Berhaji itu Berat!

author surabayapagi.com

- Pewarta

Jumat, 21 Jun 2024 21:34 WIB

Berhaji itu Berat!

i

Raditya M Khadaffi

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Heboh video minggu ini yang menunjukan banyaknya jenazah jemaah haji meninggal dan tergeletak di jalanan Mina, mengingatkan wilayah Armuzna memang perjalanan haji terberat ketimbang sa'i dan tawaf di Makkah.

Tercatat jumlah jemaah haji yang meninggal dunia hingga Kamis (20/6) meningkat menjadi 1.000 orang. Terbanyak dari Mesir khususnya jemaah yang menunaikan ibadah haji tanpa visa resmi. Sebanyak 165 jemaah asal Indonesia dan tiga di antaranya meninggal karena heatstroke.

Baca Juga: Tergerus Kepercayaan Publik, Capim KPK Dilirik Jenderal Polri Lagi

Ini akibat suhu terik nyaris 52 derajat Celcius. Selain menewaskan banyak jemaah, juga banyak jemaah haji mencari teman dan keluarga mereka yang hilang pada Rabu (19/6/2024).

Tercatat jumlah korban tewas dalam ibadah tahunan ini meningkat di tengah suhu terik nyaris 52 derajat Celcius.

Menurut laporan AFP, jemaah yang meninggal dunia akibat penyakit yang disebabkan panas ekstrem di Arab Saudi.

Menilik napak tilas saya berhaji tahun 2011 yang suhu tertinggi 37 derajat Celcius, saya bisa memahami tempaan berhaji bersuhu tinggi seperti musim haji tahun 2024 kali ini.

 

***

 

Membaca dan melihat video peristiwa di Mina itu saya penasaran, sebenarnya berapa suhu maksimum yang dapat ditahan tubuh manusia?

Ada Studi meyakini, manusia bisa menahan panas hingga 35 derajat Celcius suhu bola basah. Suhu bola basah adalah suhu yang dibaca oleh termometer dengan sumbu basah di atas bola lampu dan dipengaruhi oleh kelembaban dan pergerakan udara. Namun, penelitian dari Penn State University mematahkan studi tersebut.

Ternyata, rekor suhu terpanas di dunia pecah setelah 125 ribu tahun. Seberapa Panas?

Menurut para peneliti, bahwa suhu bola basah 35 derajat Celcius. Ini suhu batas atas kemampuan beradaptasi manusia. Suhu itu didasarkan pada teori dan pemodelan dan bukan data dunia nyata dari manusia.

Untuk penelitian ini, para peneliti saat itu merekrut 24 peserta antara usia 18 dan 34 tahun. Sementara para peneliti berencana untuk melakukan percobaan ini pada orang dewasa yang lebih tua, mereka ingin memulai dengan orang yang lebih muda.

"Orang muda, bugar, dan sehat cenderung mentolerir panas dengan lebih baik, sehingga mereka akan memiliki batas suhu yang dapat berfungsi sebagai dasar 'kasus terbaik'," kata Kenney.

"Orang tua, orang yang sedang dalam pengobatan, dan populasi rentan lainnya kemungkinan besar akan memiliki batas toleransi di bawah itu," sambungnya.

Sebelum percobaan, setiap peserta menelan perangkat telemetri radio kecil yang terbungkus kapsul yang kemudian akan mengukur suhu inti mereka selama percobaan.

Kemudian, peserta memasuki ruang lingkungan khusus yang memiliki tingkat suhu dan kelembaban yang dapat disesuaikan. Sementara peserta melakukan aktivitas fisik ringan seperti bersepeda ringan atau berjalan perlahan di atas treadmill, suhu bilik meningkat secara bertahap.

Ditemukan manusia bisa bertahan sampai suhu 31 Derajat Celcius.

Setelah menganalisis data mereka, para peneliti menemukan bahwa suhu bola basah kritis berkisar antara 25 derajat Celcius hingga 28 derajat Celcius. Sementara di lingkungan panas-kering dan dari 30 derajat Celcius hingga 31 derajat Celcius.

"Hasil kami menunjukkan bahwa di bagian dunia yang lembab, kita harus mulai khawatir, bahkan terhadap orang muda yang sehat - ketika suhu bola basah di atas 31 derajat," kata Kenney.

"Saat kami melanjutkan penelitian kami, kami akan mengeksplorasi berapa angka itu pada orang dewasa yang lebih tua, karena mungkin akan lebih rendah dari itu," sambungnya.

Baca Juga: Kader NU 'Mesra' Pada Israel, 'Abaikan' Konstitusi RI

Peneliti menambahkan bahwa karena manusia beradaptasi terhadap panas secara berbeda tergantung pada tingkat kelembapan. Membuat kemungkinan tidak ada satupun batas batas yang dapat ditetapkan sebagai "maksimum" yang dapat ditanggung manusia.

Setelah menganalisis data mereka, para peneliti menemukan bahwa suhu bola basah kritis berkisar antara 25 derajat Celcius hingga 28 derajat Celcius.

Sedangkan suhu terpanas sepanjang sejarah modern terjadi di Death Valley, California, Amerika Serikat, di mana suhunya mencapai 56,7 derajat celsius pada 1913.

 

***

 

Bagi saya pribadi, berhaji merupakan pengalaman yang tak terlupakan seumur hidup.

Selama melakukan serangkaian ibadah haji, momen berada di kawasan Arafah, Muzdalifah dan Mina atau Armuzna merupakan tiga tempat yang paling memberikan kesan mendalam bagi saya dan keluarga.

Sebab, cuacanya panas berdebu, dan ramai serta berdesak desakan. Ini membuat diri saya benar-benar berjuang melakukan serangkaian kegiatan ibadah di Tanah Suci.

Apalagi suhu Makkah lebih panas di siang hari ketimbang Kota Jeddah dan Madinah. Tahun 2011, say catat pagi hari di Makkah cuaca 31,1 derajat celcius.

Semakin siang, cuaca di Makkah semakin tinggi, puncak panas terjadi pada pukul 15.00 sore waktu setempat, yaitu pernah mencapai 42 derajat celcius.

Baca Juga: Trump Baru Sekali, Soekarno 4 Kali Ditembak

Saya kutip dari weather.com, Minggu (2/10/2011), tingkat kelembaban udara diramalkan pada siang hari mencapai 32 persen, kemudian meningkat di malam hari 50 persen. Seiring menurunnya suhu panas menjadi 34 derajat celcius pada pukul 21.00 malam. Kecepatan angin pada hari itu juga tidak terlalu kencang, kecepatan terjadi pada kisaran 1 hingga 2 mph. Madinah, kota yang pertama kali saya datangi, sedikit lebih adem ketimbang Makkah. Pagi hari, cuaca di Madinah 30 derajat celcius, meningkat di siang hari hingga 40 derajat celcius, tepatnya pada pukul 15.00, kemudian pada pukul 21.00 malam turun menjadi 36,1 derajat celcius.

Pada pukul 15.00 sore panas meningkat hingga 37 derajat celcius.

Saya harus berjuang berdesak-desakan dengan jemaah haji dari negara lain untuk menyelesaikan serangkaian ibadah di kawasan tersebut. Selama beribadah di Armuzna ini yang paling berat .

Saat itu, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) melarang jamaah haji Indonesia untuk melempar jumroh aqobah pada Senin (16/11) pagi waktu Arab Saudi (WAS). Pasalnya kondisi terowongan Muazim, yang lebih dikenal dengan sebutan terowongan Mina, sangat padat banyak jemaah berdesak-desakan.

Suasana ini juga terjadi di jembatan jamarat, tempat melempar jumrah aqobah bagi dua juta lebih jamaah haji dunia.

Perjalanan haji tahun 2011, bagi saya berhaji merupakan pengalaman yang tak terlupakan seumur hidup.

Saya mengenang selama melakukan serangkaian ibadah haji, momen berada di kawasan Arafah, Muzdalifah dan Mina atau Armuzna merupakan tiga tempat yang paling memberikan kesan mendalam.

Di area ini saya merasakan "beratnya" berhaji dalam cuaca yang panas dan ramai. Ini yang membuat saya benar-benar berjuang melakukan serangkaian kegiatan ibadah di Tanah Suci.

Saya harus berjuang berdesak-desakan dengan jemaah haji dari negara lain untuk menyelesaikan serangkaian ibadah di kawasan tersebut.

Jujur, selama beribadah di Armuzna ini adalah ritual haji yang paling berat. Namun, karena tekad yang sudah kuat menjalankan rukun Islam, semuanya bisa saya lewati. Alhamdulillah. ([email protected])

Editor : Moch Ilham

BERITA TERBARU