SURABAYAPAGI.com, Jakarta - CEO Tesla, Elon Musk baru-baru ini melakukan pengujian robotaxi, taksi tanpa pengemudi, selama kunjungannya ke China. Serta, berharap jenama otomotif Amerika Serikat tersebut dapat memberi percontohan yang baik
Selama kunjungannya Musk juga melakukan lobi dengan asosiasi otomotif terkemuka China yang berbuah hasil bahwa mobil Model 3 dan Y Tesla lolos peraturan keamanan data. Ini akan memungkinkan pemerintah daerah mengizinkan mobil Tesla masuk ke wilayah China yang sebelumnya dilarang.
Tesla juga telah mencapai kesepakatan dengan Baidu untuk menggunakan lisensi big data pemetaan China untuk mengumpulkan data jalanan umum China.
Meski ini terasa berkaitan dengan data dukungan yang diperlukan robotaxi miliknya, surat kabar China Daily, mengutip sumber yang dekat dengan Baidu bahwa kesepakatan itu hanya akan menyangkut kemitraan untuk meningkatkan keakuratan peta Baidu bersama Tesla.
Menurut surat kabar China Daily yang dilansir dari Reuters pada Minggu (12/05/2024), 'percontohan yang baik' merujuk beberapa produsen otomotif asal China seperti Xpeng, Nio, dan Li Auto yang juga tengah mengembangkan sistem mengemudi otonom ini.
Meski mendapat persetujuan, pihak berwenang China tidak serta merta menyetujui penggunaan fungsi Full Self-Driving (FSD) secara luas. Persetujuan hanya berlaku untuk pengujian robotaxi semata.
FSD adalah versi paling otonom dari perangkat lunak Autopilot milik Tesla. Perangkat lunak ini telah diluncurkan pada tahun 2020. Fitur-fitur perangkat lunak tersebut meliputi parkir mandiri, perubahan jalur otomatis, dan navigasi lalu lintas.
Namun, peluncuran perangkat lunak itu belum secara penuh diterapkan dalam mobil yang legal melenggang di jalanan. jk-02/dsy
Editor : Desy Ayu