SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Edisi harian Surabaya Pagi hari Selasa kemarin (2/9), ada berita berjudiul "Agnez Mo, Nilai ada Anggota DPR dengan EQ Rendah". Ini berita human interest, yang masuk kategori kisah yang menyentuh emosi manusia, membangkitkan empati, menyajikan kisah personal hingga unik dari individu seorang selibritas.
Agnez Mo menyentil soal awal dari keramaian aksi demo Agustus 2025 hingga kematian driver ojol Affan.
"Semuanya berawal dari EQ (Emotional Quotient-red) yang rendah, cara berbicara di depan umum yang memecah belah dan merendahkan, serta tanpa empati," buka Agnez Mo dalam Instagram Story pribadinya dilihat, Selasa (2/9/2025).
Penilaian Agnez Mo, tentang kecerdasan emosional, dialaminya. "(But well... aku mengalaminya sendiri beberapa bulan yang lalu, ketika seorang anggota DPR yang dengan entengnya bilang kalau belum S3 (PhD), ya gak usah ngomong soal isu ini... karena mungkin menurut dia orang lain 'terlalu bodoh'?" kenangnya.
"Dan jangan lupa, itu semua dilakukan sambil mencemarkan nama baik dan menjelek-jelekkan semua orang yang punya pendapat berbeda. Logika model begitu sudah cukup menunjukkan semua yang perlu kita tahu," sambung penyanyi berusia 39 tahun itu.
"Hal paling minimal yang bisa saya harapkan dari seorang anggota DPR adalah kemampuan berbicara di depan publik yang layak, yang tidak memecah belah, tapi benar-benar mencari solusi untuk semua pihak, bukan hanya untuk kepentingan mereka sendiri," ungkapnya.
Ia tahu belakangan ini cara bicara para anggota Dewan dianggap menyulut sakit hati rakyat. Padahal public speaking harusnya menjadi hal paling mendasar.
"Dan, fakta bahwa kita bahkan harus menuntut sesuatu sesederhana kemampuan berbicara di depan publik saja sudah bikin geleng-geleng kepala. Sesuatu yang harusnya sudah menjadi standard paling dasar sebagai manusia, apalagi sebagai wakil rakyat atau pembuat aturan/hukum (legislator)," tulisnya. Para wakil rakyat ada baiknya mesti dengar omongan Agnes Mo.
***
EQ adalah singkatan dari Emotional Quotient atau Kecerdasan Emosional, yaitu kemampuan seseorang untuk mengenali, memahami, mengelola, dan mengekspresikan emosi diri sendiri dan orang lain secara positif. Literasi yang saya baca, EQ bisa membantu seseorang untuk membangun hubungan yang lebih baik, mengatasi stres, berkomunikasi secara efektif, dan mencapai kesuksesan dalam hidup.
EQ yang tinggi konon berperan penting dalam berbagai aspek kehidupan.
Antara lain dapat embantu dalam kepemimpinan, membina hubungan baik dengan rekan kerja, dan menciptakan lingkungan kerja yang positif.
Lantas, bagaimana caranya meningkatkan kecerdasan emosional? Seorang pakar meminta kita mulai dengan mendengarkan orang lain secara aktif. Tujuannya untuk mempelajari, baik secara verbal maupun nonverbal, makna di balik komunikasi mereka.
Ya itu cara melatih rasa empati untuk memahami sudut pandang orang lain. Disarankan melakukan refleksi untuk mencari tahu apakah emosi diri kita memengaruhi keputusan dan perilaku.
***
Dikutip dari buku Kecerdasan Spiritual Mengapa SQ Lbh Penting dari pada IQ & EQ, Emotional Quotient atau yang lebih dikenal dengan EQ adalah kemampuan seseorang dalam mengelola emosi, memahami dan berkomunikasi dengan baik, dan juga menjalin hubungan yang positif dengan orang lain.
Ini bukan hanya tentang seberapa cerdas seseorang secara intelektual, tetapi juga sejauh mana mereka dapat memahami dan mengelola emosi sendiri serta orang lain.
Saya pernah diberitah ada berbagai Tanda Orang Memiliki EQ Rendah .
Tanda-tanda seseorang memiliki EQ rendah memberikan gambaran mengenai kurangnya kemampuan dalam mengelola emosi dan interaksi sosial.
Ini tanda jika seseorang memiliki EQ yang rendah:
1. Kurangnya Kemampuan Berkomunikasi
Orang dengan EQ rendah sering kesulitan dalam menyampaikan pikiran dan perasaan mereka secara jelas.
Mereka mungkin tidak mampu mengekspresikan diri dengan tepat atau mengartikulasikan perasaan mereka.
2. Sulit Menyadari Emosi Sendiri
Kesadaran diri yang rendah membuat seseorang sulit mengenali dan memahami emosi yang mereka rasakan. Hal ini bisa menyebabkan ketidakmampuan dalam mengelola emosi dengan efektif.
3. Kurangnya Kemampuan Mengungkapkan Perasaan Hati
Mereka mungkin tidak nyaman dalam berbicara tentang perasaan mereka atau mengekspresikan apa yang sebenarnya mereka rasakan, sehingga kesulitan membangun hubungan yang dalam.
4. Sulit Mengendalikan Emosi
Orang dengan EQ rendah sering kali rentan terhadap ledakan emosi yang tidak terkendali. Mereka mungkin sulit mengatur reaksi emosional terhadap situasi tertentu.
5. Kurangnya Empati pada Orang Lain
Ketidakmampuan untuk merasakan atau memahami perasaan orang lain membuat mereka kurang sensitif terhadap kebutuhan dan perasaan orang di sekitar.
6. Kerap Bersikap Egois
Sikap yang cenderung memprioritaskan kebutuhan dan keinginan pribadi tanpa mempertimbangkan orang lain adalah tanda EQ yang rendah.
7. Kemampuan Menangani Konflik yang Rendah
Ketika dihadapkan pada konflik, orang dengan EQ rendah cenderung sulit menemukan solusi yang efektif dan cenderung memperburuk situasi.
8. Manajemen Stres yang Buruk
Mereka mungkin kesulitan menangani tekanan atau stres, yang dapat berdampak pada kesehatan mental dan fisik mereka.
9. Kaku dalam Berpikir dan Bertindak
Ketidakmampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan atau situasi baru dapat menghambat kemampuan seseorang untuk tumbuh dan berkembang.
Memahami tanda orang memiliki EQ rendah pada diri sendiri atau orang lain dapat menjadi langkah awal untuk memperbaiki keterampilan emosional dan membina hubungan yang lebih sehat.
*
Lalu bagaimana cara mengenali pemimpin atau anggota DPR-RI Ber-EQ Rendah?
Dari berbagai literasi, cirinya:
1.Tidak Mau Dikritik
Ia selalu merasa benar. Kritik dianggap sebagai serangan, bukan sebagai masukan untuk perbaikan.
2.Mudah Marah dan Emosional.
Ia tidak bisa mengendalikan emosinya. Hal kecil bisa memicu kemarahan besar.
3 Sering Merendahkan Bawahan.
Menghina di depan umum, mencaci, atau membuat orang merasa bodoh adalah hal biasa baginya.
4. Tidak Memiliki Empati
Ia tidak peduli dengan perasaan atau kesulitan orang lain. Baginya, urusan pribadi tidak boleh mengganggu pekerjaan.
5. Suka Menyalahkan Orang Lain.
Jika ada kesalahan, yang disalahkan selalu bawahan. Jika ada keberhasilan, ia yang mengambil kredit.
6. Tidak Bisa Mendengar Pendapat Orang Lain.
Ia hanya percaya pada pandangannya sendiri. Ide dari tim tidak pernah dianggap serius.
7. Menggunakan Teror dan Ancaman
Ia memimpin dengan ketakutan. Bawahan yang tidak patuh bisa kehilangan pekerjaan atau dikucilkan.
8. Menciptakan Lingkungan Kerja yang Toxic
Orang-orang tidak merasa nyaman. Lingkungan kerja penuh tekanan, bukan kolaborasi.
9. Memanipulasi dan Bermuka Dua
Di depan berbicara manis, di belakang menusuk. Ia lihai memainkan politik kantor untuk keuntungannya sendiri.
Dikutip dari laman HR Excellency hrexcellency.com, 8 Feb 2025, disebutkan seorang pemimpin yang tidak memiliki kecerdasan emosional bisa menghancurkan organisasi secara perlahan.
Nah ini masukan buat para wakil rakyat di Senayan, Jakarta. Diantara Anda apa ada yang sekarang telah merusak reputasi wakil rakyat? Berinstrospeksi dirilah! Atau mari bersama melakukan autokritik, mengapa rakyat marah pada Anda?. ([email protected])
Editor : Moch Ilham