Dalam Rakernas Ke-53, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri Undang Rocky Gerung
SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Dalam peringatan HUT PDI Perjuangan Ke-53 di Beach City International Stadium, Sabtu (10/1), PDIP mengundang Rocky Gerung. Komentator politik, filsuf, akademisi UI ini mengungkapkan Megawati Soekarnoputri memilih membahas isu selain politik dalam pidatonya sebagai Ketua Umum, seperti serangan Amerika Serikat (AS) ke Venezuela hingga isu lingkungan yang menjadi penyebab bencana di Sumatra.
"Ada hal yang unik tadi, bahwa Anda pasti menunggu Ibu Megawati ucapkan pidato politik atau isu politik. Tapi beliau menganggap ada yang lebih penting itu soal kemanusiaan, soal lingkungan, soal persahabatan," kata Rocky.
Demokrasi Poco - poco
Politikus muda PDIP Saiful Mujab mengatakan Megawati mengibaratkan demokrasi Indonesia saat ini seperti senam poco-poco.
"Meskipun nanti sikap partai secara resmi akan disampaikan dalam penutupan Rakernas hari Senin besok, tapi Bu Mega sudah memberikan hint sedikit: 'Kok demokrasi kita tuh kayak Senam Poco-Poco ya?'," kata Mujab dalam jumpa pers Rakernas hari kedua, Minggu (11/1).
Pernyataan itu disampaikan Mujab sekaligus merespons pertanyaan soal sikap partainya terkait wacana pilkada tidak langsung atau melalui DPRD. Menurut dia, secara resmi sikap PDIP akan disampaikan pada penutupan Rakernas besok.
Sejumlah elit PDIP telah menolak tegas wacana tersebut.
Mujab menilai pilkada tak langsung tak akan otomatis menjawab masalah politik uang dalam pemilu.
"Jadi PDI Perjuangan yakin persoalan politik uang itu tidak harus dengan mengamputasi hak rakyat untuk memilih," katanya.
Oleh karenanya, kata Mujab, Megawati menilai demokrasi laiknya senam poco-poco, yang gerakannya didominasi gerakan maju mundur. Padahal, menurut Mega, demokrasi mestinya harus selalu bergerak maju.
Mega Singgung Pembukaan Hutan
"Beliau mulai dengan program global politics soal Venezuela, soal hak untuk mempertahankan kemerdekaan, soal terlarangnya satu negara adikuasa mengambil alih, mencaplok pemimpin dari sebuah negara yang berdaulat," imbuh Rocky.
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menyinggung bencana seperti banjir di Sumatra bukan hanya kehendak alam tapi juga ulah manusia.
Megawati menuturkan banjir yang melumpuhkan kota-kota di Sumatra hingga menewaskan ribuan orang ini akibat dari pembukaan hutan menjadi lahan eksploitasi.
Menurutnya, kita semua harus berani jujur bahwa kerusakan alam, termasuk deforestasi, "dilembagakan oleh kebijakan".
"Undang-undang dan regulasi yang memberi karpet merah pada konsesi besar telah membuka jalan bagi deforestasi, perampasan tanah, dan penghancuran ekosistem," ucap Mega dalam pidatonya dalam peringatan HUT PDIP KE-53 dan Rakernas I Tahun 2026 di Beach City International Stadium, Sabtu (10/1).
"Atas nama pembangunan, rakyat disingkirkan dan alam dikorbankan. Ini bukan pembangunan, melainkan pembangunan tanpa keadilan dan tanpa peradaban," ucapnya menambahkan.
Menurut Mega, kawasan hulu yang seharusnya menjadi daerah resapan air telah berubah menjadi ladang eksploitasi.
"Hutan alam dan wilayah adat dirampas, dibuka secara masif, lalu digantikan oleh tanaman monokultur berakar dangkal dan miskin daya dukung ekologis," ucap Mega.
"Inilah krisis peradaban ekologis- ketika manusia menempatkan dirinya sebagai penguasa alam, bukan sebagai bagian dari kesatuan kehidupan," paparnya menambahkan.
Lebih lanjut, Mega pun menilai pemulihan wilayah Sumatra imbas banjir bandang dan longsor tak cukup hanya setahun.
Karena itu, Mega meminta seluruh kader PDIP untuk gotong-royong dan intens membantu para korban.
Persahabatan Antara Manusia
Menurut Rocky, pernyataan Megawati mengingatkan bahwa Indonesia dari awal punya dalil yang sama, yaitu hak setiap negara untuk merawat dirinya sendiri, hak untuk menghargai tetangga, dan tidak boleh ada permusuhan yang berdasarkan pada kebencian.
Kemudian, ia menyoroti cara Megawati membahas tentang isu perubahan iklim, yang menunjukkan keinginan negeri ini untuk menjadi pelopor perlindungan lingkungan hidup.
Dan poin terakhir dan menurutnya paling penting dalam pidato tersebut adalah human solidarity, persahabatan antara manusia.
"Saya senang bahwa Ibu Megawati akhirnya tahu bahwa ada tiga isu utama yang harus dirawat oleh dunia generasi baru, yaitu menghasilkan keadaan dunia yang tanpa kekerasan," puji Rocky Gerung.
PDI Perjuangan mengungkapkan akan membuat kebijakan untuk menyelamatkan Bumi dari kerusakan lingkungan. Langkah itu sebagai respons bencana hidrometeorologis di Sumatra Utara akhir tahun lalu.
Mega Soroti Kerusakan Ekologis
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mengungkapkan kebijakan itu selaras dengan arahan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri yang menyoroti kerusakan ekologis.
"PDI Perjuangan mengemban suatu tanggung jawab bersama seluruh rakyat Indonesia, termasuk para generasi muda untuk bersama-sama agar bencana yang terjadi di Sumatra betul-betul menyadarkan kita semua tentang pentingnya merawat pertiwi," kata Hasto di Beach City International Stadium, Jakarta, Sabtu (10/1).
"Karena itu lah melalui Rakernas pertama ini PDI Perjuangan juga akan merumuskan kebijakan tentang bagaimana kita menyelamatkan Bumi," tambahnya.
Mengutip pidato Megawati, Hasto mengungkapkan yang paling merasakan kecemasan terhadap bencana ekologis adalah generasi muda. Mereka disebut hidup dalam ketidakpastian dan memandang masa depan dengan kegelisahan. n jk/erc/cr4/rmc
Editor : Moch Ilham