Rumah Cetak 3D Dibangun Cuma 18 Jam

author surabayapagi.com

- Pewarta

Jumat, 26 Apr 2024 19:56 WIB

Rumah Cetak 3D Dibangun Cuma 18 Jam

i

Produsen properti Portugal, Havelar memproduksi rumah cetak 3D perdananya yang bisa diselesaikan dalam waktu 18 jam. SP/ businessinsider.sg

SURABAYAPAGI, Jakarta - Salah satu keuntungan dari rumah yang dibuat dengan teknologi cetak 3D adalah pengerjaan yang cepat dan terjangkau. Baru-baru ini, produsen properti Portugal, Havelar, baru saja memproduksi rumah cetak 3D perdananya yang bisa diselesaikan dalam waktu 18 jam saja. Terletak di kawasan Greater Porto di kota terbesar kedua di Portugal, hunian dua kamar tidur memiliki luas 80 meter persegi.

Baca Juga: Cara Bersihkan Rambut Rontok di Rumah

Rumah ini dibangun menggunakan printer BOD2 COBOD, yang juga digunakan untuk memproduksi gedung cetak 3D terbesar di Eropa . Menurut COBOD, satu unit rumah dari Havelar dapat diproduksi dengan harga 1.500 Euro atau Rp 26,1 juta per meter persegi.  

Tentu harganya lebih murah jika dibandingkan dengan harga rumah di Porto yang mencapai 3.104 Euro atau Rp 53,9 juta per meter persegi. Harga yang lebih murah ini sebagian besar disebabkan oleh kecepatan konstruksi yang ditawarkan oleh teknologi cetak 3D.

Baca Juga: Cara Jitu Hemat Tagihan Air di Rumah

Pembuatan rumah dilakukan oleh printer 3D yang mengeluarkan campuran sesuai cetak biru untuk membangun struktur dasar rumah. Walau konstruksi kerangka rumahnya hanya memakan waktu 18 jam, namun para tukang dilibatkan dalam pemasangan jendela, pintu, panel, atap, dan segala hal lain yang diperlukan.

Termasuk lamanya kerja tukang, keseluruhan proyek memakan waktu kurang dari dua bulan untuk diselesaikan. Rumah dari Havelar merupakan hunian sederhana satu lantai. Interiornya ditata mengelilingi dapur dan ruang makan.

Baca Juga: Desain Rumah Tapak Jabatan Menteri di IKN

Selain dua kamar tidur, ada juga ruang tamu dan kamar mandi. Havelar sendiri berharap dapat meningkatkan produksi rumah cetak 3D dan turut berkontribusi dalam mengurangi emisi karbon dengan menggunakan bahan konstruksi alternatif seperti tanah dan jerami.jk/ana

Editor : Mariana Setiawati

BERITA TERBARU