3 Aktivis dan Akademisi: Revisi UU Pilkada Cacat Secara Formil dan Materil

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta – Tiga akademisi dan aktivis anti korupsi Zainal Arifin Mochtar,  M Praswad Nugraha dan Titi Anggraini, menyoroti Badan Legislasi DPR (Baleg DPR) dan Pemerintah yang dalam waktu 7 jam sudah menyepakati Revisi Undang-Undang Pilkada untuk dibawa ke Paripurna Kamis ini.

Rapat Baleg DPR soal RUU Pilkada Rabu (21/8/2024) digelar sehari setelah sidang putusan Mahkamah Konstitusi (MK).  Dalam putusan MK yang diketok Selasa (20/8), MK memutuskan sejumlah aturan krusial terkait Pilkada mulai dari batas usia cagub dan cawagub hingga ambang batas dukungan partai politik.

Namun, dalam sidang Baleg DPR soal RUU Pilkada hari ini, sejumlah kesepakatan yang dicapai dalam rapat bertentangan dengan putusan MK

 

Pertanyakan Akomodir Aspirasi Publik

Zainal mempertanyakan perihal akomodir aspirasi publik. "Coba kita tanyakan ke mereka (DPR), bikin Undang-Undang mana aspirasi publiknya?" kata Zainal saat dihubungi, Rabu (21/8/2024).

Senada dengan Zainal, Anggota Dewan Pembina Perludem Titi Anggraini juga menyebut revisi yang dilakukan Baleg DPR Selasa (21/8) bermasalah secara formil dan materil. Dia menegaskan tidak ada partisipasi masyarakat dalam menyusun revisi tersebut.

"Revisi ini bermasalah secara formil maupun materil. Partisipasi masyarakat dinegasikan dan subtansinya menyimpangi putusan MK. Pembentuk UU secara sengaja mempertontonkan pembegalan konstitusi dan sama sekali tidak menjalankan perannya sebagai suara ataupun aspirasi publik," ucapnya.

Selain itu, dia juga menyebut putusan Baleg DPR ini juga menunjukkan adanya tirani mayoritas dan hegemoni elite politik. Menurutnya, jika dibiarkan, maka Pilkada 2024 terancam tidak legitimiate.

Selain itu, ini menunjukkan adanya tirani mayoritas dan hegemoni elite politik yang telah merumuskan kebijakan kesewenang-wenangan. Dampaknya bila terus dibiarkan, pilkada 2024 terancam Inkonstitusional dan tidak legitimate," ujar dia.

 

Rapat RUU Pilkada 7 Jam

Rapat RUU Pilkada itu berjalan tujuh jam hingga akhirnya akan dibawa ke paripurna DPR besok. Rapat RUU Pilkada di ruang rapat Baleg DPR, kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, dimulai pukul 10.10 WIB. Rapat dipimpin oleh Wakil Ketua Baleg DPR, Ahmad Baidowi atau Awiek.

Rapat sejak Rabu pagi itu turut dihadiri Menkumham Supratman Andi Agtas, dan Mendagri Tito Karnavian. Hadir pula jajaran pejabat utama Kemenkumham dan Kemendagri dalam rapat.

 Kemudian rapat membahas pasal-pasal masalah yang dimasukkan dalam RUU Pilkada.

Selanjutnya, pada siang hari, rapat dilanjutkan pembahasan di tim khusus (timsus) dan tim sinkronisasi (timsin). Akhirnya pada sore hari, sekitar pukul 15.00 WIB, rapat pengambilan keputusan tingkat I dilakukan.

Delapan fraksi di DPR pun menyepakati RUU Pilkada untuk dibawa ke rapat paripurna. Sementara itu, hanya Fraksi PDIP yang menyatakan menolak RUU Pilkada.

Rapat pembahasan RUU Pilkada di Baleg DPR berakhir sekitar pukul 16.55 WIB. Artinya, rapat RUU Pilkada berjalan sekitar 7 jam hingga akhirnya disepakati mayoritas fraksi DPR, pemerintah, dan DPD.

 

Dugaan Korupsi Legislasi

IM57+ Institute juga mengkritik rapat Badan Legislasi (Baleg) DPR yang membahas revisi Undang-Undang Pilkada. IM57 menilai ada korupsi legislasi yang dilakukan DPR tersebut.

"Tindakan DPR RI yang secara terburu-buru membahas RUU Pilkada pasca Putusan MK Nomor 60/PUU-XXII/2024 adalah bentuk korupsi legislasi. MK hadir untuk menjaga agar tidak adanya UU yang bertentangan dengan konstitusi," kata Ketua IM57+Institute, M Praswad Nugraha, dalam keterangan kepada wartawan, Rabu (21/8/2024).

IM57 lalu membandingkan sikap DPR yang kompak 'adem ayem' saat merespons putusan MK yang lain. Putusan MK dimaksud ialah saat MK memberikan lampu hijau bagi Gibran Rakabuming Raka maju sebagai calon wakil presiden awal tahun ini.

"Tindakan tersebut sangat berbeda ketika Putusan MK menguntungkan kepentingan penguasa yang ada, misalnya dengan adanya alternatif syarat bagi pencalonan anak presiden. Ini menunjukan bahwa selera penguasa menjadi penentu sehingga prinsip-prinsip legislasi tidak lagi sesuai dengan prinsip demokratis sehingga menimbulkan korupsi legislasi,” lanjut Praswad. ec/jk/rmc

Berita Terbaru

Kapolri Suyudi Larang Polisi Rekayasa Kasus

Kapolri Suyudi Larang Polisi Rekayasa Kasus

Jumat, 02 Okt 2026 08:18 WIB

Jumat, 02 Okt 2026 08:18 WIB

Gelisah dengan Fenomena No Viral No Justice…

Bank Syariah Lakukan Transaksi Digital

Bank Syariah Lakukan Transaksi Digital

Jumat, 02 Okt 2026 07:22 WIB

Jumat, 02 Okt 2026 07:22 WIB

SURABAYAPAGI.com – Bank syariah memperluas layanan perbankan digital bagi nasabah. Hal ini dilakukan untuk memudahkan nasabah dalam melakukan transaksi d…

Ojol akan Dimasukan Kategori Transportasi

Ojol akan Dimasukan Kategori Transportasi

Jumat, 02 Okt 2026 07:20 WIB

Jumat, 02 Okt 2026 07:20 WIB

SURABAYAPAGI.com – Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi menargetkan revisi aturan tersebut rampung tahun ini dan mulai berlaku pada 2027. Dalam r…

WIKA, Senang Keluar dari Whoosh

WIKA, Senang Keluar dari Whoosh

Jumat, 02 Okt 2026 07:14 WIB

Jumat, 02 Okt 2026 07:14 WIB

SURABAYAPAGI.com – PT Wijaya Karya (Persero) Tbk atau WIKA menyambut baik rencana pemerintah untuk mengambil alih seluruh saham PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia …

Wuling Aira ev Ditawarkan Rp 155 juta

Wuling Aira ev Ditawarkan Rp 155 juta

Jumat, 02 Okt 2026 07:12 WIB

Jumat, 02 Okt 2026 07:12 WIB

SURABAYAPAGI.com – Wuling bikin kejutan saat meluncurkan Aira ev. Sebab, harga jual Aira ev terbilang murmer! Wuling Aira ev ditawarkan dalam dua varian. Harga …

Harga BBM di Malaysia Turun

Harga BBM di Malaysia Turun

Jumat, 02 Okt 2026 07:10 WIB

Jumat, 02 Okt 2026 07:10 WIB

SURABAYAPAGI.com – Harga BBM di Malaysia terpantau mengalami penurunan pada awal bulan ini. Harga BBM jenis RON 95 dan RON 97, termasuk solar di Malaysia, m…