SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Saat ini telah ada Layanan Bank Emas. Harapannya, masyarakat bisa beralih dan menyimpan di Bank Emas. Sudah ada 2 perusahaan yang menyediakan layanan tersebut, yakni PT Pegadaian dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk atau BSI.
Layanan tersebut bisa digunakan oleh masyarakat luas. Apalagi ada sejumlah kemudahan yang ditawarkan.
Konon adanya Pegadaian, likuiditas sudah bisa dirasakan tetapi nanti kalau kita bisa masukan lagi dalam bentuk deposito emas atau yang lain itu akan lebih likuid lagi. Ini promosinya.
Maklum, saat ini dicatat ada potensi besar kepemilikan emas di masyarakat. Data yang saya catat ada 1.800 ton emas yang beredar. Jika dihitung, nilainya bisa mencapai Rp 300 triliun.
Kini, saat situasi ekonomi bergejolak, emas dianggap memainkan peran penting. Dalam kondisi ekonomi yang tidak stabil atau saat inflasi meningkat, emas sering dianggap sebagai "safe haven" atau tempat berlindung yang aman. Ini mitos atau realita?
Saya serap di masyarakat, bagi mereka yang ingin mempertahankan kekayaannya di tengah fluktuasi nilai mata uang, emas menjadi pilihan utama.
Orang kaya berinvestasi emas menganggap sebagai instrumen investasi yang aman dan tahan terhadap inflasi.
Mengikuti tren di perbankan, Investasi emas hanya untuk orang kaya. Emak emak kumpulan perhiasan dan gadai.
Maklum, investasi emas dapat dimulai dengan modal kecil, seperti melalui produk tabungan emas atau emas batangan Antam yang harganya terjangkau.
Padahal dalam sejarah, investasi emas berisiko tinggi.
Tapi ada emak emak kaya menganggap emas sebagai instrumen investasi dengan risiko rendah dan stabil, terutama dalam jangka panjang.
Makanya, nvestasi emas tidak cocok untuk pemula.
Dalam mitos, hanya emas fisik yang menguntungkan.
Juga ada mitos, emas tidak memberikan keuntungan jangka pendek. Konon, harga emas memang cenderung naik dalam jangka panjang, tetapi juga bisa mengalami fluktuasi dalam jangka pendek.
Artinya, investasi emas hanya melindungi kekayaan dari inflasi.
Saya catat, hanya ketika ekonomi stabil, minat terhadap emas sedikit berkurang karena masyarakat memiliki lebih banyak opsi investasi lainnya.
Kesimpulan saya, dinamika harga emas di pasaran dapat mempengaruhi niat seseorang untuk berinvestasi.
Artinya, jika harga emas sedang tinggi, emak emak kaya mungkin menunda pembelian karena khawatir harga akan turun di masa depan. Sebaliknya, saat harga emas rendah, emak emak berduit bernafsu membeli karena dianggap sebagai peluang investasi yang lebih menguntungkan.
Sadar atau tidak, di masyarakat, emas mulai dipilih sebagai instrumen investasi yang digemari . Selain karena nilainya yang cenderung stabil, emas juga memiliki daya tarik tersendiri sebagai aset lindung nilai yang dapat melawan inflasi. Namun, tidak semua emak emak memiliki minat yang sama untuk berinvestasi emas.
Ada sejumlah faktor yang dapat mempengaruhi ketertarikannya terhadap investasi emas. Salah satunya,
pengetahuan tentang emas sebagai alat investasi. Mereka yang punya kesadaran bahwa emas memang memiliki nilai intrinsik dan merupakan aset yang likuid cenderung lebih tertarik untuk berinvestasi. Di sisi lain, kurangnya informasi dapat menyebabkan keraguan. (Lordna Putri)
Editor : Moch Ilham