Gibran, bak Orang Superior

author surabayapagi.com

- Pewarta

Senin, 22 Jan 2024 20:51 WIB

Gibran, bak Orang Superior

i

Raditya M Khadaffi

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Ada tontonan debat antar cawapres Indonesia, Minggu (21/1/2024) malam yang menarik saya jadikan catatan politik. Teman seorang bankir yang melihat debat dari TV di rumah saya menamai Gibran, mirip orang tengil (bahasa jawanya kasar, tidak sopan).

Sebagai jurnalis milenial usia sebaya dengan Gibran, saya mencatat ada kecenderungan Jokowi Junior ini, seperti orang superior.

Baca Juga: Tata Kelola Beras Amburadul

Saya pun ikut introspeksii diri apakah semua anak jaman now tak perlu hargai seorang profesor dan Ketua Umum partai politik level menengah?

Saya menilai Gibran, sepertinya tak sadar dia itu masih wali kota Solo. Narasi-narasi yang digunakan bukan bobot seorang kepala daerah sekelas Solo? Mengapa malam itu ia menampakan diri bak seorang superior?

Menurut  Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), superior artinya orang atasan; pemimpin; atau kepala biara (pembesar) rumah ibadah dan sebagainya. Juga dapat merujuk pada sesuatu yang bersifat tinggi dan berkuasa dalam suatu struktur hierarki.

Mengutip dari laman Healthline, superiority complex adalah sebuah perilaku yang terbentuk karena seseorang merasa lebih hebat daripada orang di lingkungan sekitarnya. Meski sejatinya, kondisi ini terbentuk karena adanya perasaan insecure dan masalah kepercayaan diri.

Perilaku superior yang ditunjukkan hanyalah sebuah cara untuk menghilangkan perasaan-perasaan tersebut.

Maka, ketika seseorang memperlihatkan tanda-tanda superiority complex, sebenarnya mereka hanya merasa terancam.

Apakah Gibran, layak punya tanda-tanda superiority complex? Meminjam istilah yang digunakan Presiden Jokowi, biar rakyat yang menilai.

 

***

 

Dalam debat malam itu, cawapres Mahfud yang seorang profesof sampai mengatakan tidak akan memberi pertanyaan jebakan dan receh kayak Gibran, lantaran ia menghormati sebagai cawapres 2024.

"Mas Gibran, saya menghormati Anda sebagai calon wakil Presiden sehingga saya tidak akan bicara secara menjebak dan receh-receh," kata Mahfud mengawali pertanyaan ke Gibran dalam keempat Pilpres 2024 di JCC Senayan, Minggu (21/1/2024).

Malam itu, Mahfud mengungkit debat Pilpres 2019 di mana yang bertarung adalah Jokowi Vs Prabowo. Mahfud mengingatkan, pertanyaan Prabowo ke Jokowi soal impor komoditas pangan. "Pada tanggal 17 Februari 2019 dalam sebuah debat calon presiden itu Pak Prabowo mengatakan bahwa Pak Jokowi itu menyampaikan tidak akan mengimpor komoditas-komoditas pangan jika nanti terpilih presiden, ternyata kata Pak Prabowo nih, 4 tahun memimpin Pak Jokowi masih mengimpor dan itu merugikan banyak petani. Nanti dicek bahwa itu pertanyaan Pak Prabowo ke Pak Jokowi saat itu," ingat Mahfud.

Mahfud mengatakan janji 5 tahun lalu, tapi pemerintah Jokowi sampai saat ini masih melakukan impor bahan pangan. Mahfud kemudian menanyakan solusi masalah 5 tahun ke depan ke Gibran.

"Pak Jokowi ndak akan mengimpor tapi sampai sekarang kita masih mengimpor banyak, masih mengimpor banyak, malah semakin banyak mafianya impor mengimpor bahan pangan, nah itulah sebabnya. Apa usul Anda untuk menyelesaikan masalah 5 tahun lalu ini?" tambah Mahfud.

Gibran malah membalas Mahfud ngambek sehingga menyinggung soal receh. "Sepertinya Prof Mahfud agak ngambek ya soalnya saya sudah 2 kali memberikan pertanyaan yang sulit, carbon capture, greenflation, selalu dikomenin pertanyaan receh, ya kalau receh ya dijawab pak, gitu lho, segampang itu," jawab Gibran.

Gibran, yang hanya lulusan S2 bisnis apa tidak paham silsilah di perguruan tinggi?  Dalam Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Nomor 59 Tahun 2018, diatur jabatan akademik berdasarkan UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Dijelaskan, Profesor atau guru besar adalah jabatan akademik.

Jabatan tersebut merupakan tingkatan tertinggi yang bisa dicapai oleh dosen atau pengajar di perguruan tinggi. Ini artinya dosen memiliki jabatan politik dengan tingkatan asisten ahli, Iektor, lektor kepala, dan profesor.

Apalagi, profesor Mahfud memiliki karya ilmiah  yang sangat istimewa dalam bidang hukum dan mendapat pengakuan internasional sehingga diangkat menjadi profesor paripurna.

Pertanyaan saya, mestikah sebagai baru cawapres ia membuat pertanyaan menjebak kepada seorang profesor yang juga cawapres?

 

***

 

Gibran, malam itu juga melempar pertanyaan soal greenflation ke Mahfud. Pertanyaan bak cerdas cermat anak SMP-SMA. Pertanyaan itu apa kapasitas seorang wakil presiden?

Saya menilai pertanyaan Gibran semacam itu tak menunjukan kapasitas seorang statesman, dan negarawan?

Pertanyaan ini ke seorang profesor apa bukan untuk mempermalukan di depan publik? Seorang profesor dari Cornel pernah mengatakan ingin melihat orang pintar itu bisa dicerna  bagaimana cara bertanyanya,?

Juga melihat orang bijaksana diketahui dari cara seseorang menjawab. Merujuk ini saya berpendapat Gibran bukan termasuk orang pintar yang bertanya.

Saya menduga apa yang dilakukan Gibran sepertinya hanya menyenangkan hati pendukungnya. Sekaligus membuat kesal lawan debatnya.

Makanya, cawapres nomor urut 3, Mahfud Md, menilai jawaban dari cawapres nomor urut 2, Gibran Rakabuming Raka, tidak karuan. Menurutnya, penjelasan Gibran soal greenflation (inflasi hijau) dengan mengungkit demo rompi kuning di Prancis tidak ada kejelasan.

"Saya juga ingin mencari tuh, jawabannya ngawur juga. Ngarang-ngarang nggak karuan, mengkaitkan dengan sesuatu yang tidak ada," jawab Mahfud sambil tertawa.

Saat mengatakan hal itu, Mahfud sempat menirukan gestur yang dilakukan Gibran kepadanya. Mahfud lalu enggan memberi tanggapan ke Gibran atas pertanyaan solusi menangani greenflation.

Mahfud malah menilai pertanyaan Gibran soal greenflation bersifat 'recehan' sehingga menurutnya tak layak dijawab. "Kalau akademis itu, gampangnya kalau yang bertanya seperti itu tuh recehan. Oleh sebab itu, itu tidak layak dijawab menurut saya, dan oleh sebab itu saya kembalikan ke moderator," kata Mahfud.

Jawaban Mahfud semacam ini apa akan mempengaruhi swing voters. Wait and see.

 

***

 

Baca Juga: PPP Anggap Pilpres Sudah Game Over

Malam itu,  Gibran juga 'menyerang' cawapres nomor urut 1 Cak Imin, tidak paham tentang lithium ferro-phosphate (LFP) dalam mobil listrik. Cak Imin tak menjawab.

Gibran, melontarkan narasi heran Cak Imin tidak paham tentang lithium ferro-phosphate (LFP) dalam mobil listrik. Padahal, menurut Gibran, timses pasangan calon nomor 1 kerap berbicara tentang LFP.

"Ini agak aneh ya, yang sering ngomongin LFP itu timsesnya, tapi cawapresnya nggak paham, LFP itu apa kan aneh, sering bicara LFP LFP lithium ferro-phosphate, Tesla nggak pakai nikel ini kan kebohongan publik mohon maaf, Tesla itu pakai nikel, Pak," kata Gibran, sambil menampakan senyum kecut.

Akhirnya, Cak Imin, membuat sebuah cuitan usai debat.

Di akun X (dahulu Twitter) Cak Imin, Minggu (21/1/2024), bicara soal tantangan saat ini dan solusinya. Dia berkelakar bahwa solusi untuk mengatasi tantangan zaman sekarang adalah dirinya.

"Tantangan Zaman Now, Butuh Solusi Zaman Now. Berarti Solusinya @cakimiNOW," tulis Cak Imin.

Saya paham bila saat pernyataan penutup, Cak Imin mengatakan ucapan sindiran bahwa pembangunan berkelanjutan jangan sampai diabaikan dan malah ngurusi kekuasaan yang berkelanjutan.

Saya juga tertegun Gibran, dalam pernyataan penutup, mencukil kata 'zaman now' . Gibran menganggap permasalahan masa kini di Indonesia butuh solusi masa kini atau zaman now.

Apa itu zaman now?

 

***

 

Ada penelitian dari Observer, yang dilakukan pada beberapa orang tua. Dan dari penelitian itu sebanyak 70% orang tua setuju bahwa anak-anak zaman sekarang memang tidak sopan.

Ada penelitian lain dari Science Nordic yang melibatkan 14.000 orang mahasiswa dari berbagai macam negara.

Ini untuk meneliti mengenai etika yang dimiliki mahasiswa tersebut. Hasilnya lumayan mengejutkan. Dari beberapa indikator penelitian menunjukan bahwa anak muda zaman now, memiliki empati yang 40% lebih rendah daripada generasi sebelumnya.

Kemudian 30% diantaranya sering lupa mengucapkan kata-kata dasar dalam sopan santun seperti terima kasih, maaf, tolong, permisi jadi dibandingkan generasi zaman dulu etika generasi sekarang memang menurun.

Juga dijelaskan anak zaman now yang dimaksud di penelitian tersebut tidak hanya Gen Z (1995-2010) tapi juga termasuk Milenial atau Gen Y (1980-1995). Science Nordic mencatat sebanyak 42% Milenial ketika naik kendaraan umum seperti kereta atau bus. 

Mereka tidak mau memberikan tempat duduk kepada orang tua, penyandang disabilitas, atau ibu hamil. Bagaimana itu bisa terjadi? Dan apa penyebabnya?. 

Jawaban pertama adalah Egosentris Remaja (Adolescent Egocentrism) dimana remaja sering merasa dirinya yang paling ideal dan modern. Realitanya ketika ada orang lain atau orang tua mengatakan kita tidak sopan seringkali kita tidak bisa menerima itu. 

Baca Juga: Diwarnai Keberatan, Prabowo-Gibran Raih 26.976 Suara di Karangpilang

Kemudian jawaban kedua adalah pengaruh lingkungan, karena zaman now ini adalah globalisasi dan modernisasi teknologi sudah sangat luar biasa. 

Gambarannya dunia ini semakin tidak terbatas dan semakin bebas dalam mengakses informasi, sehinga secara tidak langsung membuat ajaran tentang nilai-nilai moral dan sopan santun dari orang tua perlahan mulai tergerus. 

Mengutip dari Joon.com, Egosentrisme Remaja terjadi ketika remaja mengalami perubahan cara pandang. Pada saat memasuki usia remaja seseorang cenderung tidak peduli dengan persepktif orang lain. 

Penelitian ini mencatat mereka secara sadar hanya berfokus pada perspektif, pikiran, dan perasaan mereka sendiri. Dan tidak peduli dengan perasaan orang lain di sekitarnya. 

Dr. Jean Piaget yang pernah meneliti tentang perkembangan pola pikir anak, menjelaskan egosentrisme seseorang  disebabkan karena pada usia transisi dari anak menuju dewasa, remaja akan merasa bahwa semua orang punya cara pandang dan pemikiran yang sama seperti dirinya padahal kenyataannya tidak.

Ingat diantara pemilih pemilu tahun 2024 , ada pemilih diluar generasi now. Jumlah pemilih generasi tua yang lahir sebelum 1981—jumlahnya ada 90 juta pemilih atau 44% suara.

Jumlah ini lebih besar dibanding pemilu anak muda yan lebih dari 116,5 juta atau 56% suara. Bisa jadi ke 44% memilih Ganjar dan Anies. Juga tidak semua generasi milenial termasuk saya setuju dengan etika yang dipertontonkan Gibran.

Ada penelitian tentang "Etika Pergaulan Kaum Millenial: Studi Takhrij dan Syarah Hadis". Penelitian dilakukan oleh Muhamad Rafli Alviansyah, Muhamad Yoga Firdaus, Tatang Zakaria,

Dadang Kahmad. Peneliti mahasiswa Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, dan Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Mereka menganalisis hadis tentang etika pergaulan  kaum millenial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang  ditekankan pada studi pustaka melalui metode takhrij dan syarah hadis dengan menerapkan analisis kontemporer.

Hasil penelitian ini menemukan  bahwa status kualitas hadis etika pergaulan kaum millenial dinilai sahih.  Adapun penjelasam hadis ini menjelaskan bahwa akhlak atau etika Islam  dapat dikatakan sebagai moralitas Islam, yaitu moralitas yang berakar pada  ajaran Allah dan Rasulullah.

Kesimpulan dari penelitian ini adalah para  pemuda millennial disarankan senantiasa untuk lebih memahami tentang hadis. Ini karena  akhlak Islami ini tampak dalam bentuk perilaku masyarakat, sehingga dapat dijadikan sebagai indikator apakah ia milineal muslim yang baik atau muslim yang buruk.

Soal buruk dan baik, saya catat Gibran, suka menjawab dan bertanya dengan atraksi. Gayanya mirip pantomim. Hal yang saya nilai kurang beretika, sebagai sesama peserta debat, Gibran mengurusi cara Cak Imin, menjawab dengan membuka catatan.

Ini saya simak saat ia mendengar jawaban Mahfud tentang ekonomi hijau dan pemanfaatan produk pangan. Usai mendengar jawaban Mahfud, Gibran malah melakukan atraksi gerak tubuh atau gestur celingak-celinguk seolah mencari-cari. Bahkan, gaya celingak-celinguk bak tokoh kera fiksi Sun Go-kong dengan gaya khasnya mencari sesuatu dengan tangan ditengadah di atas kepalanya.

Gibran mengaku sedang mencari jawaban Mahfud tentang greenflation yang tidak ditemukannya.

"Saya lagi nyari jawabannya Prof Mahfud, saya nyari-nyari di mana ini jawabannya, nggak nggak ketemu jawabannya. Saya tanya masalah inflasi hijau kok malah menjelaskan ekonomi hijau?" kata Gibran.

Ini dari aspek kepatutan sesama cawapres apalagi beda generasi dan pendidikan, gestur Gibran saya nilai kurang beretika.

Apalagi sebelumnya, sebagai sesama peserta debat, Gibran mengurusi cara Cak Imin, menjawab dengan membuka catatan. Gaya Gibran semacam ini bak seorang atasan yang urusi   bawahan atau dosen menegur mahasiswanya. Ini saya pandang sebagai gambaran superior.

Menurut akal sehat saya, secara umum, sampai malam itu, Gibran lebih memwacanakan pengetahuan atau referensi ekonomi. Dan itu belum pernah dikerjakan. Apalagi di forum yang ditonton rakyat se Indonesia, Gibran ungkit Tomas Lembong, tim sukses Cak Imin. Gaya Gibran semacam ini cara ia mempertontonkan superioritasnya. Masya Allah! ([email protected])

Editor : Moch Ilham

BERITA TERBARU