Ke-Tionghoa-an Ahok, Diprediksi Jegal Menantu Jokowi

author surabayapagi.com

- Pewarta

Senin, 27 Mei 2024 19:46 WIB

Ke-Tionghoa-an Ahok, Diprediksi Jegal Menantu Jokowi

i

Raditya M Khadaffi

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Ahok, dipertimbangkan PDIP maju dalam Pilgub Sumut 2024. Bila proses pertimbangan ini sudah fix diputuskan Megawati, Ahok bukan hanya akan berhadapan dengan Bobby, tapi juga petahana Eddy Rahmayadi dan Musa Rajekshah, mantan wakil Eddy.

Secara kasat mata, pertarungan di Pilgub Sumut akan lebih kompleks. Artinya, dengan keinginan DPD PDIP Sumut untuk mengusung Ahok, bursa kandidat Gubernur Sumut akan semakin banyak. Ada banyak pilihan dan alternatif bagi warga Sumut. Dan bukan hanya Bobby Nasution, menantu Jokowi.

Baca Juga: Pengusutan Scientific Crime Investigation, Ingat Ferdy Sambo

Nama lengkap Ahok, Ir. Basuki Tjahaja Purnama, M.M. Nama Tionghoanya Zhng Wànxué. Dia lahir 29 Juni 1966. Ahok,keturunan Tionghoa-Indonesia suku Hakka.

 

***

 

Menurut teman saya asal Medan, Tionghoa di Medan disebut cimed atau China Medan. Juga dipanggil Medan Tenglang (Hokkien Medan).

Medan Tenglang sebuah sebutan yang umumnya disematkan kepada orang-orang beretnis Tionghoa yang berasal dari kota Medan, Sumatera Utara, Indonesia.

Saat ini, Medan merupakan kota terbesar ketiga di Indonesia. Medan, juga memiliki penduduk yang majemuk, disana selain penduduk asli Medan juga banyak terdapat para pendatang. Salah satunya Warga Negara Indonesia keturunan Tionghoa.

Menurut sejarah, sejak tahun 1930, Warga Negara keturunan Tionghoa merupakan etnik yang dominan di Medan.

Dilihat dari jumlahnya, 35,63% warga Medan berasal dari etnik keturunan Tionghoa. Jumlah ini sedikit lebih banyak dari penduduk Medan asal Jawa yang berjumlah 24,90%.

Tetapi pada 1994 warga Keturunan Tionghoa dari sekitar 2 juta penduduk kota hanya terdapat sekitar 12%. Batak Toba 14%.

Meski demikian, penguasaan mereka atas sebagian besar pergerakan roda ekonomi dan sikap mereka yang cenderung eksklusif membuat suku-suku ‘pribumi’ di Medan selalu memandang mereka dengan gemas (Tempo, 30 April 1994, Hal.30)

Praktis, warga Negara Indonesia keturunan Tionghoa merupakan salah satu yang berpengaruh dalam perekonomian Medan. Mereka banyak yang mendirikan pabrik-pabrik di kawasan industri Medan, serta menguasai perdagangan.

Tercatat 68,7% Cina Medan bekerja di sektor produksi dan industri, hanya 18,2% yang bergerak di sektor perdagangan.

Maka, pabrik-pabrik yang didirikan oleh Tionghoa Medan ini sebagain besar memperkerjakan orang-orang asli sana (pribumi).

Para tokoh informal warga Keturunan Cina baik yang bergabung dalam berbagai yayasan eksekutif (Yayasan Marga dan lainnya), kompak. Termasuk duduk dalam forum komunikasi bentukan pemerintah daerah setempat. Mereka memiliki hubungan yang sangat dekat dengan pimpinan formal pemerintah. Konon kedekatan yang mencolok soal pengamanan tertentu dari aparat.

Saat ini, suku paling banyak di Medan adalah Batak: 27.985 (23,58%) Suku Minang: 10.677 (8,99%). Tercatat kota Medan merupakan wilayah dengan penduduk terbanyak di Provinsi Sumatera Utara, yakni 2,54 juta jiwa (16,39%) dari total penduduk.

Dilihat dari penduduknya, Medan ternyata tidak hanya diisi oleh oleh orang-orang Batak saja, banyak juga orang Jawa, Tionghoa, Minangkabau, sampai Tamil atau India Indonesia.

 

***

 

Di Medan, ada almarhum Tjong A Fie, dikenal luas. Ia pernah menaruh simpati kepada orang-orang Tionghoa itu dipenjara karena menjadi anggota sebuah organisasi rahasia.

Baca Juga: Berhaji itu Berat!

Tjong A Fie menjadi kepala kaum Tionghoa Karena kemampuannya itu, Tjong A Fie sering diminta pihak perkebunan dan pejabat Belanda untuk membantu mengatasi masalah. Hingga akhirnya masyarakat Tionghoa meminta penguasa Belanda mengangkatnya sebagai wijkmeester atau kepala kaum bagi orang-orang Tionghoa.

Lantas kenapa ada Cimed, diluar tokoh Tjong A Fie ? Konon yang memberikan sebutan itu adalah orang-orang China (Tionghoa) yang ada di Pulau Jawa, khusus­nya Jakarta. Selain rasa salut atas kegigihan orang-orang yang me­reka sebut Cimed, mereka juga iri bahkan takut. Apa yang dita­kutkan? Tentu saja ungkapan ne­gatif. Ungkap­an negatif itu, tidak segan-segan dituliskan oleh Effendi Setiawan, ulet, gigih dan ada teganya.

 

***

 

Bobby Nasution, pernah tegaskan APBD Kota APBD Kota Medan senilai Rp7 Triliun digunakan semaksimal mungkin untuk membenahi Kota Medan.

“Yang hari ini kita lihat dan kita rasakan adalah upaya kami untuk membenahi Kota Medan. Anggaran digunakan untuk kepentingan masyarakat, bukan membangun untuk kepentingan pribadi,” kata Bobby.

Lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini mengaku juga membangun jiwa kewirausahaanya. Ini saat ia masih duduk di bangku kuliah.

Suami Kahiyang Ayu ini juga mengaku pernah terjun ke dunia bisnis Multi Level Marketing (MLM). Namun, cerita ini harus berakhir pahit karena ia menjadi korban penipuan dari bisnis tersebut.

Wali Kota Medan periode 2020-2024 ini saat ini sudah mendaftar ke Partai Gerindra sekaligus sudah menjadi kader Gerindra untuk kendaraan pada Pilkada Sumut 2024 nanti.

Lantas, layakkah pria 33 tahun yang merupakan menantu Presiden Jokowi menjadi Calon Gubernur Sumut?

Baca Juga: Jelang Pilkada, Elite Incar Cuan....

Tokoh masyarakat Kota Medan, Amirudin membeberkan, meski Bobby dari 'Keluarga Istana' tak lantas menjadikan suami Kahiyang Ayu dianggap nepotisme atau membangun dinasti kekuasaan. Pasalnya selama memimpin Kota Medan, ia mengklaim Bobby berhasil melakukan sejumlah pembangunan skala nasional.

Bahkan pembangunannya lebih banyak ketimbang Gubernur Sumut periode 2018-2023 dan wali kota-wali kota sebelumnya.

Menurutnya, kini Medan juga terus berbenah menjadi kota yang benar-benar metropolitan dan berkualitas.

Kita tunggu, pertarungan antara Bobby vs Ahok. Akal sehat saya, itu bakal menjadi hal paling disorot dalam Pilkada serentak yang berlangsung pada 27 November 2024 mendatang.

Maklum, kedua tokoh tersebut sudah dikenal berpengalaman dalam pemerintahan.

Pilkada Sumut diperkirakan akan menjadi pertarungan panas. Ada beberapa nama beken yang siap untuk menjadi saingan berat. Beberapa nama yang sudah mencuat adalah Bobby Nasution, petahana Edy Rahmayadi, dan Musa Rajekshah (Ijeck).

Dengan fakta, Etnis Tionghoa merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Sumatera Utara (Sumut), kehadiran Ahok, bisa mengguncang wilayah bran Tapanuli.

Apalagi, migrasi etnis Tionghoa ke Sumut, terkhusus Kota Medan telah terjadi sejak masa kerajaaan.

Jangan jangan Ahok, akan lanjutkan kesuksesan tokoh Tionghoa bernama Tjong A Fie, yang berkontribusi besar untuk pembangunan Kota Medan. Ia melakukan pendirian bank, rumah sakit dan rumah ibadah lintas agama.

Kini ada juga Galeri Sejarah Tionghoa Sumut yang menampilkan berbagai koleksi lukisan dan artefak tentang sejarah perjalanan etnis Tionghoa di Sumut.

Saya pernah ke Medan, Sumut propinsi multietnis. Bisa bisa ke-Tionghoa-an Ahok, mampu jegal perjalanan menantu Jokowi di Pemprov Sumut. Kita tunggu. ([email protected])

Editor : Moch Ilham

BERITA TERBARU