SURABAYAPAGI.com, Jakarta - Baru-baru ini Volkswagen mengungkap akan menutup pabrik mobil listriknya yakni Audi di kawasan Eropa, Belgia sebagai langkah penghematan biaya imbas penjualan mobilnya yang akhir-akhir ini lesu. Tentu saja, hal ini akan menjadi sebuah keputusan penting bagi produsen mobil terbesar Eropa tersebut.
Pasalnya, pabrik mobil listriknya yang berada di Brussels, Belgia memiliki biaya operasional yang tinggi, sehingga berpotensi menjadi yang pertama karena permintaan rendah untuk SUV listrik yang diproduksi di sana.
Penjualan mobil listrik yang lesu tersebut membuat para produsen mobil, termasuk Mercedes-Benz Group AG, harus memikirkan kembali rencana mereka. Wilayah utama seperti Jerman, pasar mobil terbesar Eropa, telah menghapus atau mengurangi insentif untuk kendaraan listrik.
Diketahui, produsen mobil asal Jerman tersebut telah mengoreksi perkiraan laba operasinya menjadi maksimal 7 persen, turun dari perkiraan tertinggi sebelumnya yaitu 7,5 persen
Analis Deutsche Bank yang dipimpin oleh Tim Rokossa mengungkapkan, jika hal ini meningkatkan tekanan pada perusahaan lama dengan kehadiran pemain baru seperti BYD dari China yang mulai memasuki pasar mereka. Keberadaan serikat pekerja yang kuat di Volkswagen selama ini telah mempersulit upaya restrukturisasi perusahaan.
"Penutupan pabrik akan menjadi langkah besar ke arah yang benar. Sebagian besar investor mungkin tidak melihatnya sebagai sebuah kemungkinan," jelasnya, Senin (15/07/2024).
Manajemen Audi telah berdiskusi dengan pemerintah Belgia tentang masa depan pabriknya di Brussels, yang hanya memproduksi model Q8 E-Tron mewah dan variasinya. Penutupan pabrik hanyalah salah satu dari beberapa opsi restrukturisasi, kata Volkswagen. Langkah ini merupakan bagian dari program efisiensi biaya dan perubahan ukuran yang sedang berlangsung di VW. jk-02/dsy
Editor : Desy Ayu