SURABAYAPAGI.com - Pada saat saya hadir di sebuah gereja. Ada dua pria diskusi tentang persepuluhan atau tithing.
Seorang pria berambut putih bilang, persepuluhan tidak wajib bagi orang Kristen di bawah Perjanjian Baru. Tetapi memberi secara sukarela sangat dianjurkan.
Pria yang lebih muda ngeyel persepuluhan di masa Perjanjian Lama adalah hukum yang khusus untuk orang Israel.
Pria berambut putih menangkis. Ia bilang orang Kristen tidak terikat oleh hukum itu. Memberi dalam Perjanjian Baru adalah masalah hati dan bukan kewajiban hukum.
Orang Kristen tidak diwajibkan membayar persepuluhan sebesar 10�ri pendapatan mereka.
Orang Kristen boleh memberi kepada gereja atau dalam persembahan adalah pilihan sukarela. Itu didorong oleh semangat kasih dan kehendak baik.
Berbeda dengan Perjanjian Lama.
Persepuluhan di Perjanjian Lama adalah bagian dari Hukum Musa yang tidak berlaku bagi orang Kristen.
Yang terpenting adalah memberi dengan hati senang dan tidak dengan berat hati atau terpaksa.
Orang Kristen dapat mendukung gereja dengan cara lain, seperti memberikan persembahan atau membantu dalam pelayanan.
Alkitab dalam Lukas 8:1-3 memberi tahu kita bahwa beberapa perempuan, termasuk Maria Magdalena, Yohana, dan Susana, mendukung pelayanan-Nya secara finansial.”
Ia lebih lanjut menekankan bahwa para rasul tidak mengumpulkan persepuluhan karena alasan yang sama karena mereka bukan pendeta paroki .
Pria berambut putih itu mengajak rekan seiman pahami apa arti persepuluhan.
Dikatakan, banyak orang menyamakan persepuluhan dengan memberi secara umum. Memang benar bahwa persepuluhan termasuk dalam kategori umum memberi, tetapi Alkitab menggali lebih dalam tentang definisi persepuluhan .
Persepuluhan menurut bahasa Yunani atau Ibrani dalam Alkitab didefinisikan secara sederhana sebagai sepersepuluh. Meskipun, Alkitab merinci lebih banyak aturan seputar persepuluhan seperti hanya memberikan makanan dan hanya kepada orang Lewi. (Maria Sari)
Editor : Redaksi