Kasih Karunia

Tak ada Larangan Ucapkan Selamat Idul Fitri

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Saya, yang adalah seorang Kristen, hari Senin-Selasa minggu lalu, ikut merayakan Idul Fitri bersama teman saya dan keluarganya yang beragama Islam, di sebuah wilayah di pinggiran kota Surabaya.

Saya tak akan melewatkan momen langka ini. Pengalaman itu yang kemudian saya simpulkan bahwa Idul Fitri bukan sekedar perayaan umat Islam. Bagi saya, ia telah mengalami perluasan makna. Tidak sebatas perayaan spiritual, ia acapkali bersinggungan dengan budaya dan bahkan dengan umat beragama lain. Bukan sesuatu yang asing juga jika berbagai kelompok etnik, suku bangsa dan agama di Indonesia juga merayakan hari kemenangan tersebut.

Bagi saya, tidak ada larangan dalam ajaran Kristen untuk mengucapkan selamat Idul Fitri.

Saya saat berada di tengah perayaan Idul Fitri, saya tetap menunjukkan sikap toleransi dan menghargai perbedaan.

Ini karena ajaran Kristiani mengajarkan untuk mengasihi sesama manusia. Bagi saya mengucapkan selamat Idul Fitri adalah salah satu cara untuk menunjukkan kasih sayang.

Saya tanya kepada saudara-saudara kita yang beragama Islam, Idul Fitri dimaknainya sebagai momen kembalinya hakikat kemanusiaan kepada kesucian dan fitrah. Kesucian itu  digambarkan layaknya bayi yang baru lahir setelah dikandung selama 9 bulan dalam rahim ibu.

Kata ‘rahim’ juga merujuk pada nama Allah. Allah Rahim (Ar Rahiim) diartikan sebagai Yang Memiliki Mutlak sifat Penyayang. Sebuah makna yang mendalam di mana Allah begitu menyayangi umat-Nya. Dan Allah rindu pada umat-Nya untuk kembali berpulang ke dalam fitrah-Nya.

Dalam spiritualitas Kristen, Allah juga disebut sebagai Maharahim. Rahim merujuk pada perempuan, terkhusus pada rahim ibu. Rahim dimaknai sebagai bagian yang sungguh rapuh, namun di satu sisi, disitulah muncul benih kehidupan. Dalam kerapuhan itu, rahim telah menunjukkan hubungan cinta yang searah antara sang ibu dengan sang buah hati. Di situlah hadir cinta yang melindungi, menghidupi, menghangatkan, memberi pertumbuhan, menjaga, menerima tanpa syarat.

Sebutan Allah Maharahim sebenarnya ingin menegaskan bahwa Ia tetap setia dan mau menerima kita walaupun berlumuran dosa sekalipun. Sebuah kepastian bahwa cinta-Nya tak berkurang sedikit pun walaupun kita adalah manusia yang rapuh layaknya rahim. Nabi Yesaya menegaskan bahwa “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.” (Yes 49:15).

Rahim bagaikan rumah yang menerima kita apa adanya. Kita pun dipanggil untuk berpulang, mengarah dan tertuju kepadanya. Kita pun seperti kisah anak yang hilang dalam Injil Lukas (Luk 15:11-32). Dalam proses berpulang itu pun, kita seringkali menilai bahwa diri kita berdosa, tidak pantas dan tidak layak (ay.21) namun, Sang Bapa tetap memberikan jubah, cincin, sepatu yang terbaik dan bahkan menyembelih anak lembu tambun sebagai bukti sukacita sang ayah atas berpulangnya sang anak (ay. 22-23).

Rembrandt dalam lukisan nya “The Return of the Prodigal Son” bahkan menggambarkan sang bapa yang hadir dengan tangan yang terbuka untuk merangkul sang anak yang telah berpulang tersebut.

Salah satu budaya yang senantiasa melekat dari perayan Idul Fitri adalah mudik. Puluhan juta orang telah meninggalkan daerah asalnya untuk mengadu nasib, memperbaiki kehidupan dan mencapai kemapanan dengan hijrah ke perkotaan.

Pada momen Idul Fitri, mereka kembali ke kampung halaman nya untuk merasakan kembali suasana kekeluargaan yang penuh kebersamaan dan kehangatan. Kota-kota besar di Indonesia seperti di Surabaya seketika cukup sunyi , sebaliknya, desa yang saya kunjungi, sangat padat dan penuh sesak.

Budaya mudik pada momen Idul Fitri tidak hanya sekedar bercengkrama dengan sanak keluarga. Lebih dari itu, ruang pengampunan tercipta. Anggota keluarga saling memaafkan satu sama lain dan dalam budaya tertentu, para anak akan sungkem kepada orang tua sebagai simbol ruang pengampunan. “Mohon maaf lahir dan batin” menjadi perkataan yang lazim diungkapkan pada momen Idul Fitri.

Momentum untuk kembali kepada kesucian, saya pahami sebenarnya dimulai dari kerelaan hati untuk mau memaafkan. Ruang pengampunan dalam momen Idul Fitri tidaklah dimaknai secara sempit, yakni hanya sebagai formalitas semata dan sebagai usaha hanya untuk melupakan kesalahan orang lain. Lebih dari itu, memaafkan sebenarnya sebuah tindakan yang dilakukan dengan penuh kerendahan hati untuk mau mengakui kesalahan diri sendiri dan kesalahan orang lain serta kerelaan untuk saling menuntun menuju kepada kesucian (fitrah).

“Ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” adalah salah satu kutipan yang sangat terkenal yang tercantum dalam Doa Bapa Kami (Mat 6:9-13).

Doa tersebut mengajak kita untuk menghadirkan ruang pengampunan yang penuh dengan ketulusan, ihklas dan tanpa dendam. Jika berdosa merupakan suatu hal yang insani, maka pengampunan dan tindak memaafkan adalah tindakan yang Ilahi. Melalui pengampunan dan tindak memaafkan, kita diundang untuk melampaui keinsanan diri kita menuju kepada keilahian.

Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1446 Hijriah kepada para sahabat yang merayakannya. Mari kita berpulang kembali menuju fitrah dengan menghadirkan ruang pengampunan yang penuh dengan ketulusan, ihklas dan tanpa dendam. Melaluinya, kita akan melampaui keinsanan diri kita menuju kepada keilahian. Amiin (Maria Sari)

Berita Terbaru

19 Sekolah Muhammadiyah di Gresik Raih Penghargaan atas Kenaikan Jumlah Murid

19 Sekolah Muhammadiyah di Gresik Raih Penghargaan atas Kenaikan Jumlah Murid

Minggu, 05 Apr 2026 16:27 WIB

Minggu, 05 Apr 2026 16:27 WIB

SURABAYAPAGI.com, Gresik - Sebanyak 19 sekolah Muhammadiyah di Kabupaten Gresik menerima penghargaan atas keberhasilan meningkatkan jumlah peserta didik secara…

Daop 7 Madiun Catat Enam Gangguan Perjalanan KA Selama Angkutan Lebaran 2026

Daop 7 Madiun Catat Enam Gangguan Perjalanan KA Selama Angkutan Lebaran 2026

Minggu, 05 Apr 2026 15:00 WIB

Minggu, 05 Apr 2026 15:00 WIB

SURABAYAPAGI.com, Blitar - Selama masa Angkutan Lebaran 2026, PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 7 Madiun mencatat adanya enam kejadian gangguan…

Kurang Waspada! Motor dan Truk Adu Banteng, Pengendara Motor Tewas di TKP

Kurang Waspada! Motor dan Truk Adu Banteng, Pengendara Motor Tewas di TKP

Minggu, 05 Apr 2026 14:55 WIB

Minggu, 05 Apr 2026 14:55 WIB

SURABAYAPAGI.com, Blitar - Kecelakaan antara pengendara motor dan Truk Isuzu dengan adu banteng yang terjadi pada Minggu (5 April 2026) dini hari mengejutkan…

Kebijakan Pembatasan Belanja Pegawai 30 Persen dari APBD Akan Resmi Berlaku Tahun 2027

Kebijakan Pembatasan Belanja Pegawai 30 Persen dari APBD Akan Resmi Berlaku Tahun 2027

Minggu, 05 Apr 2026 14:23 WIB

Minggu, 05 Apr 2026 14:23 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Terkait kebijakan pembatasan belanja pegawai maksimal 30 persen dari APBD akan resmi diberlakukan tahun 2027. Dimana, postur APBD…

Usai Santap Nasi Berkat Tahlilan, Puluhan Korban Diduga Alami Keracunan Muntah-Diare

Usai Santap Nasi Berkat Tahlilan, Puluhan Korban Diduga Alami Keracunan Muntah-Diare

Minggu, 05 Apr 2026 14:14 WIB

Minggu, 05 Apr 2026 14:14 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Baru-baru ini viral, seusai menyantap nasi berkat tahlilan di Jalan Sido Kapasan Gang 10, Simokerto, Surabaya, sebanyak puluhan…

Warga Napis Bojonegoro Akhirnya Miliki Jembatan, Pasca Penantian Puluhan Tahun

Warga Napis Bojonegoro Akhirnya Miliki Jembatan, Pasca Penantian Puluhan Tahun

Minggu, 05 Apr 2026 14:06 WIB

Minggu, 05 Apr 2026 14:06 WIB

SURABAYAPAGI.com, Bojonegoro - Setelah menanti selama puluhan tahun, akhirnya kini warga di perbatasan Bojonegoro dan Ngawi bisa bernapas lega lantaran…