SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akui punya gaya bicaranya yang 'koboi'. Ini diklaim terbukti membalikkan kepercayaan masyarakat.
Ia menyebut kepercayaan masyarakat ke pemerintah membaik seiring kondisi ekonomi yang bagus.
Kayaknya Menkeu Purbaya bangga. Padahal pengertian "cowboi" adalah penggembala sapi yang bekerja di peternakan, terutama di Amerika Utara. San secara tradisional coboi melakukan banyak tugas dengan menunggang kuda. Dalam arti lain, "cowboi" bisa merujuk pada pemain rodeo atau seseorang yang berperilaku gegabah atau tidak bertanggung jawab.
Dalam arti kiasan dan slang coboi itu seseorang yang gegabah.
Dalam penggunaan informal, "cowboi" bisa berarti orang yang ceroboh, tidak bertanggung jawab, atau suka mengambil risiko tanpa perhitungan yang matang.
Di Inggris, istilah ini juga digunakan untuk menggambarkan pekerja yang tidak jujur atau tidak kompeten, seperti "tukang atap koboi" yang melakukan pekerjaan buruk dan mengenakan biaya mahal.
Universitas Wyoming mendefinisikan koboi sebagai mahasiswa yang berdedikasi dan tidak mementingkan diri sendiri, dan bersedia bekerja keras untuk mencapai tujuan mereka .
Konon, koboi bekerja hingga 20 jam sehari. Mereka menggiring hewan-hewan dari satu tempat minum ke tempat minum lainnya. Mereka harus berjaga-jaga terhadap predator (berkaki dua dan empat), ternak yang tersesat, yang melakukan penyerbuan di malam hari . Untuk kerja keras dan kotornya, koboi pada umumnya memperoleh penghasilan antara $25 dan $40 per bulan. Itu kisah coboi sesungguhnya.
***
Berbeda dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Ia kritik tentang gaya komunikasi santai atau terkesan 'koboi' yang dimunculkan di depan publik. Menurutnya, tidak ada yang salah dengan cara tersebut.
Purbaya menilai gaya koboinya dapat mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan akan berdampak positif ke perekonomian.
"Tapi kita lakukan kebijakan yang mungkin untuk sebagian kalangan agak drastis agak ceplas ceplos tapi ini berhasil membalikkan sentimen masyarakat," ujar Purbaya saat ditemui di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, Senin (27/10/2025).
"Jadi sepertinya saya koboi tapi yang saya lakukan adalah mengembalikan kepercayaan Masyarakat ke pemerintah," tambahnya.
Gerak-gerik dan gaya asal ceplos Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, ini kini jadi perhatian banyak orang. Gayanya itu membuat Purbaya dijuluki Menteri Koboi. Ternyata, gaya koboi Purbaya itu, kata Purbaya, merupakan perintah dari Presiden Prabowo Subianto.
"Semua pekerjaan saya, walaupun saya kelihatannya koboi, itu disuruh oleh Presiden (Prabowo). Itu pandangan presiden," ungkap Purbaya dikutip dari CNN Indonesia, Selasa (28/10/2025).
Ia bahkan menceritakan sikap Presiden Prabowo sebenarnya lebih keras. Kekerasan terlihat dalam sejumlah rapat. Purbaya mengatakan dirinya justru versi halus dari sang Kepala Negara.
Purbaya menegaskan tidak ada yang akan diubah dalam gaya komunikasi koboi miliknya. Walau, ia menyadari ada sejumlah orang yang tidak terima dengan caranya berkomunikasi.
"Saya baru tahu bahwa sebagian orang nggak bisa terima, tapi biar saja. For the sake of the country, I don't care! Tapi karena ini perintah (Presiden Prabowo), kalau diperintah berubah, saya berubah. Ini hanya perpanjangan tangan dari bapak presiden lah, dengan versi yang lebih halus," tuturnya.
Saat diangkat jadi Menkeu, Presiden RI Prabowo Subianto memberi misi kepada Menteri Keuangan (Menkeu) baru, Purbaya Yudhi Sadewa, dalam rapat koordinasi menteri, pada Kamis (16/10/2025) pagi.
Prabowo meminta Purbaya untuk meningkatkan pendapatan pajak.
"Tadi dibahas mengenai progres peningkatan pajak yang kita harapkan di bawah kepemimpinan Menkeu yang baru, kita berharap terjadi peningkatan pendapatan pajak kita," ujar Mensesneg Prasetyo Hadi, dalam keterangan videonya, Kamis. Bebannya berat.
***
Saya amati, fenomena komunikasi publik yang diperlihatkan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, dengan nada ‘koboi’, jarang dijumpai. Gayanya blak-blakan, spontan tak terikat formalitas seseorang. Padahal backgroundnya teknokrat.
Ia sepertinya menangkap isyarat masyarakat sudah muak terhadap politisi penuh retorika, yang kalimatnya indah, tetapi kinerjanya buruk. Saya anggap sosok seperti Purbaya memunculkan harapan baru.
Sepertinya, publik tampak rindu pada figur no-nonsense, berbicara apa adanya tanpa basa-basi.
Sepintas saya menyamakannya dengan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di masa lalu. Ahok juga memiliki gaya demikian.
Gaya "ceplas-ceplos" Ahok merujuk pada gaya bicaranya yang lugas, terus terang, dan blak-blakan, yang ia pertahankan karena merasa itu adalah karakter dirinya yang sebenarnya. Gaya ini sering kali diartikan sebagai keras dan langsung, bahkan terkadang mengundang kontroversi, tetapi juga dianggap jujur dan apa adanya.
Tindakan kontroversial Ahok, saat itu mendapat dukungan publik sebesar 53,75 persen, terkait konflik Ahok dengan DPRD terkait pengadaan travo listrik (UPS).
Selama masa jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta dari 2014 hingga 2017, Ahok menerapkan prinsip-prinsip kepemimpinan transformasional.
Saya amati Purbaya, sama dengan Ahok, menekankan gaya komunikasi langsung, emosional, dan anti-formalitas. Bedanya, Purbaya bukan populis tradisional yang menyerang elite politik, kayak Ahok, dulu.
Ia justru populis teknokrat, atau seseorang yang menolak kerumitan birokrasi dengan membumikan kebijakan fiskal ke bahasa rakyat. Ia menghadirkan “rakyat” bukan sebagai slogan, tapi sebagai audiens utama dalam proses komunikasi teknokrasi.
Purbaya yang saya simak tidak datang dari jalur politik populis, melainkan dari ranah teknokrasi yang cenderung steril dari emosi politis dan penuh kalkulasi angka.
Gaya koboi Purbaya bekerja persis di ruang ini: ia menyalurkan ketidaksabaran sosial terhadap kemunafikan politik melalui kejujuran yang mentah. Terkadang kata-katanya kasar, ceplas ceplos, tapi jujur. Lanjut Pak Koboi Purbaya. ([email protected])
Editor : Moch Ilham