Jokowi, Lirik Kapolri untuk Kawal

author surabayapagi.com

- Pewarta

Kamis, 30 Mei 2024 21:19 WIB

Jokowi, Lirik Kapolri untuk Kawal

i

Tampang Pegi, yang diduga sebagai otak pembunuhan Vina di Cirebon yang kini telah ditahan di Polda Jabar.

Pro-Kontra Pengacara Hotman Paris vs Dirkrimum Polda Jabar, atas Kasus Pembunuhan Vina dan Kekasihnya

 

Baca Juga: Jor-joran Sumbang Sapi

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Kasus pembunuhan Vina dan kekasihnya, Eky, makin runyam. Presiden Joko Widodo sampai ikut cawe-cawe. Jokowi meminta Polri untuk terus mengawal dan mengusut kasus tersebut secara transparan.

Hal ini sempat ditanyakan ke Jokowi usai meninjau Pasar Lawang Agung, Sumatera Selatan, Kamis (30/5/2024).

"Tanyakan ke Kapolri. Saya sudah menyampaikan agar kasus itu betul-betul dikawal dan transparan, terbuka semuanya. Tidak ada yang perlu ditutup-tutupi," kata Jokowi sambil melirik kepada Kapolri Listyo Sigit, disela-sela meninjau Pasar Lawan Agung di Sumatera Selatan.

Cawe-cawe Jokowi setelah pengacara Hotman Paris menyebut lima dari enam terpidana kasus pembunuhan Vina menyatakan Pegi Setiawan bukan bagian dari pelaku.

Beda dengan pernyataan Dirkrimum Polda Jabar Kombes Surawan. Dirkrimum mengatakan buron dalam kasus ini hanya ada satu, yakni Pegi. Dan kini, sudah ditangkap. Delapan tersangka lainnya sudah diadili dan menjalani hukuman penjara.

"Kami meyakinkan bahwa lima keterangan berbeda dari tersangka itu ada yang menerangkan lima, ada yang menerangkan satu, kami lakukan penyelidikan lebih mendalam," ujar Dirkrimum Polda Jabar Kombes Surawan dalam konferensi pers di Polda Jabar, pada keterangannya Minggu (26/5/2024).

 

Dua DPO Dihapus

Hotman yang juga merupakan kuasa hukum keluarga Vina ini menyebut para terpidana dalam berita acara pemeriksaan (BAP).

"Karena ternyata sebelum Pegi ditetapkan sebagai pelaku DPO yang tertangkap sudah di-BAP enam terpidana dan lima menyatakan bukan Pegi pelakunya, hanya satu yang mengatakan Pegi pelaku," kata Hotman kepada wartawan di Jakarta Utara, Rabu (29/5).

Hotman menyampaikan pihak keluarga Vina pun menyatakan seharusnya kepolisian melakukan penyidikan secara menyeluruh sebelum menetapkan Pegi sebagai tersangka.

Apalagi, lanjut Hotman, kepolisian menghapus dua nama yang masuk dalam DPO. Menurut pengacara yang dijuluki pengacara kondang ini, dengan dihapus dua nama menduga, Polda Jabar ingin cepat menutup kasus pembunuhan Vina dan kekasihnya Eky.

"Kalau Polda Jabar belum berhasil menemukan dua pelaku DPO, ini jangan dibilang fiktif dong. Itu sama aja mau menutup cepat perkara ini," lanjut Hotman.

Perkataan Hotman ini mengacu pada berkas pengadilan kasus pembunuhan Vina dengan delapan terpidana yang telah inkracht oleh Mahkamah Agung.

"Itu di berkas-berkas ini mereka ada. Cara memerkosanya ada. Cara mukulnya diuraikan disini. Bagaimana itu dua DPO dibilang fiktif. Apalagi dalam fakta persidangan, para terpidana itu tidak ada indikasi saling melempar kesalahan kepada tiga DPO," ucap Hotman sambil menunjukkan tumpukan bukti hukum.

Di sisi lain, Hotman juga mendorong agar Polda Jabar menjelaskan secara gamblang hasil BAP yang baru dilakukan dengan para terpidana. Berdasarkan informasi yang Hotman dapatkan, lima dari enam terpidana yang baru di-BAP lagi mengatakan, Pegi Setiawan atau Perong bukan pembunuh Vina yang selama ini dicari. Hanya satu terpidana yang mengatakan bahwa Pegi terlibat dalam aksi pembunuhan Vina.

"Lima terpidana ini mengatakan bukan pegi pelakunya, hanya satu (terpidana) yang mengakui (Pegi terlibat)," ujar Hotman.

Baca Juga: Jokowi Sumbang 68 Sapi Mongol

 

Pertanyakan Pegi

Sementara Marliana, kakak kandung Vina yang mewakili keluarga Vina, juga mempertanyakan status Pegi sebagai tersangka. Ia meminta polisi tak tergesa-gesa menetapkan Pegi sebagai tersangka.

"Saya meminta kepada kepolisian untuk jangan tergesa-gesa. Diselidiki dulu lebih lanjut baru menetapkan. Sebab apalagi polisi langsung mengapus dua nama pelaku dari DPO dan menyebut hanya satu pelaku yang belum ditangkap dan dua (DPO) tidak ada atau fiktif. Kami keluarga kaget. Kami mohon kepolisian menindaklanjuti lagi yang detail," kata Marliana.

 

Pegi Kuli Bangunan

Tak hanya pihak keluarga Vina, teman-teman Pegi Setiawan sesama kuli bangunan juga heran dengan sikap kepolisian dan mempertanyakan penetapan tersangka pembunuhan Vina.

Seperti diketahui, Polda Jabar menyebut Pegi Setiawan adalah seorang kuli bangunan, dan tidak pernah menjadi geng motor. Padahal, saat kejadian, yang menewaskan Vina dan kekasihnya Eky, diduga sekelompok geng motor.

Seperti dikutip Surabaya Pagi dari DetikJabar, Kamis (30/5/2024), tiga teman Pegi yang kuli bangunan, yakni Suharsono, Suparman dan Ibnu menyakinkan bahwa saat kejadian pembunuhan Vina, Pegi tidak berada di Cirebon.

Baca Juga: Pengusaha Korsel Temui Jokowi di Istana

"Saya yakin betul kalau Pegi, saat tanggal kejadian itu, Pegi posisinya nggak di Cirebon. Jadi yakin kalau Pegi bukan pelaku," ungkap Suparman.

Kini, ketiga teman Pegi sudah mendapat surat panggilan permintaan keterangan oleh Polda Jabar sebagai saksi Pegi. "Kita sudah mendapat surat panggilan. Isinya sih minta kami datang ke sana (Polres Cirebon Kota) untu kasih keterangan. Jadi saya akan berikan kesaksian apa adanya," lanjut teman lain, Suharsono.

 

Keyakinan Polda Jabar

Polda Jawa Barat merespons isu penangkapan Pegi Setiawan alias Perong di kasus pembunuhan Vina. Polisi pun menegaskan Pegi adalah pelaku dari kasus yang terjadi di Cirebon 2016 lalu.

"Kita yakinkan bahwa PS adalah ini. kita sudah menyita sejumlah dokumen terkait dengan identitas, baik KK maupun ijazah. Kita yakinkan bahwa ini adalah PS alias Pegi Setiawan," kata Dirrkrimum Polda Jabar Kombes Pol Surawan.

Surawan juga merespons pernyataan bahwa Pegi adalah korban salah tangkap dan dinarasikan sengaja dikorbankan. Menurut Surawan, setelah didalami, hanya Pegi yang menjadi DPO dari kasus pembunuhan Vina Cirebon.

"Perlu saya sampaikan di sini bahwa tidak ada anak pejabat terlibat di sini. Kami sangat koperatif dan transparan terkait penyidikan ini. DPO ya hanya satu, yaitu PS," tuturnya.

"Terkait apapun yang disampaikan, ya itu terserah, silakan. Kami tetep berpengan atau berpatokan pada fakta penyidikan, jadi kita tidak berasumsi apapun di medsos terhadap penyelidikan yang kita lakukan. Kkita berpedoman kepada fakta bukan asumsi," tegasnya. erk/jk/cb/rmc

Editor : Moch Ilham

BERITA TERBARU