Meriah, Dugaan Korupsi Rp 300 Trilliun

author surabayapagi.com

- Pewarta

Kamis, 30 Mei 2024 21:05 WIB

Meriah, Dugaan Korupsi Rp 300 Trilliun

i

Raditya M Khadaffi

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Judul ini menggambarkan kemeriahan dugaan korupsi tata niaga komoditas timah wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT Timah Tbk tahun 2015 s/d 2022. Kasus ini meriah karena menyedot perhatian publik senusantara.

Kemeriahan pertama, jumlah kerugian negara dihitung Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) mencapai Rp 300 triliun.

Baca Juga: Berhaji itu Berat!

Kemeriahan kedua, menyeret mantan Direktur Jenderal Mineral dan batu bara (Dirjen minerba), Bambang Gatot Ariyono (BGA). Kejagung menduga BGA memiliki peran di balik layar di kasus ini.

Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus Kejagung, Kuntadi mengatakan BGA diduga mengubah rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) pada kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara tahun 2019. Dia diduga menambah jumlah RKAB dari 30.217 metrik ton menjadi 68.300 metrik ton.

"RKAB ini diubah dengan mengabaikan prosedur yang benar," kata Kuntadi dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Rabu, (29/5/2024).

Kuntadi menambahkan pengubahan RKAB itu sama sekali tidak dilakukan melalui kajian. Berdasarkan hasil penyidikan, penyidik menduga penambahan itu dilakukan untuk memfasilitasi aktivitas transaksi timah yang diproduksi secara ilegal.

Kemeriahan ketiga, kasus tersebut menyeret sejumlah nama-nama beken yang turut terlibat di dalamnya, termasuk di antaranya crazy rich PIK Jakarta, Helena Lim dan suami dari artis Sandra Dewi, Harvey Moeis.

Crazy Rich PIK Helena Lim pada tahun 2018 s/d 2019, saat jadi Manager PT QSE diduga kuat telah membantu mengelola hasil tindak pidana kerja sama sewa-menyewa peralatan processing peleburan timah di wilayah IUP PT Timah Tbk; Perbuatan itu dilakukannya dengan memberikan sarana dan fasilitas kepada para pemilik smelter dengan dalih menerima atau menyalurkan dana Corporate Social Responsibility (CSR), yang sejatinya menguntungkan diri tersangka sendiri dan para tersangka lain.

Dari Crazy Rich PIK Helena, Kejagung sita uang tunai sebesar Rp10 miliar dan SG$ 2.000.000 atau setara Rp 23,4 miliar (asumsi kurs Rp 11.700/SG$). Uang ini diduga kuat hasil tindak kejahatan.

Artinya, secara total Kejagung menyita lebih dari Rp 33 miliar uang dalam dua mata uang berbeda dari Crazy Rich PIK.

Sebelum tersangkut kasus timah, nama Helena Lim terkenal sebagai crazy rich PIK, tajir. Banyak yang mengetahui dia sebagai pengusaha kaya raya yang kerap menampilkan kemewahan.

Hal itu tercermin dari pilihan fesyen Helena. Saat tampil di podcast milik Kaesang, Helena mengenakan pakaian berharga Rp 40 juta. Tidak hanya itu, Helena juga mengenakan anting seharga Rp5 miliar dan gelang bernilai Rp70 juta. Tidak ketinggalan, ada jam tangan seharga Rp2 miliar.

Helena juga kerap menampilkan rumah mewah di PIK yang memiliki campuran gaya klasik dan modern. Rumah tersebut dilengkapi dengan kolam renang hingga salon pribadi.

 

***

 

Kemerihan keempat, dilakukan Harvey yang gemar mengoleksi jam tangan mewah dengan harga mulai ratusan juta hingga puluhan miliar.

Ada merek Rolex Chonograph Paul Newman (Rp24,8 miliar), Ada Richard Mille RM 35-02 Rafael Nadal (Rp2,2 miliar), Ada Patek Philippe Nautilus 5980R/001 (Rp2,1 miliar), Ada Patek Philippe Nautilus 5990/1A-001 (Rp2 miliar), Ada Audemars Piguet Royal Oak (Rp2 miliar), Ada Rolex Cosmograph Daytona 116520 (Rp400 juta).

Beberapa jam tangan yang pernah dikenakan oleh Harvey yang diunggah di akun Instagram Sandra Dewi. Kejagung jufa menyita dua mobil mewah Harvey yakni Rolls Royce dan Mini Cooper. Kekayaan Harvey Moeis pun menjadi pembicaraan hangat di masyarakat.

Kini sebagian besar harta kekayaan suami Sandra Dewi telah disita oleh Kejaksaan Agung, di Kawasan Pakubuwono, Jakarta Selatan pada awal April 2024.

Praktis, Kejagung telah menyita empat mobil mewah milik Harvey yakni Rolls Royce, Mini Cooper, Toyota Vellfire dan Lexus. Serta jet pribadi Bombardier Challenger 605 (Rp270 miliar)

Konon, kekayaan Harvey Moeis bisa mencapai lebih dari ratusan miliaran rupiah.  Melansir bankrate, harga jet pribadi berkisar US$2 juta (Rp31 miliar) hingga US$660 juta (Rp10 triliun).

Baca Juga: Jelang Pilkada, Elite Incar Cuan....

Harvey, juga memiliki rumah mewah senilai Rp271 miliar di Australia dengan ukuran rumah yang cukup luas dan memiliki fasilitas lengkap mulai dari tempat bermain anak, lapangan basket dan memiliki ruang santai keluarga yang cukup luas

Kemeriahan kelima, Kejagung juga menyita uang Rp 76 miliar dan logam mulia di rumah Sandra Dewi. Bahkan, Kejagung memblokir rekening Harvey Moeis.

Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Ivan Yustiavandana mengungkapkan modus yang melatarbelakangi seseorang menyimpan miliaran uang di kediaman pribadi. Tujuannya beragam, termasuk penghindaran pajak.

Temuan itu terungkap setelah rumah tersangka kasus dugaan korupsi PT Timah Tbk (TINS) digeledah oleh Kejaksaan Agung (Kejagung).

Diketahui sumber kekayaan Harvey berasal dari bisnis pertambangan. Harvey sendiri memiliki sejumlah bisnis di sektor tambang batu bara, salah satunya pernah menjabat sebagai Presiden Komisaris PT Multi Harapan Utama (MHU) di Kalimantan Timur.

Kemeriahan keenam, kerugian ekologis, ekonomi dan pemulihan lingkungan dari korupsi tersebut menurut perhitungan ahli lingkungan IPB Bambang Hero Saharjo mencapai Rp271 triliun. Perhitungan tersebut dilakukan sesuai ketentuan Peraturan Menteri LHK Nomor 7/2014.

Kemeriahan ketujuh, Kejaksaan Agung menjerat enam tersangka kasus dugaan korupsi tata niaga timah wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT Timah Tbk tahun 2015 hingga 2022 dengan pasal tindak pidana pencucian uang atau TPPU.

Keenam tersangka kasus pencucian uang tersebut yakni Manager PT Quantum Skyline Exchange (QSE) Helena Lim (HLN); suami aktris Sandra Dewi, Harvey Moeis (HM); Direktur Utama PT Sariwiguna Bina Sentosa Robert Indarto (RI).

Kemudian Komisaris PT Stanindo Inti Perkasa (SIP) Sugito Gunawan (SG); pemilik manfaat atau beneficial ownership CV Venus Inti Perkasa (VIP), Tamron alias Aon (TN); dan Direktur Utama PT Refined Bangka Tin (RBT) Suparta (SP).

Kemeriahan kedelapan, dalam proses penggeledahan, terdapat proses penghalang-halangan sehingga penyidik menetapkan inisial TT sebagai tersangka kasus perintangan penyidikan kasus tersebut.

Tersangka berinisial TT dengan sangkaan yaitu setiap orang yang dengan sengaja menghalangi atau merintangi secara langsung atau tidak langsung terkait penyidikan (obstruction of justice) perkara dugaan tindak pidana korupsi tata niaga komoditas timah di wilayah IUP PT Timah Tbk tahun 2015 s/d 2022.

Baca Juga: Umroh dan Haji, Bisnisnya Pemerintah Arab Saudi

TT ditetapkan sebagai tersangka karena tidak bersikap kooperatif dalam penyidikan. Tim penyidik menyebut tersangka TT melakukan upaya penghalang-halangan, seperti menggembok pintu rumah.

 

***

 

Catatan jurnalistik saya ada ucapan mantan Ketua KPK Abraham Samad tentang celah lebar korupsi di bidang pertambangan. Samad menyebutkan, bila celah korupsi itu bisa ditutup, kekayaan negara akan melimpah sampai mengalir ke warga negaranya.

Kini ada 22 tersangka dan yang perlu disoroti adalah bukan lamanya kasus ini dibongkar, tapi kebangkitan dan keberaniannya ST Burhanuddin sebagai Jaksa Agung yang melahap kasus-kasus kakap, sebut Asabri, Jiwasraya, dan timah.

Perkumpulan Masyarakat Antikorupsi Indonesia atau MAKI Boyamin menyebut ada aktor intelektual dan penikmat fulus dari kasus korupsi ini .

Boyamin menyebut RBS diduga sosok yang menyuruh Harvey dan Helena untuk memanipulasi uang hasil korupsi dengan modus CSR.

RBS diduga pihak yang mendirikan dan mendanai perusahaan-perusahaan yang digunakan sebagai alat untuk melakukan korupsi tambang timah.

Tak hanya itu, Boyamin menuding RBS adalah terduga official benefit alias penikmat utama keuntungan dan pemilik sesungguhnya dari aneka perusahaan pelaku penambangan timah ilegal. Karena itu, kata Boyamin, semestinya RBS dijerat dengan ketentuan tindak pidana pencucian uang atau TPPU.

Menurut akal sehat saya dengan ditangkapnya seorang Dirjen, kasus timah mirip illegal corruption yaitu tindakan korupI yang mengacaukan peraturan atau regulasi hukum tertentu. Kita tunggu sidangnya. ([email protected])

Editor : Moch Ilham

BERITA TERBARU