Gibran Diumek-umek Terus...

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Raditya M Khadaffi
Raditya M Khadaffi

i

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Judul berita utama harian Surabaya Pagi, edisi Senin (28/4) "Gibran, tak Ditemukan Skandal untuk Dimakzulkan".

Judul ini sedikit agitatif. Maklum, ini berita dibuat koran independen. Bisa jadi judul tersebut berusaha memengaruhi pembaca. Terselip pernyataan emosi .

Kata "agitasi" dalam bahasa Indonesia berarti "menghasut" atau "menggerakkan".

Dalam konteks ini, judul tersebut seolah-olah sedang mengajak pembaca untuk merasa atau berpikir bahwa "judul ini" memiliki sifat daya tarik.

Kalimat "sedikit agitatif" merupakan pernyataan subjektif. Ini berarti tidak ada bukti objektif untuk mendukung klaim tersebut. Pembaca dibiarkan menginterpretasikan kalimat ini berdasarkan pengalaman dan perspektif mereka sendiri.

Judul ini bisa menimbulkan rasa penasaran bagi pembaca. Ini karena kata "agitatif" biasanya dikaitkan dengan situasi yang melibatkan emosi  atau tindakan yang mungkin tidak disukai oleh semua orang.

Artinya judul ini secara implisit mengklaim bahwa maksud yang disampaikan (yang belum diketahui) memiliki sifat bertanya tanya. Ini adalah penggunaan kata untuk menarik perhatian  pembaca.

Saya menggunakan judul ini tergiur dengan sikap Forum Purnawirawan Prajurit TNI.

Salah satu jenderal TNI yang mendatangani surat tersebut ialah Wapres ke-6 sekaligus Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) periode 1988-1993 Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno.

Para sesepuh TNI mengusulkan pergantian Wakil Presiden kepada MPR karena keputusan MK terhadap Pasal 169 Huruf Q Undang-Undang Pemilu telah melanggar hukum acara MK dan Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman.

Ini kegiatan politik purnawirawan Prajurit TNI, yang dibuat sejumlah jenderal mantan Panglima tiga matra militer Indonesia.

Menariknya, sikap purnawirawan Prajurit TNI, itu dibawa oleh penasihat Khusus Presiden bidang Politik dan Keamanan, Jenderal TNI (Purn) Wiranto, kepada Presiden Prabowo.

 

***

 

Akal sehat saya membuat catatan politik soal sosok Gibran menggunakan teori Komunikasi Politik dan sedikit Propaganda Politik.

Judul dan berita sosok Gibran, atas sikap purnawirawan TNI ini bukan Iklan Politik.

Tapi ini adalah bagian dari bisnis media agar korannya laku.

Tentu saya menulis peristiwa politik ini tetap mematuhi aturan UU Pers dan kode Etik Jurnalistik. Semuanya fakta, baru intepretasi. Artinya, kalau ada yang menganggap catatan politik saya ini ada bau propaganda politik, tetap mengikuti prosedur hukum dari UU Pers. Ini  karya jurnalistik.

Apalagi pembaca harian yang saya pimpin terdiri multi pembaca. Ada juga masyarakat kelas bawah. Mereka pun telah dianggap sudah semakin menyadari pentingnya keterlibatan politik era demokratisasi saat ini.

Jujur, sikap Forum Purnawirawan Prajurit TNI itu menjadi daya tarik saya, karena salah satu jenderal TNI yang mendatangani surat tersebut ialah Wapres ke-6 sekaligus Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) periode 1988-1993 Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno.

 

***

 

Menurut analisis news value, sosok Gibran, masih usia muda sudah jadi Wapres. Dan sepi dari data pengalaman kenegaraan. Catatannya pernah jadi wali kota Solo, konon ada cawe cawe bapaknya bersama Megawati.

Jadi, Gibran, termasuk tokoh  terkenal yang memiliki prominensi (prominence). Tampilan Gibran di media dapat meningkatkan nilai berita. Ini bagian dari peristiwa yang penting atau menarik.

Ia tokoh yang  memiliki posisi penting dalam masyarakat. Logikanya, dapat meningkatkan daya tarik berita.

Bayangkan. Usai Lulus SMPN 1 Surakarta, Gibran lanjut Sekolah Diploma di Singapura. Baru Sekolah Bisnis di Australia. Jadi SMA nya tidak di Solo dan kota besarv lainnya di Indonesia.

Setelah ikut pilpres 2024, ijazahnya yang dari luar negeri diakui di Indonesia. Ini setelah disetarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI. Penyetaraan ini penting agar ijazah dianggap setara dengan ijazah yang dikeluarkan oleh lembaga pendidikan di dalam negeri.

Berkas sekolah Gibran, pasti telah diverifikasi dan dinilai oleh Kemendikbudristek. Artinya, jika semua persyaratan dipenuhi oleh Gibran,  Kemendikbudristek akan menerbitkan Surat Keputusan (SK) penyetaraan.

 

***

 

Mengikuti pemberitaan di media sosial, ada kesan, kekurangan Gibran, dicari – cari. Arahnya aibnya.

Saya heran, apakah mereka tidak ingat larangan Allah SWT. Sang Khalik sangat melarang kita untuk mencari – cari keburukan orang lain. Karena hal tersebut bisa menciptakan fitnah dan fitnah dapat berakibat kepada dosa yang lebih besar lagi.

Dalam Islam, mencari kesalahan orang lain dikenal dengan "tajassus". Ini sangat dilarang. Perbuatan ini dianggap merusak hubungan baik antar sesama muslim dan dapat menyebabkan fitnah. Tajassus juga termasuk dosa besar dan dapat menimbulkan azab di akhirat.

Catatan jurnalistik saya, mantan Mensesneg Yusril Ihza Mahendra merasa dirinya pernah terus dicari-cari kesalahannya. Ini yang membuat dirinya heran. Hal ini terkait bocoran Wikileaks yang dikutip The Age bahwa Yusril dimata-matai intelijen.

"Orang-orang dekat Presiden SBY terus berpikir bahwa saya ini adalah rival politik, sehingga kesalahan-kesalahan saya terus dicari-cari, sampai saya dituduh korupsi Sisminbakum di akhir 2008," tandas Yusril dalam keterangan pers kepada wartawan, Jumat (11/3/2011).

Urusan ini menyentuh playing victim. Playing victim adalah perilaku seseorang yang selalu merasa dirinya adalah “korban” dan kerap menyalahkan pihak lain atas segala masalah yang terjadi di hidupnya.

Diri seseorang terasa diumek -umek di depan publik. Dalam konteks bahasa sehari-hari, "umek" bisa juga diartikan sebagai "berkerut" atau "tidak rata" secara umum. Ini tergantung pada konteks kalimat yang dipakai.

Orang jawa banyak yang paham, maksud dari kata umek dalam Bahasa Jawa adalah adalah tidak bisa diam.

Umek dalam bahasa jawa menunjukan ada kesibukan tetapi bukan yang hakiki atau malah cenderung kontra produktif.

Nah, saat ini yang masih rentetan tahun politik,  umek Gibran membuat suasana bisa memanas. Seolah politik segala galanya bahkan penuh dengan trik dan intrik. Terutama untuk mempengaruhi publik. Bagi sejumlah orang, politik merupakan suatu seni dalam memperebutkan mengelola dan memberdayakan maupun sumber daya melalui kekuasaan.

Menurut akal sehat saya di dalam keumekan politik bisa berdampak luas bagi kehidupan sosial kemasyarakatan.

Maklum, politik berkaitan dengan kekuatan dan kekuasaan untuk mendominasi dan dominan pada penguasaan sumberdaya.

Saat masih jadi Wali Kota Surakarta, Gibran Rakabuming Raka, pernah diumek terima suntikan dana puluhan miliar rupiah. Ia menganggap dana itu untuk bisnis es doger miliknya 

"(Bisnis es doger) itu kan sudah lama. Kok baru gimana," katanya di Solo, Selasa.

Disinggung mengenai tudingan negatif beberapa pihak yang menghampirinya, ia enggan banyak menanggapi, termasuk jika tudingan tersebut memiliki muatan politik.

"Kalau janggal, janggale opo. Kalau golek-golek (cari) kesalahan nggo (untuk) alat politik yo raono enteke (tidak ada habisnya)," kata Gibran. Piye toh, jenderal jenderal TNI ini. Apa cari-cari kekurangan anak sulung Jokowi. ? Walahualam. ([email protected])

Judul sambungan : Gibran Diumek Terus, Bisa Memanas

 

Gibran Diumek-umek Terus...

 

Catatan Politik

Raditya M Khadaffi

 

Judul berita utama harian Surabaya Pagi, edisi Senin (28/4) "Gibran, tak Ditemukan Skandal untuk Dimakzulkan".

Judul ini sedikit agitatif. Maklum, ini berita dibuat koran independen. Bisa jadi judul tersebut berusaha memengaruhi pembaca. Terselip pernyataan emosi .

Kata "agitasi" dalam bahasa Indonesia berarti "menghasut" atau "menggerakkan".

Dalam konteks ini, judul tersebut seolah-olah sedang mengajak pembaca untuk merasa atau berpikir bahwa "judul ini" memiliki sifat daya tarik.

Kalimat "sedikit agitatif" merupakan pernyataan subjektif. Ini berarti tidak ada bukti objektif untuk mendukung klaim tersebut. Pembaca dibiarkan menginterpretasikan kalimat ini berdasarkan pengalaman dan perspektif mereka sendiri.

Judul ini bisa menimbulkan rasa penasaran bagi pembaca. Ini karena kata "agitatif" biasanya dikaitkan dengan situasi yang melibatkan emosi  atau tindakan yang mungkin tidak disukai oleh semua orang.

Artinya judul ini secara implisit mengklaim bahwa maksud yang disampaikan (yang belum diketahui) memiliki sifat bertanya tanya. Ini adalah penggunaan kata untuk menarik perhatian  pembaca.

Saya menggunakan judul ini tergiur dengan sikap Forum Purnawirawan Prajurit TNI.

Salah satu jenderal TNI yang mendatangani surat tersebut ialah Wapres ke-6 sekaligus Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) periode 1988-1993 Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno.

Para sesepuh TNI mengusulkan pergantian Wakil Presiden kepada MPR karena keputusan MK terhadap Pasal 169 Huruf Q Undang-Undang Pemilu telah melanggar hukum acara MK dan Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman.

Ini kegiatan politik purnawirawan Prajurit TNI, yang dibuat sejumlah jenderal mantan Panglima tiga matra militer Indonesia.

Menariknya, sikap purnawirawan Prajurit TNI, itu dibawa oleh penasihat Khusus Presiden bidang Politik dan Keamanan, Jenderal TNI (Purn) Wiranto, kepada Presiden Prabowo.

 

***

 

Akal sehat saya membuat catatan politik soal sosok Gibran menggunakan teori Komunikasi Politik dan sedikit Propaganda Politik.

Judul dan berita sosok Gibran, atas sikap purnawirawan TNI ini bukan Iklan Politik.

Tapi ini adalah bagian dari bisnis media agar korannya laku.

Tentu saya menulis peristiwa politik ini tetap mematuhi aturan UU Pers dan kode Etik Jurnalistik. Semuanya fakta, baru intepretasi. Artinya, kalau ada yang menganggap catatan politik saya ini ada bau propaganda politik, tetap mengikuti prosedur hukum dari UU Pers. Ini  karya jurnalistik.

Apalagi pembaca harian yang saya pimpin terdiri multi pembaca. Ada juga masyarakat kelas bawah. Mereka pun telah dianggap sudah semakin menyadari pentingnya keterlibatan politik era demokratisasi saat ini.

Jujur, sikap Forum Purnawirawan Prajurit TNI itu menjadi daya tarik saya, karena salah satu jenderal TNI yang mendatangani surat tersebut ialah Wapres ke-6 sekaligus Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) periode 1988-1993 Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno.

 

***

 

Menurut analisis news value, sosok Gibran, masih usia muda sudah jadi Wapres. Dan sepi dari data pengalaman kenegaraan. Catatannya pernah jadi wali kota Solo, konon ada cawe cawe bapaknya bersama Megawati.

Jadi, Gibran, termasuk tokoh  terkenal yang memiliki prominensi (prominence). Tampilan Gibran di media dapat meningkatkan nilai berita. Ini bagian dari peristiwa yang penting atau menarik.

Ia tokoh yang  memiliki posisi penting dalam masyarakat. Logikanya, dapat meningkatkan daya tarik berita.

Bayangkan. Usai Lulus SMPN 1 Surakarta, Gibran lanjut Sekolah Diploma di Singapura. Baru Sekolah Bisnis di Australia. Jadi SMA nya tidak di Solo dan kota besarv lainnya di Indonesia.

Setelah ikut pilpres 2024, ijazahnya yang dari luar negeri diakui di Indonesia. Ini setelah disetarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI. Penyetaraan ini penting agar ijazah dianggap setara dengan ijazah yang dikeluarkan oleh lembaga pendidikan di dalam negeri.

Berkas sekolah Gibran, pasti telah diverifikasi dan dinilai oleh Kemendikbudristek. Artinya, jika semua persyaratan dipenuhi oleh Gibran,  Kemendikbudristek akan menerbitkan Surat Keputusan (SK) penyetaraan.

 

***

 

Mengikuti pemberitaan di media sosial, ada kesan, kekurangan Gibran, dicari – cari. Arahnya aibnya.

Saya heran, apakah mereka tidak ingat larangan Allah SWT. Sang Khalik sangat melarang kita untuk mencari – cari keburukan orang lain. Karena hal tersebut bisa menciptakan fitnah dan fitnah dapat berakibat kepada dosa yang lebih besar lagi.

Dalam Islam, mencari kesalahan orang lain dikenal dengan "tajassus". Ini sangat dilarang. Perbuatan ini dianggap merusak hubungan baik antar sesama muslim dan dapat menyebabkan fitnah. Tajassus juga termasuk dosa besar dan dapat menimbulkan azab di akhirat.

Catatan jurnalistik saya, mantan Mensesneg Yusril Ihza Mahendra merasa dirinya pernah terus dicari-cari kesalahannya. Ini yang membuat dirinya heran. Hal ini terkait bocoran Wikileaks yang dikutip The Age bahwa Yusril dimata-matai intelijen.

"Orang-orang dekat Presiden SBY terus berpikir bahwa saya ini adalah rival politik, sehingga kesalahan-kesalahan saya terus dicari-cari, sampai saya dituduh korupsi Sisminbakum di akhir 2008," tandas Yusril dalam keterangan pers kepada wartawan, Jumat (11/3/2011).

Urusan ini menyentuh playing victim. Playing victim adalah perilaku seseorang yang selalu merasa dirinya adalah “korban” dan kerap menyalahkan pihak lain atas segala masalah yang terjadi di hidupnya.

Diri seseorang terasa diumek -umek di depan publik. Dalam konteks bahasa sehari-hari, "umek" bisa juga diartikan sebagai "berkerut" atau "tidak rata" secara umum. Ini tergantung pada konteks kalimat yang dipakai.

Orang jawa banyak yang paham, maksud dari kata umek dalam Bahasa Jawa adalah adalah tidak bisa diam.

Umek dalam bahasa jawa menunjukan ada kesibukan tetapi bukan yang hakiki atau malah cenderung kontra produktif.

Nah, saat ini yang masih rentetan tahun politik,  umek Gibran membuat suasana bisa memanas. Seolah politik segala galanya bahkan penuh dengan trik dan intrik. Terutama untuk mempengaruhi publik. Bagi sejumlah orang, politik merupakan suatu seni dalam memperebutkan mengelola dan memberdayakan maupun sumber daya melalui kekuasaan.

Menurut akal sehat saya di dalam keumekan politik bisa berdampak luas bagi kehidupan sosial kemasyarakatan.

Maklum, politik berkaitan dengan kekuatan dan kekuasaan untuk mendominasi dan dominan pada penguasaan sumberdaya.

Saat masih jadi Wali Kota Surakarta, Gibran Rakabuming Raka, pernah diumek terima suntikan dana puluhan miliar rupiah. Ia menganggap dana itu untuk bisnis es doger miliknya 

"(Bisnis es doger) itu kan sudah lama. Kok baru gimana," katanya di Solo, Selasa.

Disinggung mengenai tudingan negatif beberapa pihak yang menghampirinya, ia enggan banyak menanggapi, termasuk jika tudingan tersebut memiliki muatan politik.

"Kalau janggal, janggale opo. Kalau golek-golek (cari) kesalahan nggo (untuk) alat politik yo raono enteke (tidak ada habisnya)," kata Gibran. Piye toh, jenderal jenderal TNI ini. Apa cari-cari kekurangan anak sulung Jokowi. ? Walahualam. ([email protected])

Berita Terbaru

Satlantas Polres Madiun Perketat Patroli di Jalur Rawan Macet dan Kecelakaan

Satlantas Polres Madiun Perketat Patroli di Jalur Rawan Macet dan Kecelakaan

Sabtu, 10 Jan 2026 18:01 WIB

Sabtu, 10 Jan 2026 18:01 WIB

SURABAYA PAGI, Madiun – Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Madiun memperketat pengawasan lalu lintas dengan menggelar patroli strong point di sejumlah jalur …

HUT ke-53 PDI Perjuangan, Deni Wicaksono Tegaskan Satyam Eva Jayate Jadi Jangkar Kebenaran Partai

HUT ke-53 PDI Perjuangan, Deni Wicaksono Tegaskan Satyam Eva Jayate Jadi Jangkar Kebenaran Partai

Sabtu, 10 Jan 2026 11:46 WIB

Sabtu, 10 Jan 2026 11:46 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Peringatan Hari Ulang Tahun ke-53 PDI Perjuangan menjadi momentum konsolidasi ideologis dan penguatan kerja kerakyatan di tengah…

Dorong Sportainment Pelajar, Tri Hadir di Yamaha Fazzio Liga Tendang Bola 2026

Dorong Sportainment Pelajar, Tri Hadir di Yamaha Fazzio Liga Tendang Bola 2026

Jumat, 09 Jan 2026 20:11 WIB

Jumat, 09 Jan 2026 20:11 WIB

SurabayaPagi, Surabaya – Indosat Ooredoo Hutchison (Indosat atau IOH) melalui brand Tri turut ambil bagian dalam ajang Liga Tendang Bola (LTB) 2026, sebuah l…

Legislator Golkar, Masih Kritik MBG

Legislator Golkar, Masih Kritik MBG

Jumat, 09 Jan 2026 19:09 WIB

Jumat, 09 Jan 2026 19:09 WIB

Peristiwa Pemilihan Lokasi Dapur SPPG di Samping Peternakan Babi di Sragen, Resahkan Masyarakat      SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Lagi, Wakil Ketua Komisi IX …

Biaya Armuzna Haji Tahun Ini Dihemat Rp180 Miliar

Biaya Armuzna Haji Tahun Ini Dihemat Rp180 Miliar

Jumat, 09 Jan 2026 19:07 WIB

Jumat, 09 Jan 2026 19:07 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) menyampaikan adanya penghematan signifikan dalam anggaran penyelenggaraan ibadah haji 2026.…

Yaqut Cholil Qoumas, Anak Ulama Terkemuka, Tersangka Korupsi

Yaqut Cholil Qoumas, Anak Ulama Terkemuka, Tersangka Korupsi

Jumat, 09 Jan 2026 19:05 WIB

Jumat, 09 Jan 2026 19:05 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Mantan Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas, resmi ditetapkan sebagai tersangka. Dia diduga terlibat kasus dugaan korupsi…