Soal koalisi gemuk saya teringat Pilpres 2014. Saat itu Prabowo, membentuk Koalisi Merah Putih. Ada lima partai parlemen dan satu non-parlemen diantaranya Gerindra, Golkar, Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan Partai Bulan Bintang/PBB (non-parlemen).
Dengan dukungan partai yang lebih banyak, kubu Prabowo, ternyata tidak mampu mengalahkan Joko Widodo (Jokowi) yang berpasangan dengan Jusuf Kalla pada Pilpres kala itu.
Hasil suara sah menunjukkan perolehan suara Prabowo hanya memperoleh 62,5 juta suara (46,85%) dan Jokowi memperoleh 70,99 juta suara (53,15%). Berdasarkan perhitungan tersebut, Jokowi memenangkan Pilpres 2014.
Kemudian, mengacu hasil Pileg 2019, dengan kubu ‘gemuk’, capres Prabowo akan mendapat dukungan suara sebesar 55,2 juta. Koalisi Anies berada di posisi kedua dengan 37,7 juta suara. Dan koalisi Ganjar berada di posisi terakhir dengan 33,3 juta suara.
Pertanyaannya, apakah pendukung partai Golkar, Demokrat dan PAN akan memilih capres yang diusung partai mereka.?
Belum tentu. Dengan demikian, kekuatan koalisi partai belum tentu bisa tetap sama. Ingat bilik suara tersetrilkan. Perang money politic digalakkan.
Hasil perhitungan suara sah dari pasangan capres nantinya masih memungkinkan berkata lain.
Catatan jurnalistik saya menyebut masih ada publik yang yang usrek soal sikap dan tindak tanduk Prabowo di publik.
Ada yang percaya sikap arogansi Prabowo tidak akan dijumpai lagi sekarang. Ini apakah siasat branding politik untuk memikat pemilih, khususnya pemilih muda, dimana sebagian Gen milenial dan Gen Z tak tahu tentang sejarah kelam Prabowo.
Data Komisi Pemilihan Umum (KPU) mencatat sebanyak 55% pemilih pada Pilpres 2024 nanti berusia 15 hingga 40 tahun.
Saya cukup optimistis, dengan setting branding oleh timnya, Prabowo bisa mengubah gaya komunikasi publiknya. Tentu untuk meraih simpati publik.
Contoh teraktual, bakal calon presiden dari Koalisi Indonesia Maju Prabowo Subianto menyatakan tidak ingin gegabah dan tergesa-gesa untuk mendeklarasikan bakal calon wakil presiden yang akan mendampinginya pada Pilpres 2024.
"Tenang saja. Ojo kesusu (jangan terburu-buru), ojo grusa-grusu (jangan gegabah),” kata Prabowo kepada wartawan usai syukuran ulang tahunnya yang ke-72 di Rumah Kertanegara, Jakarta, Selasa (18/10/2023)
Ketika ditanya soal kebenaran sosok bakal cawapresnya telah mengerucut ke satu nama, yakni Wali Kota Solo Gibran Rakabuming, Ketua Umum DPP Partai Gerindra itu enggan menjawab.
Sampai Sekjen Gerindra Muzani menepis isu bahwa penundaan deklarasi cawapres Prabowo karena sosok cawapres yang dipinang masih gundah memberi kepastian.
"Enggak. Ini ditunda semata-mata karena masih ada ketua umum yang menyertai kunjungan Presiden Jokowi," tegasnya.
Muzani juga telah menyampaikan arahan itu kepada para sekretaris jenderal partai politik yang tergabung dalam KIM.
"Bahwa untuk memutuskan cawapres pasangan Prabowo Subianto itu adalah ranah dan kewenangan para ketum dari masing-masing partai, tentu saja bersama calon presiden," jelasnya.
Satu dua hari ini saya mendengar bacawapres mengerucut ke Erick dan Yusril.
Ini usai beredar SKCK dan surat keterangan tidak pernah dipidana dari Ketua Umum PSSI dan Yusril.
Bahkan ada isu, Golkar akan keluar apabila Erick yang diusulkan PAN terpilih sebagai cawapres. Airlangga enggan berkomentar jauh. "Kalau urusan itu kita bahas dan itu sudah dibahas," katanya.
***
Koalisi gemuk? Ini mengingatkan saya pada birokrasi gemuk. Dan organisasi bisnis yang tambun.
Pelajaran manajemen yang saya peroleh rganisasi kurus simple memudahkan pemimpin dalam menjalankan misi/visi perusahaan.
Beda dengan organisasi bisnis yang gemuk. Jalannya organisasi akan sangat lambat karena koordinasi didalam menjadi semakin bertele-tele.
organisasi dengan jumlah anggota yang banyak menjadi tidak efektif, karena tambun sehingga lamban dan susah bergerak. Ini yang menyebabkan rantai birokrasi terlalu panjang.
Bocoran yang saya peroleh dari elite di KIM, petinggi PAN dalam rapat suka mendominasi. Ini yang konon tak disukai Ketum Partai Golkar, Airlangga Hartarto. Sedang elite Partai Demokrat tidak mengajukan kandidat.
Konon Airlangga Hartarto tak rekomendasi Erick Thohir. Beda dengan Zulkifli Hasan yang pilih Erick Thohir, harga mati. Salah satu kedekatan primordial Zulkifli Hasan, sama-sama berasal dari Lampung.
Dengan bocoran itu, saya duga koalisi gemuk Prabowo, bisa makin membebani bakal capres Gerindra. Apalagi ditambah ada parpol non parlemen yang memiliki politisi senior seperti Yusril Izha Mahendra dan Fahri Hamzah. Komunikasi politik Yusril dan Fahri, menurut akal sehat saya lebih punya argumentasi hukum dan politik ketimbang Airlangga Hartarto, Zulkufli Hasan dan AHY.
Koalisi gemuk ini bisa jadi alat tarik menarik antara parpol parlemen dan non parlemen. Salah satu yang saya khawatirkan perjuangan kesetaraan antar elite parpol parlemen dan non parlemen jadi alasan.
Praktik koordinasi antar parpol cenderung bisa tumpang tindih sorongkan cawapres ke Prabowo. Apalagi menyangkut tabiat parpol yang punya agenda kekuasaan. Lucunya, ditengah bargaining sosok cawapres Prabowo, muncul Ketua DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Zita Anjani, yang tawarkan cara bangun image koalisi.
Pak Prabowo, Quo vadis bangun partai gemuk. Ingat dua kompetitor Anda sudah mendaftar ke KPU. ([email protected])
Editor : Moch Ilham